
Vallen begitu nyaman tidur di dalam pelukan Rama, kedua manusia itu masih betah berada di dalam selimut tebal padahal di luar sana matahari sudah meninggi. Vallen menggeliat, perlahan dia membuka matanya dan tersenyum melihat wajah Rama yang begitu dekat. Sayangnya Vallen harus segera bangun karena semenjak hamil dia menjadi lebih sering ke kamar mandi, padahal dia masih ingin menatap wajah Rama lebih lama lagi.
Vallen berusaha melepas tangan Rama yang melingkar di pinggangnya, namun pria itu justru semakin mempererat pelukannya.
"Ram lepas, aku mau pipisss," ucap Vallen seraya menahan hasrat ingin vivisnya.
"Sebentar lagi," jawab Rama dengan suara serak dan terdengar begitu sexiii.
"Nanti aku ngompol Ram!"
"Nanti aku cebokin!" jawab Rama yang terdengar sedikit frontal, padahal selama ini dia selalu menjaga ucapannya.
Vallen terpaksa mencubit tangan Rama karena dia sudah benar-benar tidak tahan. Rama mengaduh dan reflek menarik tangannya, kesempatan itu Vallen gunakan untuk melarikan diri ke kamar mandi.
Setelah menuntaskan panggilan alam, Vallen mencuci wajahnya. Wanita hamil itu tersipu saat membayangkan hangatnya pelukan Rama.
"Bolehkah aku sebahagia ini?" tanya Vallen pada pantulan dirinya di cermin. "Ya, aku harus bahagia, demi diriku dan demi bayiku. Tapi bagaimana dengan kuliah dan impianku?" Vallen menghela nafas panjang, dia kembali teringat perjuangannya selama kuliah di luar negeri. "It's okay. Aku bisa meraih mimpiku setelah bayi ini lahir. Rama dan mama pasti tidak keberatan jika aku melanjutkan kuliah lagi. Saat ini aku hanya perlu menikmati waktunya bersama keluarga baruku!"
Vallen lalu keluar dari kamar mandi dan mendapati Rama masih melanjutkan tidurnya. Vallen memilih mandi karena kemarin Rama berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Vallen keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang membungkus rambutnya yang basah. Wanita hamil itu terlonjak kaget karena Rama sudah menunggunya di depan kamar mandi.
"Kenapa kau berdiri di depan pintu?" tanya Vallen dengan tatapan heran.
"Mau mengintipmu mandi!" goda Rama dengan senyuman nakal.
"Aku tidak menyangka kau semesyumm itu Ram!" jawab Vallen seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa kau ingin melihat kemesyumanku yang lebih wow?" bisik Rama tepat di telinga Vallen.
Vallen bergidik ngeri dan segera menjauhnya kepalanya. "Tidak!" teriak Vallen lalu berlari menjauhi Rama. Sementara itu Rama terkekeh melihat Vallen yang terlihat menggemaskan. Kenapa selama ini dia tidak sadar jika Vallen begitu mempesona.
Setelah sama-sama rapi, Vallen dan Rama turun bersama. Pemandangan langka itu tentu saja membuat Indy dan Zea saling bertukar pandang dan menyimpan banyak pertanyaan. Namun melihat Rama dan Vallen turun dari kamar bersama-sama membuat Indy senang dan berharap semua ini adalah awal yang baik untuk mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Zea penasaran.
"Jalan-jalan Ze, kau mau ikut?" jawab Vallen dengan wajah begitu riang.
"Zea sibuk!" potong Rama dengan cepat. Dia tidak mau Zea mengganggu kencan pertamanya bersama Vallen. Lucu bukan, mereka sudah menikah lebih dari enam bulan dan baru melakukan kencan pertama mereka.
Zea menahan senyumnya, dia sangat mengenal Rama, sikap Rama menunjukan jika dia tidak ingin di ganggu dan hanya ingin pergi bersama Vallen.
"Iya Vall, maaf ya. Sam mengajakku dan anak-anak pergi juga," jawab Zea sambil melirik Rama.
"Oh ya sudah. Kalau begitu kami pergi dulu ya," pamit Vallen.
"Hati-hati nak!"
"Iya mah!"
Karena sudah siang, Rama lebih dulu mengajak Vallen untuk makan. Rama yakin Vallen pasti sudah kelaparan karena waktu sudah menunjukan jam sebelas siang.
"Kau mau makan apa Vall?" tanya Rama setelah mereka berada di dalam mobil.
"Sesuatu yang enak di sini, nasi campur misalnya," jawab Vallen dengan cepat.
"Oke," Rama bernafas lega karena Vallen tidak menjawabnya dengan kata 'terserah'. Setelah mencari beberapa saat, Rama memarkirkan mobilnya di depan sebuah kedai yang menjual nasi campur.
"Bagaimana?" tanya Rama seraya menatap wajah Vallen.
"Sangat enak, aku suka," jawab Vallen dengan mulut penuh.
"Syukurlah!"
Setelah sarapan, Rama dan Vallen melanjutkan perjalanan mereka. Rama mengajak Vallen ke pusat perbelanjaan yang terkenal di Bali. Semalam saat Vallen sudah tidur, dia sudah menyusun semua hal yang akan dia lakukan bersama Vallen. Dan menurut info dari mbah gugel, nonton bioskop tidak boleh di lewatkan saat sedang berkencan.
"Kita mau nonton?" tanya Vallen begitu Rama mengajaknya ke bioskop.
"Hem. Kau mau kan?"
Vallen tersenyum manis. "Tentu saja!"
"Mmm Vall," panggil Rama setengah ragu.
"Ya, ada apa Ram?"
"Aku belum pernah berkencan sebelumnya. Jika kau tak menyukai hal yang aku siapkan kau harus bilang padaku. Aku ingin kencan pertama kita berkesan," ujar Rama seraya menggenggam salah satu tangan Vallen.
"Ya, aku akan melakukannya. Aku akan bilang seandainya aku merasa kurang nyaman dengan sesuatu yang sudah kau siapkan!"
Rama tersenyum, dia lalu menyuruh Vallen menunggu sementara dirinya membeli tiket. Menurut info dari mbah gugel, tidak afdol rasanya jika nonton tanpa membeli seember popcorn dan minuman. Vallen terkekeh melihat Rama kesusahan membawa popcorn dan dua botol air mineral, Vallen lalu menghampirinya dan mengambil alih popcornya.
"Kau beli popcorn juga?" tanya Vallen.
"Hem, menurut info popcorn adalah hal wajib saat nonton!" jawab Rama.
"Info dari siapa?"
"Mbah gugel!"
Vallen terkekeh, kini dia percaya jika Rama benar-benar belum pernah berkencan sebelumnya. Keduanya lalu masuk ke dalam gedung karena film akan segera di mulai.
Vallen terlihat serius menonton film sambil memakan popcorn, sementara perhatian Rama justru tertuju pada Vallen, bukannya fokus menatap layar Rama malah fokus menatap wajah Vallen yang terlihat sangat serius.
Vallen menoleh karena dia merasa Rama sedang memperhatikannya, wanita hamil itu menatap Rama penuh tanya. "Kenapa malah menatapku?" tanya Vallen sambil berbisik.
Gerakan bibir Vallen membuat getaran aneh di dalam tubuh Rama, pria itu mulai membayangkan bagaimana rasanya mencium bibir mungil yang sejak tadi tak behenti begerak karena sang pemilik sedang menikmati popcornnya.
"Kau kenapa Ram?" Vallen bingung karena Rama terus menatapnya tanpa berkata apapun.
"Aku ingin menciummu," aku Rama tanpa ragu.
"Eh," Vallen terkejut dengan ucapan Rama, namun dia semakin terkejut saat Rama benar-benar mengecup bibirnya, saking terkejutnya Vallen sampai tidak sadar jika emper popcornnya jatuh dari tangannya dan tumpah. Vallen hanya diam saat Rama mulai melumaaaat bibirnya, sebagai seorang pemula Rama cukup hebat dalam berciuman.
Rama melepas ciumannya dan mengusap bibir Vallen dengan lembut. "Terima kasih. Kita lanjutkan nanti saat sampai di villa," bisik Rama dengan suara menggoda.
"Eh!"
BERSAMBUNG...