
Rama dan Indy menunggu di depan ruang tindakan dengan wajah cemas, Rama masih ingat darah keluar begitu banyak dari pangkal paha istrinya. Meski dia belum yakin jika bayi itu adalah anaknya, namun dia tetap khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan Vallen.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang tindakan, Indy dan Rama segera menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Indy dengan cemas.
"Pasien baik-baik saja sekarang, untung saja pasien segera di bawa ke rumah sakit sehingga janinnya bisa di selamatkan," jelas dokter tersebut. "Tapi karena kondisi pasien masih lemah, untuk beberapa hari ke depan pasien harus istirahat total. Pasien juga tidak boleh stres. Dukungan keluarga sangat di butuhkan oleh pasien, apalagi pasien sedang hamil muda yang masih rentan keguguran!"
"Terima kasih banyak dok!" ucap Rama sebelum dokter itu pergi.
Setelah Vallen di pindahkan ke ruang perawatan, Indy pulang untuk mengambil beberapa keperluan menantunya dan membiarkan Rama menemani Vallen. Indy juga sengaja membiarkan mereka berdua, agar keduanya sama-sama merenung dan mawas diri jika mereka akan menjadi orang tua, agar mereka tidak lagi egois dan mulai memikirkan bayi yang ada di dalam perut Vallen.
Vallen mulai siuman, wanita itu merasa sangat haus. Vallen mencoba bangun namun dia tak memiliki tenanga sedikitpun. Rama yang tidur di sofa terbangun mendengar pergerakan Vallen, dia lalu menghampiri Vallen.
"Kau sudah sadar?" tanyanya dengan wajah lega.
"Haus," ucap Vallen samar-samar.
"Tunggu sebentar," Rama sedikit menaikkan ranjang bagian atas sehingga Vallen bisa duduk, dengan hati-hati Rama membantu Vallen minum.
"Terima kasih," kata Vallen dengan pelan. Rama hanya diam dan kembali membenahi tempat tidur Vallen agar wanita itu lebih nyaman. "Bagaimana kondisi bayiku?" tanya Vallen kemudian.
Rama mencelos, dia sedikit tercubit hatinya saat Vallen mengatakan bayiku alih-laih bayi kita. "Dia baik-baik saja!"
Vallen menghela nafas lega, meski awalnya dia tidak menerima bayi tersebut, namun dia akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya. Vallen sadar, bayi yang ada di dalam perutnya tidak bersalah dan tidak pantas di benci. Setidaknya Vallen harus menerima dan menyayanginya selama dia berada di kandungannya.
"Istirahatlah!" ujar Rama dengan lembut, untuk yang pertama kalinya Vallen mendengar suara Rama sehalus itu. Semoga saja akan menjadi awal yang baik untuk hubungan mereka.
Karena efek obat, Vallen tidur seharian, dia bahkan melewatkan makan siangnya. Wanita itu terlihat lelah, beban hidupnya pasti sangat berat. Namun dia tidak memiliki siapapun untuk berbagi atau sekedar mendengarkan keluh kesahnya.
Kini giliran Indy dan Zea yang berjaga karena Rama harus bekerja.
"Apa dia benar-benar sebatang kara?" tanya Indy dengan perasaan nelangsa.
"Sepertinya memang begitu bu. Dia pulang ke Indonesia karena kakaknya meninggal dan tidak sengaja bertemu Rama di bar," jawab Zea, sebelum menikah Rama menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Vallen dan melakukan hal yang tak seharusnya.
"Kasian sekali dia. Kita harus merawatnya dan menjaganya dengan baik Ze!"
"Iya bu!"
Setelah pulang bekerja, Rama langsung ke kamar Vallen karena Rama bekerja di rumah sakit dimana Vallen di rawat. Rumah sakit milik keluarga yang kini di kelola oleh Sam. Karena Rama sudah datang, Indy dan Zea memilih pulang.
Rama menghela nafas melihat jatah makan malam milik Vallen masih utuh, dan sebelumnya Indy juga mengatakan jika Vallen belum makan apapun sejak pagi. "Kenapa kau belum makan?" tanya Rama.
"Aku tidak lapar!"
"Tapi kau harus makan. Kasian bayinya!"
Vallen menoleh dan menatap Rama degan tatapan yang sukar di jelaskan. "Bukankah kau senang kalau terjadi sesutu pada bayi ini? Kau pasti kecewa karena dia selamat kan?"
Rama membuang nafasnya dengan kasar, namun dia mencoba menahan amarahnya karena Vallen sedang dalam kondisi yang belum stabil. "Terserah kau mau berpikir seperti apa! Makan atau tidak juga terserah padamu!" Rama memilih keluar dari kamar Vallen karena dia takut tidak bisa menahan emosinya.
Sementara itu Vallen tiba-tiba menangis, dia sangat kesal karena akhir-akhir ini moodnya mudah sekali berubah. Seharusnya dia tak perlu mengatakan apapun pada Rama, dia hanya perlu menahan kekesalannya sampai bayinya lahir.
Keesokan harinya kondisi Vallen semakin membaik, namun Vallen merasa perutnya seperti di aduk-aduk, dia mulai mual dan ingin muntah. Bersusah payah Vallen turun dari tempat tidur, dia melirik Rama sekilas, pria itu masih terlelap di sofa. Vallen lalu mendorong stand infusnya ke kamar mandi. Wanita itu lalu memuntahkan semua isi perutnya sampai lemas.
Rama terbangun dan terkejut tak mendapati Vallen di atas tempat tidur. Rama bergegas bangun dan menemukan Vallen di kamar mandi sedang muntah. Rama menyusul masuk dan memijat tengkuk Vallen.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rama setelah Vallen berhenti muntah.
"Aku sangat mual," keluh Vallen seraya menyeka mulutnya.
"Mungkin karena kau tidak makan!"
Rama menuntun Vallen keluar dari kamar mandi, ajaibnya mual Vallen tiba-tiba hilang saat Vallen mencium aroma tubuh Rama, dia juga merasa lebih tenang dan perutnya mulai membaik.
Melihat kondisi Vallen, Rama tidak tega meninggalkan wanita itu seorang diri. Tapi dia harus tetap bekerja karena dia memiliki jadwal operasi. Sebelum dia pergi, seorang dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Vallen.
"Dok, kenapa dia mual dan muntah-muntah?" tanya Rama pada dokter.
Dokter yang memeriksa Vallen tersenyum. "Mual dan muntah sangat wajah di alami oleh ibu hamil, biasanya mual dan muntah terjadi di trimenster pertama. Meski wajar, namun anda harus tetap memperhatikannya karena mual dan muntah bisa memincu ibu hamil lemas dan pingsan!"
"Aku harus bekerja!"
"Hem!" sahut Vallen singkat.
"Sebentar lagi Zea datang!"
"Ya!"
Setelah Rama pergi, Vallen kembali merasa mual. Untungnya tidak sampai muntah sehingga dia tidak perlu ke kamar mandi. Tak lama setelah Rama pergi, Zea datang membawa makanan dari luar karena sejak kemarin Vallen tidak nafsu makan.
"Aku bawa makanan dari luar, kau mau makan kan?" tanya Zea dan Vallen mengangguk, setelah muntah perutnya memang terasa lapar. Dengan telaten Zea menyuapi Vallen, meski Vallen sudah menolaknya namun Zea tetap memaksa dan Vallen akhirnya mengalah, membiarkan iparnya merawatnya.
Setelah makan, Zea juga membantu Vallen meminum obatnya.
"Terima kasih Ze," ucap Vallen dengan tulus.
"Tidak perlu sungkan. Kita kan keluarga!" jawab Zea sambil tersenyum.
Keluarga? Hati Vallen menghangat saat Zea menganggapnya sebagai keluarga, namun Vallen tidak boleh terlena karena dia akan segera pergi begitu bayi ini lahir.
"Kau pasti bosan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tawar Zea dan Vallen mengangguk.
Zea mendorong kursi roda Vallen dan berkeliling area rumah sakit. Kedua wanita itu lalu duduk di taman sambil menikmati udara pagi yang tak terlalu sejuk.
"Pasti berat kan?" tanya Zea tiba-tiba, Vallen menoleh dan menatap Zea penuh tanya. "Maksudku menikah tanpa cinta," sambung Zea menjawab rasa penasaran Vallen.
"Hem," Vallen hanya menyahuti dengan gumaman.
"Aku juga pernah merasakannya Vall. Bahkan lebih menyakitkan karena hanya aku yang jatuh cinta sementara Sam tidak! Perjalanan pernikahan kami sangat berliku, kami menikah karena perjodohan, namun sejak awal aku sudah mencintai Sam, sayangnya Sam mencintai wanita lain. Tapi aku tidak menyerah dan berjuang sampai Sam mau menerimaku dan mencintaiku!" entah mengapa Zea tiba-tiba menceritakan tentang kisah cintanya. Zea lalu meraih tangan Vallen dan menggenggamnya dengan erat. "Maksudku adalah, kau hanya perlu bertahan dan menjalaninya. Aku yakin, cinta akan tubuh di hati kalian. Apalagi akan ada seorang bayi di tengah-tengah kalian. Aku harap kau juga tidak membenci Rama, dia tidak jahat. Hanya saja, hidupnya selalu tertata sejak kecil, dia hanya belum bisa menerima karena tiba-tiba kau datang dan menjadi bagian dari hidupnya!"
Vallen tersenyum hambar, dia bahkan tak yakin akan mencintai pria seperti Rama. Baginya cinta tidaklah penting, karena dia dan Rama memiliki keinginan yang sama, mengejar impian mereka setelah bayi tersebut lahir.
"Vallen?" panggil seseorang dari arah samping. Vallen dan Zea menoleh, kedua wanita itu terkejut dengan ekspresi yang berbeda.
"Kak Felisya!"
"Bu Felisya!" ucap Vallen dan Zea bersamaan. Zea menoleh ke arah Zea dan terkejut karena Zea mengenal Felisya.
"Kau kenal kak Felisya?" tanya Vallen seraya menatap wajah Zea yang menegang.
"Hm, bagaimana kau menegal bu Felisya?" kini Zea balik bertanya.
"Kak Felisya ini sahabat kakakku Ze!"
"Sahabat kakakmu?" ulang Zea, perasaannya mulai tidak karuan. "Apa kakakmu bernama Victor?" tanya Zea dengan tangan bergetar.
"Ya, bagaimana kau tau nama kakakku Ze?"
Zea menelan ludahnya dengan kasar, bagaimana mungkin kebetulan seperti ini terjadi. Kenapa dari sekian banyak wanita, Rama harus menikahi adik Victor.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" sela Felisya seraya menatap Vallen dan Zea bergantian.
"Kami...." Vallen ragu untuk menjelaskannya.
"Vallen adalah kakak iparku sekarang!" tegas Zea.
"What? Maksudmu Vallen menikah dengan Rama?"
Zea mengangguk pelan. Sementara itu Vallen masih bingung kenapa Zea dan Felisya bisa saling mengenal.
"Sudah siang Vall, sebaiknya kita kembali ke kamarmu!" ajak Zea, dia tidak nyaman terlalu lama berdekatan dengan Felisya, mengingat bagaimana wanita itu hampir saja membunuhnya.
"Aku permisi kak!"
Felisya menatap kepergian Vallen dengan perasaan cemas, dia takut Zea akan mengatakan kepada Vallen jika dialah yang sudah menabrak Victor hingga pria itu meninggal, meski Felisya tidak sengaja melakukannya, namun tetap saja Victor meninggal karenanya.
BERSAMBUNG ...