
Vallen membuka matanya perlahan saat dia mendengar suara tangis bayi. Wanita itu berusaha untuk bangun namun tubuhnya terasa sangat berat. Rama yang menyadari jika Vallen sudah bangun segera menghampiri Vallen seraya menimang putri mereka.
"Sayang kau sudah bangun?" tanya Rama dengan senyum bahagia.
"Mana anak kita?" tanya Vallen dengan suara serak.
Rama lalu meletakan bayinya di sebelah Vallen. "Lihatlah, dia sangat mirip denganku," ujar Rama antusias.
Vallen menunduk sehingga dia bisa melihat wajah putrinya dengan jelas. Benar saja, wajah putrinya sangat mirip dengan Rama. "Kau benar!" Vallen tersenyum lalu menyentuh hidung putri kecilnya. "Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Vallen seraya menatap Rama.
"Sebenarnya sudah. Tapi aku ingin kau yang memberinya nama!"
"Aku belum menyiapkannya Ram. Kau saja yang memberinya nama!"
"Benarkah. Kalau begitu aku akan memberinya nama Zilla Vallerie Irvantara!"
"Zilla," ulang Vallen. "Nama yang bagus Ram, aku suka!"
Setelah memberi nama putri mereka, Rama membantu Vallen untuk turun dari tempat tidur dan belajar berjalan, smeentara baby Zilla di jaga oleh Zea dan Indy.
Selama masa pemulihan, Rama benar-benar menjaga istrinya dengan sangat baik. Rama begitu telaten merawat Vallen sampai kondisi Vallen benar-benar membaik dan Vallen sudah di izinkan pulang.
Setibanya di rumah Vallen di buat terkejut karena rumahnya terlihat lebih rapi. Vallen tak menyangka selama dia di rumah sakit Rama mendekor ulang rumahnya. Kejutan tak sampai di situ saja, Vallen begitu bahagia melihat kamar mereka yang juga di sula menjadi lebih cantik. Karena tak memiliki kamar khusus bayi, Rama akhirnya menyulap kamar mereka sedemikian rupa. Rama memasukan ranjang bayi dan beberapa ornamen berwarna merah muda yang membuat kamar tersebut terlihat manis.
"Kapan kau melakukan semua ini Ram?" tanya Vallen pemasaran, pasalnya selama tiga hari di rumah sakit Rama tidak sedetikpun meninggalkannya.
"Sebenarnya Zea dan Sam yang menyiapkan semua ini!" jawab Rama .
"Sam? Dia kemari?"
"Ya. Si kembar rewel jadi Sam terpaksa mengantarnya kemari!"
"Ah, lalu kemana mereka?"
"Mereka sedang keluar!" sahut Zea yang menyusul masuk ke kamar Vallen.
"Maaf ya Ze, gara-gara aku kau harus meninggalkan si kembar!" sesal Vallen.
"Tidak masalah. Tapi masalahnya sekarang aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus segera kembali ke Jakarta? Apa kau mau ikut pulang?"
Vallen melirik Rama sesaat. Untuk saat ini dia masih nyaman berada di Bali.
"Tidak masalah kalau kau mau tinggal di sini. Aku bisa mencari pekerjaan di sini," ucap Rama seraya mengusap kepala Vallen.
"Aku akan memikirkannya Ram!"
Sehari setelah Vallen keluar dari rumah sakit, Marco dan beberapa temannya datang menjenguk Vallen. Marco membawa beberapa kado untuk bayi Vallen.
"Selamat atas kelahiran putrimu Vall," ucap Marco dengan tulus.
"Terima kasih Marco!"
"Aku akan memikirkannya Mar!"
Menjadi orang tua baru tentu bukan hal mudah. Rama dan Vallen sama-sama belajar untuk menjadi orang tua. Keduanya kompak mengurus bayi mereka. Apalagi setelah Zea dan Indy pulang ke Jakarta, mereka mengurus bayi mereka bersama. Hampir setiap malam Rama begadang dan menggantikan Vallen menjaga bayi mereka.
Dini hari Vallen terbangun karena merasa haus. Dia tersenyum melihat bayinya yang tertidur pulas di dalam box bayi. Vallen lalu keluar dari kamar karena tak melihat Rama di kamar. Vallen terenyuh saat melihat Rama tertidur di meja dapur dan laptopnya dalam kondisi menyala. Vallen menghampiri Rama dan memeriksa laptop Rama. Rupanya pria itu sedang mencari rumah sakit yang dekat dengan rumah mereka.
"Maafkan aku Ram. Sepertinya tinggal di sini membuatmu kesulitan!"
Perlahan Vallen menutup laptop Rama dan membangunkan suaminya agar berpindah ke kamar.
"Ram, bangun!" Vallen menepuk punggung Rama dengan pelan.
"Eh, sayang. Apa Zilla rewel?"
"Tidak. Kenapa kau tidur di sini?"
"Aku tidak mau menganggumu dan Zilla! Masih pagi, ayo kita tidur lagi!"
Rama membereskan laptopnya, dia lalu mengajak Vallen kembali ke kamar. Namun di depan pintu Vallen berhenti, Rama ikut berhenti dan menoleh le arah istrinya.
"Ada apa Vall?" tanya Rama.
"Ram, sebaiknya kita pulang ke Jakarta!" Vallen sudah memikirkannya. Dia akan kembali ke Jakarta agar Rama tidak perlu mencari pekerjaan lagi.
"Kenapa? Bukannya kau nyaman di sini?"
"Aku ingin dekat dengan mama dan Zea!"
"Kau yakin?"
"Ya aku yakin Ram!"
Rama menarik Vallen ke dalam pelukannya. "Terima kasih sayang. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Aku mencintaimu Vall!"
"Aku juga mencintaimu Ram!"
...TAMAT ...
Hay semua, maaf karena cerita ini harus berakhir sampai.di sini. Aku tau kalian pasti kecewa karena ceritanya terkesan terburu-buru. Namun aku terpaksa harus menyelesaikan cerita ini karena masalah kesehatan.
sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih kepada kalian semua karena selama ini selalu mendukungku. Aku sangat bersyukur karena dukungan kalian sangat berarti untukku.
Dan untuk beberapa bulan ke depan mungkin aku akan istirahat menulis. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali membuat sebuah karya dan kalian masih mau mendukungku.
Tunggu aku kembali ya..
I love you all❤️❤️❤️❤️❤️