ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
EXTRA PART



Dua tahun kemudian...


Vallen berhasil menyelesaikan pendidikannya, selama setahun terakhir dia juga bekerja di sebuah rumah mode ternama dan kemampuan mendesainnya semakin berkembang. Dua tahun hidup di negara orang membuat Vallen dan Rama bekerja sama mengatur rumah tangga mereka. Mereka kompak mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama dan selama dua tahun terkahir hubungan keduanya semakin harmonis.


Setelah mendiskusikannya, Rama dan Vallen memutuskan kembali ke Indonesia. Rencananya Vallen akan membuka butik dan membuat merk sendiri. Seperti janjinya, Rama selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan Vallen.


Kepulangan Rama, Vallen dan putri mereka di sambut hangat oleh keluarga besarnya. Indy tak henti-hentinya memeluk dan mencium Zilla yang kini berusia dua tahun.


"Oma sangat merindukanmu," ucap Indy dengan wajah bahagia. Karena selama Rama pindah ke luar negeri mereka hany berkomunikasi lewat telefon.


"iLa juga lindu oma," jawab Zilla dengan suara cadal.


"Bagaimana dengan aunty, apa Zilla rindu aunty?" sahut Zea dengan gemas, sejak lama dia mendambakan anak perempuan.


"Cedikit," jawab Zilla sambil tersenyum.


Semua orang tertawa karena Zilla berhasil menggoda Zea. Setelah sekian lama akhirnya keluarga mereka kembali berkumpul bersama-sama.


Malam harinya, Rama dan keluarga besarnya mengadakan makan malam bersama. Sudah lama mereka tidak berkumpul bersama sehingga mereka ingin menebus waktu selama mereka berpisah.


"Jadi Rama akan kembali bekerja di rumah sakit kan?" tanya Sam setelah mereka selesai makan.


"Aku mau istirahat sebentar, aku mau membantu Vallen menyiapkan butiknya!" jawab Rama seraya mengusap kepala sang istri.


"Aku juga akan membantu!" sahut Zea antusias.


"Tidak Ze, kata dokter kau tidak boleh kecapean!" larang Sam dengan tegas. Hal tersebut tentu saja membuat anggota keluarga yang lain penuh tanya.


"Ck, aku hanya membantu mencarikan tempat yang stategis saja. Aku tidak akan kelelahan!"


"Kenapa Zea tidak boleh kelelahan?" tanya Vallen dengan tatapan curiga, dia yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan. "Jangan bilang kalau...."


"Aku hamil," aku Zea sebelum Vallen menebaknya. Sebenarnya malam ini dia berencana memberi tahu kabar bahagia tersebut kepada anggota keluarganya.


"Sungguh?" ujar Vallen tak percaya.


"Kau tidak bohong kan Ze?" sela Indy tak percaya.


"Aku serius. Usia kandunganku sudah masuk bulan ke tiga!"


"Syukurlah. mama sangat senang mendengarnya nak!"


"Selamat Ze, aku turut senang!"


Kehamilan Zea tentu saja menjadi kabar yang membahagiakan. Mereka juga tidak perlu mencemaskan Zea karena Vallen juga memiliki golongan darah yang sama dengan Zea.


Seusai makan malam, Rama dan Vallen kembali ke kamarnya. Zilla juga sudah tidur sehingga mereka bisa menghabiskan waktu berdua.


"Ram, bagaimana kalau kita melakukan foto pernikahan? Aku sudah membuat gaun pengantin dan jas untukmu? Kau mau kan?" tanya Vallen dengan mata berbinar, sudah lama dia ingin menyampaikan keinginannya karena mereka tidak memiliki foto pernikahan.


"Sayang, aku malah ingin membuat pesta pernikahan untuk kita. Kau tidak keberatan kan? Aku menyesal karena dulu menikahimu secara diam-diam. Aku ingi mengulang momen saat kita menikah dulu!"


Vallen tersenyum dan mengangguk. "Baik Ram, ayo adakan pesta pernikahan!"


Beberapa hari kemudian, Rama dan Vallen menggelar pesta pernikahan yang tertunda hampir 3 tahun lamanya. Keduanya tampak sangat serasi. Siapa yang mengira jika pasangan pengantin tersebut sudah di anugerahi seorang putri yang sangat cantik.


Pesta pernikahan tersebut terbilang mewah dan di hadiri oleh pemilik saham rumah sakit, rekan bisnis Sam dan beberapa dokter serta staff rumah sakit. Ucapan selamat dan doa menyertai pesta pernikahan.


Dan satu hal yang manarik perhatian adalah gaun yang di kenakan oleh Vallen. Banyak tamu yang bertanya-tanya dimana Vallen membeli gaun seindah itu. Dan dengan bangganya Rama mengatakan jika gaun tersebut adalahh rancangan Vallen.


Setelah menggelar pesta pernikahan, mereka lalu di sibukan dengan pembukaan butik milik Vallen. Rama begitu mendukung Vallen, pria itu begitu bahagia melihat istrinya bahagia. Rama sudah berjanji, dia akan menebus semua kesalahannya di masa lalu dan akan selalu membahagiakan Vallen.


"Terima kasih Ram, akhirnya aku bisa meraih mimpiku," ucap Vallen seraya memeluk suaminya.


"Selamat sayang. Aku sangat bangga padamu!" jawab Rama, dia mengecup kepala istrinya penuh kasih sayang.


Vallen lalu melepaskan pelukannya. Wanita itu lalu menatap suaminya. "Bagaimana denganmu? Apa kau tidak ingin mengejar mimpimu lagi. Aku tidak keberatan jika kau mau melanjutkan pendidikanmu. Kau bilang kau ingin menjadi seorang profesor!"


Rama membelai wajah Vallen dengan lembut. "Itu dulu, sekarang tidak lagi. Mimpiku sekarang adalah membahagiakanmu dan putri kita. Aku tidak mau berpisah dengan kalian. Aku sudah bangga dengan profesiku sekarang!"


"Tapi Ram, aku tidak mau menghalangi mimpimu!"


"Tidak sayang. Ini keputusanku. Aku benar-benar sudah sangat puas sekarang. Memilikimu dan Zilla adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untukku. Aku tidak menginginkan apapun lagi!"


Vallen begitu terharu, dia kembali memeluk suaminya dengan erat. "Terima kasih sayang. Aku mencintaimu!"


"Aku juga sangat, sangat mencintaimu Vall. Jangan pernah tinggalkan aku sampai kapanpun!"


"Ya, aku berjanji Ram. Aku akan selalu bersamamu!"