
"Rama," Vallen terkejut melihat kedatangan Rama, dari mana pria itu menemukan rumah barunya. Setelah melepaskan tangan Vallen dan Marco secara paksa, Rama masih mencengkeram tangan Vallen dan menatap Marco penuh permusuhan.
"Apa yang anda lakukan di rumah istri saya?" tanya Rama penuh penekanan.
"Bukankah kalian sudah berpisah?" alih-alih menjawab, Marco malah balik bertanya, pria itu bahkan berani membalas tatapan tajam Rama.
Rama menyunggingkan senyum sinis. "Vallen masih resmi istri saya! Silahkan pergi dari sini!" usir Rama secara terang-terangan. Bahkan sebelum Marco pergi, Rama membawa Vallen masuk ke dalam rumah.
Vallen melepas tangan Rama dengan kasar, wanita itu lalu menatap Rama dengan tatapan yang sukar di artikan. Antara rindu dan kecewa bercampur menjadi satu. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vallen dengan tatapan nyalang.
"Menjemputmu. Ayo kita pulang," jawab Rama tanpa basa basi.
Vallen tersenyum sinis. "Pulang ke mana, rumahku di sini!" jawab Vallen.
"Vall, malam itu aku mabuk. Semua yang aku katakan dalam pengaruh alkohol. Tolong maafkan aku dan pulanglah bersamaku Vall, aku mohon!"
"Justru karena kau mabuk sehingga yang kau ucapkan adalah kebenaran!"
"Maaf Ram, sebaiknya kau yang pulang. Sejak malam itu, aku menganggap hubungan kita sudah selesai. Setelah bayi ini lahir, aku akan mengurus perceraian kita!
Rama membeku di tepat, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika Vallen akhirnya mengucapkan kata cerai. Hari Rama terasa sakit, buliran bening keluar dari pelupuk matanya tanpa izin. "Ti-tidak Vall, aku tidak mau bercerai," tolak Rama dengan bibir bergetar, sungguh kata cerai membuat hatinya terasa tercabik-cabik. "Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku Vall?" tanya Rama dengan harapan Vallen mau memaafkannya.
"Tidak ada. Sejak awal pernikahan ini terjadi karena keterpaksaan. Anggap saja waktu sembilan bulan kita telah berakhir, mari tetap pada perjanjan awal kita, setelah bayi ini lahir aku akan pergi jauh dari kehidupanmu dan keluargamu. Tapi aku akan membawa bayi ini bersamaku!" tegas Vallen seolah tanpa keraguan, meski sebenarnya hatinya sangat sakit melihat Rama menangis. Namun Vallen harus tetap melepaskan Rama karena dia tidak mau menjadi batu sandungan bagi pria yang telah berhasil merebut hatinya. "Pergilah!" usir Vallen sekali lagi, Vallen berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan lebar. Rama menatap Vallen penuh harap, namun tatapan Vallen mengisyaratkan jika dia tidak ingin melihat Rama lagi. Untuk saat ini Rama mengalah dan memilih pergi. Sebelum pergi dia berhenti di depan Vallen dan menatap istrinya.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" ucapnya dengan tegas.
Setelah Rama pergi, Vallen ambruk di depan pintu. Wanita hamil itu menangis sejadi-jadinya. Felisya yang sejak tadi mengintip mereka pun segera menghampiri Vallen dan memeluk wanita hamil itu.
"Maafin kakak Vall, kakak benar-benar minta maaf," ucap Felisya penuh sesal. Felisya lalu kembali memeluk Vallen dan membiarkan Vallen meluapkan kesedihannya.
Sementara itu Rama berjalan tanpa arah, untuk yang pertama kalinya dia merasakan sakit yang teramat sangat. Dia belum pernah melihat tatapan penuh kebencian di mata Vallen, dan hari ini dia melihatnya. Vallen begitu membencinya. "Apa yang harus aku lakukan Vall?"
BERSAMBUNG...