ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Kerja sama



Setelah mengetahui fakta jika Vallen juga memiliki golongan darah langka, Felisya bergegas menyusul Vallen ke Bali karena dia khawatir terjadi sesuatu pada Vallen saat Vallen melahirkan nanti. Namun tanpa Felisya sadari, Sam menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengawasi Felisya. Anak buah Sam lalu mengikuti Felisya ke bandara dan melaporkannya kepada Sam.


"Terus ikuti!" titah Sam ketika anak buahnya menelfon.


Dan sampai akhirnya Felisya tiba di Bali, wanita itu langsung menemui Vallen di rumahnya. Vallen terkejut melihat kedatangan Felisya yang mendadak.


"Ada apa kak?" tanya Vallen penasaran.


"Aku dengar kau memiliki golongan darah yang langka? Aku cemas jadi aku akan tinggal di sini sampai kau melahirkan," ujar Felisya mengungkapkan kekhawatirannya.


"Dari mana kakak tau?"


"Sam dan Rama datang mencarimu lagi, mereka lalu menceritakan semuanya!"


Vallen bergegas menutup pintu dan menarik Felisya ke dalam rumah. "Kakak yakin mereka tidak mengikuti kakak sampai ke sini?" Vallen mulai cemas, dia takut Rama akan menemukannya.


"Tidak. Mereka mendatangi kakak semalam, sementara kakak pergi pagi-pagi sekali!" jawab Felisya yakin, dia rasa tidak mungkin mereka mengikutinya sampai ke Bali.


"Lebih baik kakak istirahat, sore nanti lebih baik kakak pulang ke Jakarta," usir Vallen secara halus, meski Felisya sudah banyak membantunya, namun Vallen belum bisa melupakan fakta jika Feli yang telah membunuh kakaknya.


"Tapi Vall, kakak khawatir padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tak di inginkan saat kamu melahirkan?"


"Aku sudah memikirkan segala konsekuensinya. Jadi aku mohon kakak kembali saja ke Jakarta atau aku akan mencari tempat tinggal lain!"


"Baiklah," Felisya terpaksa mengalah, dia hanya perlu pura-pura pulang ke Jakarta, dia akan tetap tinggal di Bali sampai Vallen melahirkan. Felisya lalu ke kamar tamu dan istirahat, namun sebenarnya dia mencari informasi rumah kos yang dekat dengan rumah Vallen.


Sementara tak jauh dari rumah Vallen, anak buah Sam berhasil mengambil foto Felisya dan Vallen lalu mengirimkannya kepada Sam beserta alamat lengkap dimana Vallen tinggal.


Rama baru saja menyelesaikan operasinya, dia membuka ponsel karena mendapat pesan dari Sam. Rama membelalakan matanya saat melihat foto Vallen yang di kirimkan oleh Sam.


"Aku menemukannya!" tulis Sam di pesan singkat yang di sertai oleh alamat Vallen.


Rama merasa sangat lega karena di foto tersebut Vallen tampak baik-baik saja, Rama langsung pulang ke rumahnya untuk membereskan beberapa baju yang akan dia bawa ke Bali.


"Aku mau menyusul Vallen ma," jawab Rama antusias.


"Kau menemukannya? Dimana dia?"


"Dia ada di Bali mah. Tolong katakan pada Sam aku mengajukan cuti dalam waktu yang belum di tentukan!" ujar Rama, dia yakin butuh waktu untuk membujuk Vallen sehingga dia memutuskan untuk cuti beberapa saat.


"Iya nak. Cepat pergi dan bawa istrimu kembali!"


"Baik ma!"


.


.


Vallen duduk sambil menatap desain bajunya, dia mulai memikirkan tawaran Marco untuk bekerja sama. Jika di pikir lagi, mungkin lebih baik Vallen menerima tawaran Marco, karena untuk membuka butik sendiri pastilah membutuhkan uang yang tidak sedikit. Uang sisa pembelian rumah bisa dia gunakan untuk persiapan persalinan dan biaya hidup sampai Vallen menghasilkan uang.


Vallen lalu meraih ponselnya, di saat dia akan menelfon Marco, rupanya pria itu sudah ada di depan rumahnya.


"Aku baru saja mau menghubungimu," ujar Vallen sambil mepersilahkan Marco duduk di teras rumah.


"Benarkah, ada apa?" Marco tampak senang mendengar Vallen akan menghubunginya.


"Soal urusan kerja sama, apa masih berlaku?" tanya Vallen memastikan.


Marco tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja masih, aku justru datang karena ingin membahasnya bersamamu!"


"Terima kasih Marco, aku harap kerja sama kita berjalan lancar!" Vallen dan Marco lalu saling berjabat tangan sebagai tanda awal kerja sama mereka, namun di saat yang bersamaan Rama datang dan melihat keduanya sedang bersalaman, Rama yang salah paham langsung menghampiri keduanya dan melepaskan tangan Vallen dan Marco secara paksa.


"Rama!"


BERSAMBUNG...