ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Rumah sakit



Rama lalu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Vallen, namun baru beberapa langkah berjalan, Rama merasa kepalanya berputar dan pandangannya berkabut. Detik berikutnya Rama jatuh tak sadarkan diri.


"Rama!" Vallen berteriak histeris, wanita hamil itu berlari menghampiri Rama yang sudah tergeletak di atas tanah. Vallen mengangkat kepala Rama dan menaruhnya di pangkuannya. Vallen menepuk wajah Rama dengan pelan. Vallen begitu panik melihat wajah Rama yang begitu pucat.


"Rama, bangun!" teriak Vallen, tak terasa buliran bening mulai menetes di wajahnya.


Felisya berlari keluar setelah mendengar teriakan Vallen, wanita itu tak kalah terkejut melihat Rama tak sadarkan diri. "Rama," pekik Felisya tertahan.


Vallen menoleh ke arah Felisya dengan mata berair. "Tolong panggilkan ambulans kak," ucap Vallen sambil terisak.


"Ya. Kau tenanglah!" Felisya lalu menghubungi ambulans. Tak lama kemudian ambulan datang, petugas paramedis segera membawa Rama di rumah sakit.


Rama sudah berada di ruang pemeriksaan, sementara Vallen dan Felisya menunggu dengan cemas. Vallen berjalan mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan, dia sangat cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Rama.


Setengah jam kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, Vallen segera menghampiri dokter dengan wajah khawatir. "Bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Vallen, tanpa sadar dia masih mengakui jika Rama adalah suaminya.


"Pasien menderita tukak lambung (luka pada lambung) yang cukup parah. Pasien juga mengalami dehidrasi dan kelelahan. Gula darah pasien juga rendah sehingga pasien pingsan," jelas dokter secara rinci. "Sebentar lagi pasien akan kami pindahkan ke kamar perawatan!"


"Terima kasih banyak dok!"


Tak lama kemudian, Rama sudah di pindahkan ke kamar perawatan. Sudah hampir satu jam dan Rama belum juga sadarkan diri. Vallen duduk di samping tempat tidur Rama dan menatap wajah Rama dengab seksama. Vallen baru menyadari jika Rama terlihat kurus dan tidak terawat.


"Apa yang kau lakukan selama ini Ram. Kenapa kau sampai sakit seperti ini?" tanya Vallen dengan perasaan bersalah.


"Dari yang kakak tau, dia mencarimu seperti orang gila Vall. Dia pasti sangat menyesal karena kehilanganmu," sahut Felisya yang duduk tak jauh dari Vallen.


"Dari mana kakak tau?" tanya Vallen tanpa menoleh sedikitpun.


Vallen menangis mendengar cerita Felisya, dia tidak menyangka jika kepergiannya juga menyakiti Rama.


"Pikirkan baik-baik Vall. Bayimu membutuhkan kalian berdua!"


Vallen terdiam dan merenungi ucapan Felisya. Namun dia juga takut jika kehadirannya hanya akan menyusahkan hidup Rama.


Tengah malam Rama mulai membuka matanya. Pria itu bangun karena merasa haus. Pergerakan Rama membangunkan Vallen dari tidurnya. Wanita itu merasa lega melihat Rama akhirnya sadar.


"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan perasaan lega.


"Aku haus Vall," ujar Rama dengan suara serak.


"Tunggu sebentar!" Vallen lalu mengambilkan air dan membantu Rama minum.


"Terima kasih Vall," ucap Rama dengan pelan.


"Hem. Istirahatlah lagi, kata dokter kau kelelahan. Lambungmu luka dan kau dehidrasi! Apa yang kau lakukan selama ini, kenapa kau sampai sakit seperti ini?" cecar Vallen dengan wajah pias.


"Ini hukuman untukku karena sudah menyakitimu dan bayi kita," jawab Rama dengan mata berair.


"Jangan berkata seperti itu Ram!"


Rama mencoba menahan air matanya, namun sayangnya tak berhasil. Buliran demi buliran menetes deras dari pelupuk matanya. "Aku tersiksa Vall, aku marah pada diriku sendiri. Aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa menjaga ucapanku. Aku menyesal karena tidak menyadarinya sejak awal Vall. Aku mencintaimu Vallencia Brown!"


BERSAMBUNG...