ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Hubungan Rumit



Hujan mengguyur begitu derasnya, setelah hampir satu jam berkeliling akhirnya Rama menemukan alamat rumah Vallen. Rama mendesah kesal, karena wanita itu dia harus mendengar cibiran dari Sam dan kembali berdebat dengan ibunya.


Beberapa kali Rama mengetuk pintu namun tidak ada yang merespon. Saat Rama memutar gagang pintu, dia terkejut karena rumah tersebut tidak di kunci. Terpaksa Rama menerobos masuk dan mencari Vallen.


"Hallo," ucap Rama, namun suaranya tak terdengar jelas karena hujan begitu deras di luar sana. Rama membuka satu persatu ruangan, di ruangan kedua dia melihat Vallen meringkuk di atas tempat tidur. Rama masuk ke dalam kamar tersebut, pria itu menghampiri Vallen yang masih terlelap.


"Ck, semua orang mencemaskanmu dan kau malah tidur di sini," gumam Rama seraya menatap wajah Vallen yang terlihat begitu damai. Untuk sesaat Rama merasa simpati pada gadis yang kini resmi menjadi istrinya, namun kebenciannya lebih besar dari nuraninya, Rama selalu menganggap jika Vallen adalah kerikil kecil yang menghalangi mimpinya.


"Bagun," ucap Rama dengan kasar. "Bangun," Rama berteriak membuat Vallen terperanjat dan bangun. Vallen menoleh dan terkejut melihat Rama sedang menatapnya dengan kesal.


"Rama," pekik Vallen tertahan. "Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyanya kemudian.


"Apa kau sengaja melakukan ini? Kau senang kan kalau ibu memarahiku?" oceh Rama.


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura bodoh!"


Vallen benar-benar tak mengerti dengan maksud Rama, gadis itu menoleh ke arah jendela saat mendengar suara gemericik air hujan. Vallen kembali terkejut saat melihat hari sudah malam, pantas saja Rama datang dan marah-marah, rupanya dia ketiduran dan lupa pulang ke rumah orang tua Rama.


"Maaf, aku ketiduran," sesal Vallen sambil menunduk.


"Cepat bangun, kita pulang sekarang!" ajak Rama ketus, pria itu meraih koper Vallen dan membawanya keluar kamar.


Vallen segera merapikan baju dan rambutnya, gadis itu lalu menyusul Rama keluar dari kamar. Karena terlalu buru-buru, Vallen tak menyadari jika Rama berhenti sehingga Vallen menabrak punggung Rama dengan keras. Gadis itu memekik kesakitan seraya memegang keningnya.


Rama berbalik dan membuang nafas kasar. "Apa kau selalu ceroboh begini?" tanyanya seraya menahan marah, berdekatan dengan Vallen selalu saja membuat dia naik darah.


"Maaf aku tidak sengaja!"


Rama tak mengindahkan ucapan Vallen, pria itu kembali fokus pada sebuah foto keluarga yang terpasang di dinding ruang tamu.


'Victor," ucap Rama setelah mengenali seorang pria di dalam foto tersebut.


Vallen terkejut karena Rama menyebut nama kakaknya. "Kau mengenal kakakku?" tanya Vallen seraya menatap Rama penuh tanya.


"Kakak?" ulang Rama.


"Bukan urusanmu! Ayo cepat!"


Rama keluar dari rumah dan memasukan koper Vallen ke dalam mobil. Setelah mengunci rumah, Vallen segera menyusul Rama masuk ke dalam mobil. Pria itu lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Vallen. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Vallen bertanya-tanya mengapa Rama bisa mengenal kakaknya. Hal yang sama juga tengah mengganggu pikiran Rama, bagaimana dunia bisa sekecil ini, kenapa dia harus terlibat dengan adik Victor.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah, Indy menyambut kepulangan Vallen. Wanita paruh baya itu begitu cemas membuat Vallen merasa bersalah.


"Maaf ma, Vallen ketiduran di rumah. Maaf membuat mama dan semua orang khawatir," ucap Vallen penuh sesal, meski Rama tak menyukai kehadirannya, namun Vallen bersyukur karena anggota keluarga yang lain menerimanya dengan baik.


"Mama sangat cemas, lain kali jangan pergi sendiri lagi ya," jawab Indy seraya menggenggam tangan Vallen. Meski kehadiran Vallen di tengah keluarganya karena sebuah insiden, namun Indy menerima Vallen dengan baik. Apalagi saat Indy tau jika menantunya hidup sebatang kara. Sebagai seorang ibu, Indy ingin Vallen mendapat kehangatan dari keluarga barunya. Apalagi kini Vallen tengah mengandung dan membutuhkan support dari orang terdekat.


"Baik ma, Vallen tidak akan mengulanginya lagi!"


"Kau pasti belum makan kan? Mama akan memanaskan makan malam untukmu ya!"


Vallen menahan tangan Indy. "Tidak perlu ma, Vallen bisa melakukannya sendiri!"


"Baiklah kalau begitu. Ram, temani istrimu makan!"


Vallen berada di dapur, karena sangat lapar dia sampai tak memanasi sayur yang sudah dingin. Beberapa tahun hidup sendiri di luar negeri membuat Vallen tidak pernah memilih soal makanan. Vallen makan dengan sangat lahap, Rama yang melihat hal itu merasa heran, wanita sekurus Vallen kenapa memiliki nafsu makan yang sangat besar.


Setelah makan, Vallen dan Rama kembali ke kamar. Vallen mengganti bajunya dan merebahkan diri di sofa. Meski sudah tidur seharian, dia masih merasa lelah dan ngantuk, mungkin karena efek hamil muda.


Melihat Vallen meringkuk di sofa, Rama mengambil selimut dan bantal dan meletakannya di kaki Vallen. Meski selalu bersikap dingin, namun Rama tetaplah manusia yang memiliki perasaan.


"Terima kasih," ucap Vallen meski tak mendapatkan jawaban dari Rama. Vallen tak ambil pusing, dia segera menata tempat tidurnya dan membungkus tubuh kurusnya dengan selimut tebal.


Sementara di atas ranjang, diam-diam Rama memperhatikan gerak-gerik Vallen. Pria itu tak habis pikir, kenapa dia bisa bertemu dengan adik Victor.


Victor dan keluarga Rama memiliki kisah yang cukup Rumit. Semua di awali dengan Zea, wanita itu terlahir dan memiliki golongan darah yang sangat langka. Di saat usianya 20 tahun, Zea menikah dengan Sam yang usianya 13 tahun lebih tua dari Zea. Sam terpaksa menikahi Zea karena amanat dari momy nya sebelum meninggal. Hubungan pernikahan mereka semakin rumit saat Sam rupanya memiliki hubungan dengan wanita bernama Felisya. Beberapa bulan hidup bersama, Sam mulai mencintai Zea. Namun hal tersebut membuat Felisya cemburu dan melakukan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Hingga saat Zea hamil, Felisya mendorong Zea dari tangga dan membuat wanita hamil itu mengalami pendarahan hebat. Di saat yang bersamaan, Victor melihat hal tersebut. Sebagai seorang teman, Victor tidak ingin Felisya di penjara. Namun dia tak bisa berbuat apapun. Merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Zea, Victor membantu Zea dengan mendonorkan darahnya karena kebetulan Victor juga memiliki golongan darah yang sama dengan Zea.


Lima tahun kemudian takdir kembali mempertemukan mereka. Setelah keluar dari penjara, Felisya berniat untuk balas dendam. Victor mengetahui rencana Felisya dan mencoba mencegah sahabatnya itu. Sayangnya, Felisya tak mengindahkan nasihat Victor, wanita itu tetap akan membalas dendam. Di saat memiliki kesempatan bagus, Felisya berniat menabrak Sam dan putranya, namun tanpa Felisya sadari, Victor tiba-tiba datang dan menyelamatkan Sam. Alih-alih menabrak Sam, Felisya justru menabrak Victor hingga tewas. Dan sampai detik ini Vallen tidak tau jika Felisya lah yang sudah menyebabkan kakaknya meninggal.


BERSAMBUNG...