ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Belanja kain



Seminggu sudah sejak kepergian Vallen dari rumah, selama itu pula Rama tak berhenti mencari keberadaan istrinya, namun hasilnya masih nihil dan membuat Rama merasa putus asa. Kepergian Vallen membuat hidupnya kembali berantakan, pekerjaannya banyak yang terbengkelai dan dia sering melewatkan makan karena tak ada lagi yang mengingatkannya.


"Apa belum ada petunjuk?" tanya Sam yang kebetulan melihat Rama sedang melamun di depan rumah mereka.


Rama menggeleng, pria itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Bagaimana dengan Felisya?" tanya Sam lagi.


"Aku sudah menemuinya. Dia bilang dia tidak tau!"


"Dan kau percaya begitu saja?"


Rama menoleh dan menatap Sam. "Maksudmu Felisya berbohong?"


"Vallen tidak memiliki siapapun di luar sana. Dalam kondisi hamil besar dia tidak mungkin bisa bersembunyi tanpa bantuan orang lain!"


"Kau benar! Aku harus menemui Felisya lagi!"


"Aku ikut!"


Kedua pria itu lalu kembali mendatangai rumah Felisya. Wanita itu begitu terkejut melihat Sam dan Rama datang ke rumahnya.


"Ada apa malam-malam begini?" tanya Felisya basa-basi, padahal dia sudah bisa menebak niat kedatangan kedua pria itu.


"Fel, apa kau yakin tidak tau dimana Vallen?" kali ini Sam yang bertanya kepada mantan kekasihnya.


"Aku tidak tau Sam," jawab Felisya sedikit gugup.


"Vallen sedang hamil besar dan dia memiliki golongan darah yang langka sama seperti Victor dan Zea. Resikonya sangat besar jika Vallen melahirkan tanpa di dampingi oleh keluarganya. Aku harap kau bisa memberi tau kami seandainya Vallen mengabarimu!" jelas Sam panjang lebar.


"Tentu saja!"


Setelah Rama dan Sam pergi, Felisya langsung menghubungi Vallen. Namun telefon Vallen tidak aktiv dan membuat Felisya panik. Dia benar-benar tidak tau jika Vallen memiliki golongan darah yang langka juga. Dia sangat cemas sekarang, tapi dia tidak mungkin mengkhianati Vallen dan memberi tau Rama dimana keberadaan Vallen.


Sementara di rumahnya, Vallen sedang sibuk mendesain baju untuk butiknya nanti. Dia tidak boleh berleha-leha karena dia tidak memiliki siapapun untuk di andalkan.


Namun karena dalam kondisi hamil, Vallen tidak bisa memaksakan dirinya terlalu lelah, dia memutuskan untuk tidur dan melanjutkannya besok. Hal yang paling di benci Vallen adalah ketika dia akan tidur, karena dia selalu teringat oleh Rama dan merindukan pelukan pria yang sama sekali tak menginginkannya.


"Tidurlah Vall, lupakan dia!"


Keesokan harinya, Vallen berbelanja beberapa kain di pusat kota. Rencananya dia akan mulai membuat baju dari rancangannya sendiri. Saat sedang memilih kain, tak sengaja Vallen bertemu dengan Marco yang juga sedang berada di toko kain yang sama dengannya.


"Marco."


Ucap keduanya secara bersamaan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Marco dengan wajah yang terlihat begitu senang.


"Aku sedang mencari kain, bagaimana denganmu?" jawab Vallen apa adanya.


"Aku juga sedang mencari kain Vall!"


"Kebetulan sekali ya! Kau beli kain buat apa?" tiba-tiba Vallen penasaran.


"Ah, kebetulan aku bekerja di salah satu butik di sini!"


"Kau seorang desainer?" tebak Vallen dengan girang.


Marco mengangguk. "Aku masih pemula Vall!"


"Wah, kau keren sekali. Kebetulan aku berencana membuak butik kecil-kecilan, apa kau tidak keberatan membantuku?"


"Tentu saja, hubungi aku jika kau perlu bantuan!"


Setelah bertemu Marco, Vallen semakin bersemangat untuk membuka butik. Setidaknya dia memiliki kenalan yang berkecimpung di dunia fashion yang bisa dia mintai bantuan.


Selesai memilih kain, Marco memaksa untuk mengantarkan Vallen kembali ke rumah. Karena Marco terus memaksa, akhirnya Vallen mengizinkan Marco mengantarnya. Setelah sampai, Vallen menawarkan Marco untuk mampir dan Marco menyetujuinya.


Ketika masuk ke dalam rumah Vallen, hal pertama yang mencuri perhatian Marco adalah desain milik Vallen yang berserakan di meja kerja. Marco memeriksa satu persatu desain baju milik Vallen dan pria itu mengangumi setiap detail desain yang Vallen gambar.


"Oh My God, desainmu sangat indah," puji Marco dengan tulus.


"Jangan bercanda Marco, aku masih amatiran!"


"Aku serius. Ini sangat indah. Bagaimana kalau kau bekerja sama denganku. Kau yang mendesain, aku yang akan menyediakan butiknya?"


"Bukankah kau bilang kau bekerja di butik orang?"


"Hm, sebenarnya itu butikku," Marco menjawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bagaimana Vall, kau setuju kan?"


"Aku akan memikirkannya!"


BERSAMBUNG...