
Hay hay hay,,
Maaf ya gays, aku belum bisa up banyak di karenakan jadwal di real life sangat padat. mungkin nanti awal bulan aku akan rajin up dua bab perhari...
Jangan bosan menunggu and happy reading ❤️❤️❤️
Vallen sudah berada di bandara, wanita itu menunggu Feli yang sedang membelikan tiket pesawat untuknya. Setengah jam kemudian Feli menghampiri Vallen membawa dua tiket pesawat.
"Kenapa dua?" tanya Vallen penasaran.
"Kakak akan menemanimu sampai kau menemukan rumah di sana," jawab Falisya.
"Aku bisa sendiri!"
"Tolong jangan keras kepala, kau sedang hamil besar dan kau tidak bisa melakukannya sendirian!"
Vallen terpaksa membiarkan Felisya ikut bersamanya, karena jika di pikir lagi dia pasti akan kerepotan mencari tempat tinggal seorang diri. Selama di dalam pesawat, Vallen lebih banyak diam. Dia teringat momen saat dia dan keluarganya liburan ke Bali bersama-sama, di pulau itulah hubungannya dan Rama membaik. Namun kini dia juga akan mengakhiri semua hubungannya di pulau itu.
Dua jam kemudian mereka telah mendarat di Bali. Keduanya masih berada di Bandara karena Vallen belum menentukan di daerah mana dia akan menetap.
"Kau ingin rumah yang seperti apa Vall?" tanya Felisya.
"Rumah yang tak terlalu besar dan tidak terlalu ramai," jawab Vallen dengan tatapan kosong.
Felisya diam sejenak, sepertinya dia tau tempat yang bagus dan cocok untuk Vallen. Tempatnya berada pinggiran kota namun dekat dengan rumah sakit. "Kakak tau tempat seperti itu!"
"Benarkah?"
"Ya!"
Keduanya lalu menaiki taxi menuju tempat tersebut. Setengah jam kemudian mereka sampai di suatu tempat yang tak terlalu ramai. "Tunggu di sini, kakak akan mencari tau apakah ada rumah yang di sewakan atau di jual!"
"Ya!"
Vallen menunggu Felisya di sebuah warung, dia membiarkan Felisya mencarikan rumah untuknya. Anggap saja Felisya sedang membayar hutang karena telah menyebabkan Victor meninggal dunia. Tak sampai satu jam, Felisya kembali dan mengajak Vallen untuk melihat sebuah rumah yang akan di jual oleh pemiliknya.
"Ini rumahnya, bagaimana?" tanya Felisya seraya menunjuk sebuah rumah yang tak terlalu besar namun memiliki halaman yang cukup luas.
"Kita lihat ke dalam," ucap Vallen, wanita hamil itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Vallen berkeliling, memeriksa satu persatu ruangan di dalam rumah satu lantai itu. "Aku suka, berapa yang harus aku bayar?" tanya Vallen setelah memeriksa rumah tersebut.
"Kau akan membelinya?" tanya Felisya dengan tatapan tak percaya.
"Ya, aku akan membelinya dan menetap di sini!"
"Karena di pinggir kota harganya tak terlalu mahal, kakak akan menawarnya. Siapa tau pemilik rumah menurunkan sedikit harganya!"
Setelah berunding mengenai harga, akhirnya Vallen dan pemilik rumah sepakat di harga 200 juta rupiah. Vallen menggunakan uang dari Kelly untuk membeli rumah tersebut, sisanya akan dia gunakan untuk membuka usaha setelah dia melahirkan nanti.
"Pulanglah kak. Dan jangan beri tahu siapapun atau aku tidak akan pernah memaafkan kakak!" usir Vallen, dia ingin menyendiri dan menenangkan diri.
"Baiklah, kakak akan pulang. Jaga kesehatanmu dan kabari kakak jika persalinanmu sudah dekat."
"Hem!"
Setelah kepergian Felisya, Vallen masuk ke dalam kamar yang akan dia jadikan sebagai kamar utama. Meski rumah tersebut tidak terlalu besar namun masih nyaman di tinggali. Pemilik rumah juga meninggalkan sebuah tempat tidur beserta kasurnya sehingga Vallen tidak perlu membeli kasur lagi.
Vallen merebahkan tubuhnya, dia mengusap perutnya yang sudah besar. "Kita akan berjuang bersama," gumamnya dengan mata berair.
Setelah lelahnya sedikit berkurang, Vallen memutuskan untuk membeli beberapa keperluan yang dia butuhkan. Dia hanya akan membeli kompor dan lemari kecil untuk menampung bajunya yang tak seberapa. Untuk keperluan makan seperti piring, gelas dan sendok, untung saja pemilik rumah meningalkan beberapa untuknya.
Siang berganti malam, setelah membereskan rumah barunya Vallen kelelahan dan membaringkan tubuhnya di kasur. Seharian ini dia sangat sibuk sehingga dia tak begitu memikirkan Rama. Namun kini, dia kesepian dan mulai merindukan Rama.
"Sadar Vallen, kau hanya batu sandungan untuknya!" ucap Vallen memperingati diriny sendiri. "Lebih baik pikirkan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Sementara di tempat lain, Rama dan keluarganya7sedang kebingungan mencari keberadaan Vallen. Mereka bahkan berencana membuat laporan ke kantor polisi jika Vallen tak juga kembali.
Indy tak henti-hentinya menangis, wanita itu merasa bersalah karena tidak bisa menemukan menantuny itu.
"Sudah mah, jangan menangis lagi. Kita pasti akan menemukan Vallen!" ucap Zea menenangkan ibunya.
"Bagaimana mama bisa tenang Ze, dia sedang hamil besar. Dia juga tidak memiliki keluarga lagi!"
"Kita pasti akan menemukannya ma!"
Rama pikir Vallen adalah batu sandungan untuknya. Namun setelah Vallen pergi dia baru sadar jika Vallen bagian terpenting di dalam hidupnya. Kini hatinya terasa kosong, bahkan kamarnya terasa hampa tanpa kehadiran Vallen.
"Kau dimana Vall?" tanyanya dengan perasaan bersalah. Rama lalu keluar dari kamarnya dan berencana mencari Vallen lagi, dia bahkan tak memperdulikan pekerjaannya lagi.
"Kau mau pergi lagi?" tanya Sam yang kebetulan ada di ruang tamu.
"Ya! Aku harus menemukannya!" jawab Rama putus asa.
"Ram, mungkin kita bisa bertanya pada Felisya. Siapa tau Felisya mengetahui keberadaan Vallen!"
"Ya, kau benar. Kenapa aku tidak memikirkan Felisya. Ayo kita ke rumahnya!"
BERSAMBUNG...