ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Batu penghalang



Sampai larut malam Rama belum juga kembali, Vallen begitu gelisah dan khawatir terjadi sesuatu pada Rama karena pria itu pergi dari rumah dalam keadaan marah. Berkali-kali Vallen menghubungi Rama namun ponselnya tidak aktiv.


Vallen menunggu Rama dengan perasaan berkecamuk, sia menyesal karena tak menceritakan secara detail tentang kejadian malam itu. Vallen tidak menyangka jika Kelly benar-benar ingin mengancurkah kebahagiaannya.


"Ram, kau dimana?" tanyanya dalam diam, jika waktu boleh di putar kembali, Vallen akan berkata jujur saat Rama bertanya tentang kejadian malam itu.


Waktu berjalan begitu lambat, Vallen mengarungi separuh malamnya untuk menunggu. Namun hingga dini hari Rama belum juga kembali, bahkan saat matahari telah terbit pun pria itu tak menunjukan batang hidungnya.


Vallen memutuskan untuk menyusul Rama ke rumah sakit, Vallen yakin jika dia bisa menemui Ram di sana . Kedatangan Vallen di sambut ramah oleh beberapa staff rumah sakit yang sudah mengenali Vallen, wanita hamil itupun menyapa mereka dengan sopan.


Namun sayangnya Vallen tidak bisa menemui Rama karena Rama sedang berada di ruang operasi. Awalnya Vallen menunggu, namun setelah beberapa jam di rumah sakit, seorang perawat datang dan mengatakan pada Vallen jika Rama masih memiliki beberap operasi lagi dan menyuruhnya pulang.


Vallen kecewa, dia yakin jika itu hanya alasan Rama agar tidak bertemu dengannya. Sebelum pulang ke rumah, Vallen menyempatkan diri mampir ke makanlm sang kakak. Di saat sedih seperti ini dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara.


"Kak, aku harus bagaimana?" tanya Vallen pada batu nisan berukir nama sang kakak. "Aku memang salah, tapi aku rela jika harus kehilangan Rama kak, karena sepertinya aku mulai mencintainya!"


Vallen mengusap air matanya dengan kasar, tiba-tiba dia teringat dengan Kelly. Ya semua ini berawal dari wanita itu, wanita yang mengaku menjadi sabahatnya justru orang yang telah menghancurkan kehidupannya.


Dengan amarah Vallen mendatangi rumah Kelly. Setelah berdebat dengan penjaga rumah akhirnya Kelly menampakan batang hidungnya, wanita itu tersenyum mengejek saat melihat kedatangan Vallen.


"Oh waow, apa yang membawamu kamari Vall?" tanya Kelly dengan seringai di wajahnya.


"Puas kau Vall. Apa salahku sehingga kau sangat membenciku dan berusaha menghancurkan hidupku?" tanya Vallen dengan tatapan nyalang.


Kelly membalas tatapan Vallen penuh kemarahan dan kebencian. "Karena kau memiliki sesuatu yang tak seharusnya menjadi milikmu. Kau mengambil sesuatu yang harusnya menjadi milikku!"


"Apa yang telah aku ambil darimu Kell? Kau bahkan memiliki segalanya?" tanya Vallen setengah berteriak.


Vallen terdiam sejenak, mencoba mengingat kejadian waktu mereka duduk di bangku SMA. Akhirnya Vallen teringat ap yang di maksud Kelly. "Ck, hanya gara-gara itu Kell kau mengkhianatiku? Asal kau tau, aku tidak pernah berpacaran dengan dia!"


"Aku tidak butuh penjelasanmu. Pergi dari sini, dan selamat menikmati penderitaanmu!"


Vallen benar-benar tidak menyangka jika Kelly melakukan semuanya hanya karena sebuah kesalah pahaman. Entah apa yang membuat Kelly berpikir jika Vallen telah merebut pria yang dia sukai, hanya saja Vallen tidak menyangka jika Kelly memiliki sifat mengerikan yang selama ini tersembunyi.


Hampir dini hari Rama baru kembali ke rumahnya, pria itu pulang dalam kondisi mabuk. Kesadaran hampir hilang saat dia masuk ke dalam kamarnya.


"Ram kau mabuk," pekik Vallen saat mencium aroma alkohol dari tubuh Rama. Vallen berusaha memapah Rama, namun Rama malah mendorong tubuhnya hingga Vallen terpental dan untung saja Vallen bisa menjaga keseimbangannya sehingga dia tidak jatuh.


"Jangan sentuh aku," ucap Rama dengan intonasi tak jelas.


Namun Vallen tidak mengindahkan ucapan Rama, dia berusaha membantu Rama menuju tempat tidur. Namun lagi-lagi Rama menepis tangannya dengan kasar. "Sudah aku bilang jangan sentuh aku, aku tidak sudi tangan kotormu ini menyentuhku!"


"Ram, kau sedang mabuk. Lebih baik kau istirahat!" Vallen masih berusaha bersabar meski ucapan Rama mulai menyakitkan.


Rama menyeringai, pria itu menatap Vallen penuh kemarahan. "Lima ratus juta, semurah itukah harga dirimum? Karena aku sudah menudurimu apa kau juga menginginkan lima ratus juta dariku?" tanya Rama dengan tatapan nyalang, tiba-tiba pria itu mencengkeram wajah Vallen dengan keras. "Gara-gara dirimu hidupku hancur! Hanya demi uang yang tak seberapa kau telah membuat hidupku berantakan. Kau dan bayi itu adalah batu penghalang di dalam hidupku, kalian tiba-tiba datang dan merusak semua rencana yang sudah aku susun sejak lama! Pergi dariku perempuan murahaaan, aku akan memberimu satu milyar asal kau pergi dari kehidupanku!" teriak Rama tak terkendali, alkohol benar-benar membuatnya kehilangan akal sehatnya. Pria itu menjelma menjadi pria kasar dan bermulut kejam.


Mendengar hinaan dari Rama benar-benar membuat hati Vallen hancur. Rama bahkan menyebutnya sebagai perempuan murahan. Vallen tak memiliki alasan lain untuk bertahan, dia tidak bisa menerima penghinaan dari Rama.


"Baiklah jika itu maumu. Aku dan pergi dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi!"


BERSAMBUNG...