
"Dia mantan sahabatku. Dia yang menjebak kita sehingga kita bercintaaaa malam itu!" ungkap Vallen seraya menahan malu karena harus kembali mengungkit masa lalunya bersama Rama.
"Bagaimana bisa?" tanya Rama penasaran. Malam itu dia juga tak terlalu ingat bagaimana bisa berakhir di kamar hotel bersama Vallen.
"Aku tidak ingat apa yang terjadi. Malam itu aku hadir di pesta ulang tahunnya dan mabuk dan berakhir bersamamu di hotel!"
"Lalu bagaimana kau tau dia menjebakmu?"
"Aku menemuinya, dia bilang dia melakukannya dengan sengaja. Dia yang membawa kita ke hotel!"
Rama menggenggam tangan Vallen yang mengepal, dia tau jika Vallen sedang menahan amarahnya. "Jangan bahas ini lagi. Bukankah kita sudah sepakat untuk memulai hubungan yang baru. Anggap saja, inilah cara Tuhan mempertemukan kita!" ucap Rama dengan bijak, dia juga tidak bisa menyalahkan Vallen karena malam itu dia juga mabuk.
"Maaf Ram," ucap Vallen penuh penyesalan. Dia sangat menyesal karena menyimpan sebuah kebohongan dan tidak berani berkata jujur pada Rama. Vallen takut jika dia berkata jujur soal taruhan, Rama akan marah dan meninggalkannya. Saat ini Vallen hanya ingin bersama Rama.
"Kau tak perlu minta maaf, kita sama-sama salah dan tugas kita sekarang adalah memperbaiki kesalahan kita!"
"Terima kasih Ram!"
Keduanya lalu memutuskan pulang, di jalan pulang Rama mampir ke toko kue karena dia tau jika Vallen pasti lapar. Rama membeli beberapa macam roti agar Vallen bisa memilihnya. Vallen terharu dengan perhatian yang Rama berikan, jika boleh serakah dia ingin selalu mendapatkan perhatian dari Rama.
Vallen menikmati rotinya, namun dia teringat jika Rama juga belum makan. "Apa kau mau Ram?" Vallen menawarkan rotinya.
"Hem, suapi aku," jawab Rama seraya melirik Vallen sekilas.
Vallen akan membuka bungkus roti yang baru, namun Rama malah menahannya. "Yang itu saja," ujarnya sambil menunjuk bekas roti Vallen.
"Tapi itu bekasku Ram!"
"Tidak masalah, aku suka roti yang itu!"
Vallen hanya bisa tersenyum, dengan hati-hati dia menyuapi Rama dengan roti, keduanya lalu menikmati perjalanan pulang yang cukup romantis.
Setelah sampai rumah Vallen langsung membersihkan diri, setelah merasa lebih segar dia berbaring di sofa sambil berselancar di dunia maya sambil menunggu Rama yang sedang mandi.
"Kenapa kau tidur di sofa?" tanya Rama setelah pria itu keluar dari kamar mandi.
Vallen terperanjat saat tiba-tiba Rama memijat kakinya, dia hendak bangun namun Rama menahannya. "Tiduran saja, aku akan memijat kakimu sebentar!"
"Tidak usah Ram, kau juga lelah seharian berdiri di ruang operasi. Lebih baik kau istirahat!" tolak Vallen, meski senang dengan perlakuan Rama namun Vallen tidak boleh egois dan mementingkan dirinya sendiri.
"Aku tidak suka penolakan Vall!" ujar Rama penuh penekanan.
"Aku tidak mau kau kelelahan Ram!"
"Izinkan aku menjadi suami yang baik!"
Vallen akhirnya pasrah dan membiarkan Rama memijat kakinya. Diam-diam Vallen menatap Rama yang terlihat sangat tampan dan Vallen baru menyadarinya beberapa saat yang lalu. Selama ini Vallen hanya menganggap Rama pria dingin dan tidak beperasaan sehingga dia tidak menyadari wajah tampan suaminya.
"Apa aku tampan?" tanya Rama tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Mm, sedikit," jawab Vallen malu karena tertangkap basah sedang menatap Rama.
Rama berhenti memijat kaki Vallen, pria itu lalu menyusul naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Vallen. "Benarkah hanya sedikit? Padahal di rumah sakit aku terkenal tampan," ujar Rama penuh percaya diri.
"Apa gunanya tampan kalau wajahmu selalu dingin," sindir Vallen tanpa ragu.
Rama menghadap Vallen, dia menahan kepalanya dengan tangan dan menatap Vallen dengan intens. "Aku tidak suka tersenyum. Kau tau kan Zea lahir dengan golongan darah langka. Mama dan ayah begitu overprotektif pada Zea, mereka selalu membatasi aktivitas Zea sejak kecil. Zea kecil tidak pernah tersenyum, dan aku berjanji tidak akan tersenyum sampai Zea bisa tersenyum. Dan, janji itu malah menjadi kebiasaan," ungkap Rama dengan wajah datarnya.
Vallen tersentuh mendengar cerita Rama, pria itu merelakan senyumnya demi menghargai adik kembarnya yang jarang tersenyum. Vallen ikut memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan dan netra mereka saling bertemu. Vallen membelai wajah Ram dengan sangat lembut. "Kau sudah bekerja keras Ram. Zea sudah bahagia dan bisa tersenyum sekarang, bukankah kau harus menepati janjimu, kau harus tersenyum mulai sekarang. Kau terlihat sangat tampan saat tersenyum!"
Rama memegang tangan Vallen yang berada di wajahnya, dia merasa sedikit lega setelah menceritakan kisah di balik wajah datarnya. "Ya, aku akan terseyum mulai sekarang, tapi hanya untukmu dan bayi kita!"
"Berjanjilah Ram!"
"Ya, aku janji!"
BERSAMBUNG...