ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Rama demam



Vallen membuka matanya dan mulai meregangkan otot tubuhnya, namun dia begitu terkejut saat menyadari jika dia berada di atas ranjang. Vallen segera bangun, seingatnya tadi dia sedang makan permen kapas di dalam mobil.


Vallen menggaruk kepalanya dengan frustrasi, bisa-bisanya dia tertidur di dalam mobil dan tidak menyadari saat Rama memindahkankan ke kamar. "Tunggu, tunggu, jangan bilang pria es itu menggendongku ke kamar?" tanya Vallen bermolog, dia kembali merutuki dirinya sendiri karena tertidur di dalam mobil.


Vallen memilih mandi, mungkin setelah ini dia akan merasa lebih segar. Setelah mandi Vallen turun dan mendengar suara tawa Indy dari ruang keluarga, Vallen lalu menghampiri Indy, rupanya di sana ada Zea dan juga Rama. Melihat kedatangan menantunya, Indy segera menyuruh Vallen duduk di sampingnya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia.


"Ada apa mah?" tanya Vallen penasaran.


Indy lalu menunjukan foto hasil USG milik Vallen. "Mama sangat senang, mama akan memiliki cucu perempuan!" ucap Indy seraya mengusap perut Vallen yang mulai membuncit.


"Ah, aku sangat iri. Aku juga ingin memiliki anak perempuan," sahut Zea dengan wajah sendu.


"Kenapa tidak hamil lagi Ze, Nick dan Nicho sudah besar," jawab Vallen.


"Hm, kau tau sendiri Vall, aku memiliki golongan darah langka. Sam takut aku kehilangan banyak darah saat melahirkan nanti, sementara mencari donor yang cocok denganku sangat langka," jelas Zea dengan pasrah, meski demikian dia tetap bersyukur karena memiliki si kembar.


"Kalau begitu kau tidak perlu khawatir, aku memiliki golongan darah yang sama seperti kak Victor," ucap Vallen sambel tersenyum.


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar pengakuan Vallen. Mereka tak pernah menyangka jika mulai banyak orang yang memiliki golongan darah Rh-Null.


"Kau serius?" tanya Rama dengan wajah menegang. Dia merasa lega dan cemas secara bersamaan. Dia lega karena menemukan orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Zea, namun di sisi lain dia merasa cemas atas hal yang belum dapat dia pastikan.


"Ya, aku serius. Aku dan kak Victor memiliki darah yang sama!" jawab Vallen dengan pasti.


"Ah, aku lega. Setidaknya kita bisa saling membantu Vall," ujar Zea dengan lega.


Vallen mengangguk sambil tersenyum. jangankan darah, untuk membalas kebaikan Zea dan Indy, Vallen bahkan rela memberikan hidupnya. Meski dia tak bisa tinggal bersama mereka selamanya, namun Vallen bersedia membantu jika suatu saat Zea membutuhkannya.


Namun saat dia memikirkan akan meninggakan mereka setelah bayinya lahir, tiba-tiba Vallen merasa sedih. Dia mulai memiliki ikatan dengan Indy dan Zea, dia menemukan kehangatan keluarga di tengah-tengah mereka. Namun Vallen harus menahan perasaannya, dia tidak boleh larut karena dia tau akhir dari pernikahannya dan Rama.


Vallen kembali ke kamarnya karena Indy menyuruhnya istirahat. Baru saja dia akan tidur, Rama tiba-tiba masuk ke kamar dan mengganti pakaian. Vallen hanya diam dan mengamati Rama, sepertinya pria itu sedang terburu-buru.


"Aku ada operasi darurat, kau bisa memakai ranjangku!" ucap Rama sambil berjalan keluar kamar.


"Eh," Vallen terdiam sejenak, dia berpikir keras kenapa Rama tiba-tiba mengizinkannya tidur di ranjang. "Hati-hati!" sambungnya setelah Rama keluar, mungkin saja Rama tak mendengar ucapannya.


Vallen bersorak ria, setelah sekian lama akhirnya dia bisa tidur di ranjang yang luas dan empuk. Selama lima bulan dia bertahan di sofa sempit. Vallen berharap Rama sering melakukan operasi darurat agar dia bisa meminjam ranjang milik pria es itu.


"Ah, nyamannya!" Vallen menggerakan kakinya ke kiri dan ke kanan, rasanya sangat nyaman berada di atas kasur. Vallen benar-benar menikmatinya sampai dia tidak sadar kembali tidur di atas ranjang Rama.


Tengah malam Vallen terbangun karena haus, saat dia bangun dia mencari Rama dan ternyata pria itu belum pulang. Vallen akan kembali tidur, tapi tiba-tiba Rama masuk ke dalam kamar.


"Kau baru pulang?" tanya Vallen sekedar untuk basa-basi, meski sudah lima bulan mereka hidup bersama namun mereka masing mempertahankan tembok tinggi di hati mereka.


"Hem, kau belum tidur?" jawab Rama dengan suara parau.


"Apa kau flu?" Vallen memberanikan diri untuk mendekat, Vallen terkejut karena wajah Rama begitu merah, sepetinya dia demam. 'Wajahmu merah sekali? Kau pasti demam?""


"Astaga, panasmu tinggi sekali!" pekik Vallen setelah mendapati suhu tubuh Rama mencapai 39 derajat celsius. "Apa kau punya obat penurun demam?" tanya Vallen dengan wajah cemas, untuk pertama kalinya Rama melihat Vallen cemas.


"Ada di kotak obat!"


Vallen segera mengambil obat yang Rama maksud, dia juga mengambil air untuk Rama. Vallen memberikan air dan obatnya kepada Rama.


"Terima kasih," ucap Rama, dia lalu memakan obatnya. Rama lalu merebahkan tubuhnya di sofa yang biasa di pakai Vallen untuk tidur.


"Ram, sebaiknya kau tidur di ranjang," ucap Vallen.


Rama kembali bangun, dia berjalan menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Rama merasa seluruh tulangnya lepas dan tenaganya terkuras habis.


Karena sudah tidur seharian, Vallen tidak bisa memejamkan matanya lagi. Apalagi suara rintihan Rama sungguh mengganggunya. Vallen memilih bangun dan memeriksa kondisi Rama, pria itu terlelap namun mulutnya terus merintih.


Vallen kembali memeriksa suhu tubuh Rama, meski sudah satu jam setelah minum obat namun suhu tubuh Rama belum juga turun.


"Karena kau mengizinkanmu meminjam kasurmu hari ini maka aku akan merawatmu. Aku tidak suka berhutang budi," gumam Vallen seraya menatap wajah Rama, wanita hamil itu lalu turun untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengeimpres Rama.


Dengan telaten Vallen merawat Rama sampai wanita itu ketiduran. Saat Rama bangun dia terkejut melihat Vallen tidur sambil duduk di sebelah ranjangnya. Rama meraih handuk kecil di keningnya dan menaruhnya di meja, pria itu lalu bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Dasar tukang tidur, di kursi pun dia masih bisa sepulas itu," gumam Rama sambil menggeleng-gelengakan kepalanya. Di lalu mendekatkan kepalahya dan mengamati wajah Vallen dari dekat.


Wajah Vallen begitu cantik meski dia tidak memakai make up. Tiba-tiba jantung Rama kembali berdebar. Namun sebelum Rama menjauhkan kepalanya, Vallen lebih dulu membuka matanya. Untuk sesaat netra mereka saling mengunci, mereka hanyut dalam tatapan masing-masing.


"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Vallen gugup, saking gugupnya jantungnya terasa akan melompat keluar.


"Tidak ada!" Rama memalingkan wajahnya dengan cepat.


Vallen hanya berdecak, dia lalu meraih alat ukur suhu dan kembali memeriksa suhu Rama. "Syukurlah demammu sudah turun!" ucap Vallen lega.


"Terima kasih!" ucap Rama malu-malu.


"Untuk?"


"Karena kau merawatku semalam!"


Vallen menarik sudut bibirnya, tak menyangka seorang Rama akan berterima kasih padanya. "Dokter macam apa yang tidaj bisa menjaga kesehatannya sendiri," ucap Vallen seolah telah menyindir Rama yang tidak becus merawat dirinya sendiri.


"Dokter juga manusia!"


"Ck, aku pikir kau hanya monster es," ucap Vallen dalam hati.


BERSAMBUNG...