
Kebahagiaan Vallen tentu menjadi momok menakutkan bagi Kelly. Hatinya yang sudah di penuhi rasa iri dan dengki membuatnya benci melihat Vallen hidup bahagia. Setelah bertemu dengan Rama, Kelly diam-diam menyelidiki identitas Rama, gadis itu semakin murka saat tau jika Rama seorang dokter dan merupakan putra pemilik rumah sakit terbesar di kota Jakarta. Bukan hanya itu, diam-diam Kelly memantau kehidupan Rama dan Vallen, melihat kedekatan Vallen dan suaminya serta keluarga barunya membuat Kelly kembali memikirkan rencana jahat untuk menghancurkan Vallen.
"Kau tidak berhak bahagia Vall!" geramnya dengan tangan terkepal.
Jadwal operasi Rama semakin padat sehingga dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Untungnya Vallen bisa mengerti dan memaklumi pekerjaan sang suami. Mengingat kesibukan Rama, hari ini Vallen sengaja menyusul Rama dan membawa kotak bekal untuk makan siang bersama suaminya.
Kedatangan Vallen ke rumah sakit masih menjadi tanda tanya besar bagi dokter dan perawat di rumah sakit tempat Rama bekerja, mereka belum bisa memastikan siapa Vallen sebenarnya. Mereka hanya menduga jika Vallen adalah istri Rama dan itupun masih belum meyakinkan karena selama ini mereka tidak pernah mendengar kabar pernikahan Rama.
Seperti biasa Vallen akan menunggu sampai Rama selesai melakukan operasi. Sudah lewat waktu makan siang dan Rama baru keluar dari ruang operasi. Pria itu tersenyum dan segera menghampiri istrinya.
"Kenap tidak bilang kalau mau datang?" tanya Rama seraya menatap istrinya.
"Kejutan," ujar Vallen seraya menunjukan kotak bekal yang dia bawa. "Kau pasti belum makan kan?" tanya Vallen dan Rama hanya mengangguk. Mereka berniat pergi ke ruangan Rama, namun seorang perawat menghampiri Rama dengan nafas memburu.
"Dok, maaf. Ada pasien darurat yang harus di operasi secepatnya!" ucap perawat itu.
Rama melirik Vallen sejenak. "Siapkan ruang operasi!"
Rama meraih tangan Vallen dan menggenggamnya, di tatapnya wajah sang istri dengan perasaan bersalah. "Maaf Vall!"
"It's okay Ram. Pasienmu lebih membutuhkanmu!" jawab Vallen dengan bijak.
"Kita tidak jadi makan siang bersama!" ujar Rama sedih.
"Kalau kau libur nanti aku mengurungmu di rumah!" bisik Vallen dengan suara menggoda.
Rama tersenyum, pria itu mengusap kepala Vallen dengan lembut. "Ayo aku antarkan ke depan!"
Vallen mengangguk, dia membiarkan Rama mengantarnya sampai di lobby. "Sudah sana masuk Ram, taxi ku sebentar lagi datang!"
"Tapi aku cemas!"
"Aku sudah besar. Aku baik-baik saja! Ah ya kotak bekalnya aku bawa pulang saja takutnya basi," ujar Vallen. Wanita itu lalu merogoh tasnya dan mengambil roti kesukaan Rama lalu memberikannya kepada sang suami. "Makan ini sebelum operasi, lumayan untuk mengisi tenagamu!"
"Terima kasih Vall. Kabari aku setelah sampai di rumah ya. Aku masuk dulu!"
Sebelum masuk ke dalamr ruang operasi Rama menyempatkan diri untuk makan roti yang Vallen berikan kepadanya. Rasa manis membuat energi Rama kembali dan siap bergelut di ruang operasi.
"Kau terlihat lebih bersemangat Ram?" tanya Dokter Anestesi yang berada di dalam ruang operasi bersama Rama.
"Tentu saja," jawab Rama penuh semangat.
"Apa karena wanita cantik itu? Dia siapamu Ram?" tanyanya lagi karena sangat penasaran.
"Dia istriku. Kalau kalian melihatnya datang tolong bawa dia ke ruanganku ya!" aku Rama tanpa ragu.
"Istri? Kapan kau menikah?"
"Tujuh bulan yang lalu!"
"Kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau sudah menikah?"
"Kau tidak pernah bertanya!"
Kabar pernikahan Rama mulai tersebar di rumah sakit. Tak sedikit perawat muda yang sedih mendengar kabar jika Rama sudah menikah dan istrinya sedang hamil.
Setelah selesai operasi, Rama tak langsung pulang. Dia mampir ke mall, dia ingin membelikan hadiah untuk Vallen. Saat membeli hadian untuk Indy, dia ingat jika Vallen terus memperhatikan sebuah kalung. Rama yakin Vallen menyukai kalung itu dan Rama akan membelikannya.
Rama tersenyum sambil menatap kalung tersebut, setelah membayarnya Rama segera keluar dari toko perhiasan tersebut.
"Ya!" jawab Rama singkat.
"Kau sedang apa di sini?" tanya gadis itu dengan ramah.
"Belanja!"
"Mana Vallen?" tanya gadis yang tak lain adalah Kelly.
"Di rumah. Saya permisi!" Rama merasa risih dan memilih pergi, namun tanpa rasa malu Kelly menghadang langkah Rama. "Apa lagi?" tanya Rama dengan kesal.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tau apa yang membuat dokter hebat sepertmu mau menimahi Vallen?"
"Bukan urusanmu!" hardik Rama.
"Oh ya. Apa kau tau jika malam itu kau di jebak sehingga kau tidur dengan Vallen?" ujar Kelly dengan senyum meyeringai.
Rama menatap Kelly dengan tajam. "Aku tau!" jawab Rama penuh penekanan.
"Benarkah? Apa kau tau siapa yang melakukannya?"
"Tentu saja. Kau pelakunya!"
Kelly tersenyum mendengar tudingan Rama. "Apa Vallen yang mengatakannya, jika aku yang menjebak kalian? Hahah, dia pintar sekali. Jelas-jelas dia sendiri yang melakukannya!"
"Terserah apa katamu. Aku tidak percaya padamu!" tegas Rama.
"Oh ya, bagaimana dengan ini!" Kelly meraih ponselnya, wanita itu lalu memutar rekaman suara yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Loe butuh berapa Vall?" terdengar suara Kelly di rekaman tersebut.
"Sekitar lima ratus juta Kell, itu cuma buat uang kuliah aja, buat makan gue bisa cari kerjaan sampingan di sana!"
"Gue bakal bantu loe!"
"Loe serius Kell?"
"Tapi nggak gratis Vall!"
"Apa yang harus gue lakuin?"
"Kalau loe bisa ngajak cowok itu buat tidur bareng loe, gue bakal kasih loe lima ratus juta secara cuma-cuma!" ucap Kelly.
"Oke gue setuju!"
Deg...
Dada Rama bergemuruh, dia ingin menyangkalnya namun suara itu jelas-jelas milik Vallen. Rama memilih pergi, dia harus pulang dan menanyakan langsung kepada Vallen.
"Semu itu tidak benar kan Vall?"
BERSAMBUNG...
Hay gays, apa kabar? Semoga kalian sehat sll ya..
Dalam kesempatan hari ini, author ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya. Semoga diberi kesehatan, kelancaran & Allah berkenan menerima ibadah puasa teman-teman semua.
Dan mulai hari ini, semua novel akan author up setelah berbuka puasa...