ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Cemburu



"Apa dia kekasihmu?"


Vallen menghela nafas berat. "Bukan urusanmu Ram!" jawabnya dengan tegas.


"Tentu saja menjadi urusanku karena kau saat ini masih menjadi istriku!"


Hati Vallen bergetar mendengar Rama menyebutnya sebagai istri. Namun Vallen tak ingin terlena dengan status palsu mereka. Vallen memilih tak menanggapi ucapan Rama dan masuk ke dalam villa. Vallen segera ke kamarnya untuk menenangkan diri, sungguh jantungnya berdebar saat Rama mengakuinya sebagai istri.


"No Vallen, jangan terlena. Kau tau di tidak tertarik denganmu!" ucap Vallen mencoba mengingatkan dirinya perihal perasaan Rama. Sejak awal Rama selalu menegaskan jika Vallen hanya kerikil kecil yang menghalangi mimpi Rama. "Lebih baik aku mandi agar pikiranku kembali jernih!" Vallen lalu masuk ke dalam kamar mandi. Wanita hamil itu berdiri di bawah guyuran air shower dan mencoba menenangkan hatinya. Setelah sekian menit, Vallen merasa lebih segar. Dia segera keluar setelah ritual mandinya selesai.


Tok...tok...tok...


"Vall, apa kau tidur?" tanya Zea setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Tidak Ze, aku sedang ganti baju!" jawab Vallen setengah berteriak.


"Cepat turun kalau kau sudah selesai. Kami menunggu di bawah untuk makan malam!"


"Ya!"


Setelah rapi, Vallen menyusul Zea turun dan bergabung bersama anggota keluarga yang lain. Mereka sedang membuat pesta barbeque di halaman villa. Vallen menghampiri Indy dan Ega yang sedang memangang daging.


"Mah, biar Vallen bantu," ucap Vallen menawarkan diri.


"Tidak nak, tunggu saja di sana. Mama dan ayah paling suka melakukan ini," jawab Indy sambil tersenyum.


Vallen mengangguk dan memilih duduk di sebelah Zea, dia menghindari Rama karena takut jantungnya akan berdebar lagi.


"Dimana anak-anak Ze?" tanya Vallen karena tak melihat si kembar.


"Mereka sudah tidur," jawab Zea sambil tersenyum.


"Tumben sekali mereka tidur cepat?"


"Mereka kelelahan seharian main di pantai!"


"Anak-anak ayo makan!" seru Indy, terlihat jelas kebahagiaan yang terpancar di wajah wanita paruh baya itu. Indy dan Ega begitu kompak menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Vallen begitu mengagumi kedua mertuanya itu, meski mereka tak lagi muda, namun mereka masih menunjukan kekompakan serta kasih sayang mereka.


"Makan yang banyak Vall," ujar Indy seraya meletakan daging di piring Vallen.


"Terima kasih ma!" ucap Vallen, hatinya selalu terasa hangat saat berada di tengah keluarga Rama. Mereka begitu perduli pada Vallen, membuat wanita hamil itu mulai merasa nyaman dan mulai berpikir tidak rela jika harus berpisah dengan mereka.


Sesekali Rama mencuri pandang ke arah Vallen, dia merasa jika wanita itu tengah menghindarinya. Rama juga tidak mengerti kenapa dia marah melihat Vallen berbicara dengan pria lain. Mungkinkah Rama mulai cemburu?


Setelah makan malam semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Vallen dan Rama tampak begitu canggung saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Kau bisa tidur di kasur, aku akan tidur di sofa," ucap Rama mencoba memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"Tidak Ram, aku bisa tidur di sofa!" tolak Vallen dengan cepat.


"Sofa itu sangat kecil, tidak muat untuk menampung tubuhnya yang gendut!" balas Rama, dia kembali kesal karena Vallen selalu saja menolak niat baiknya.


"Gendut katamu?" protes Vallen tak terima. "Aku bukan gendut Rama!"


"Ya, ya terserah apa katamu. Malam ini aku tidur di sofa!"


"Tidak, aku yang akan tidur di sofa. Kau tidur di ranjang seperti biasa!" ujar Vallen tak mau kalah.


Rama membuang nafas dengan kasar, pria itu berjalan mendekati Vallen dengan tatapan yang sukar di jelaskan. "Aku tidak suka di bantah Vall, kau tidur di kasur malam ini!"


"Aku juga tidak suka di perintah Ram, kau yang tidur di kasur!"


Rama memutar bola matanya jengah, lalu dia kembali menatap Vallen. "Bagaimana kalau kita tidur bersama di sofa sempit itu?"tanyanya dengan senyuman mensyummm.


Vallen menelan ludahnya dengan kasar, sialnya ucapan Rama membuat jantungnya kembali berdebar. "Tidak, terima kasih! Aku akan tidur di ranjang!" putus Vallen.


Rama tersenyum penuh kemenangan, pria itu lalu berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana. "Matikan lampunya Vall. Selamat malam!"


Vallen merinding saat Rama mengucapkan selamat malam untuknya, hari ini Rama benar-benar aneh dan itu mengganggu Vallen.


Hari kedua di Bali, Vallen masih betah bermain-main di pantai. Kali ini dia bersama si kembar Nick dan Nicho. Mereka bermain air dan membuat istana pasir di pinggir pantai. Vallen duduk sambil mengamati kedua bocah itu membangun istana pasir.


"Aku tidak mau main lagi!" ujar Nicho kesal, bocah itu lalu menghancurkan istana pasir miliknya. "Aunty, ayo kita main yang lain," ajak Nicho.


"Kau ingin main apa Nicho?" tanya Vallen seraya mengusap rambut Nicho.


"Bagaimana dengan sepak bola?" ucap Nicho dengan wajah menggemaskan.


"Dasar bodoh. Aunty sedang mengandung, ibu hamil tidak boleh bermain sepak bola," sahut Nick seraya menatap adik kembarnya. Sejak kecil Nick memang memiliki sikap yang begitu dewasa, sangat berbeda dengan Nicho yang kekanakan dan manja.


"Menyebalkan!" Nicho kesal dan berlari pulang ke villa, di tengah jalan Nicho tak sengaja menabrak seseorang dan terjatuh. Melihat hal itu Vallen segera menghampiri Nicho.


"Are you okay?" tanya seorang pria yang di tabrak oleh Nicho.


"Nicho, kau baik-baik saja kan?" ujarr Vallen dengan cemas. Dia lalu membantu Nicho berdiri.


"Vallen!"


Vallen menoleh saat namanya di panggil, wanita hamil itu terkejut melihat Marco. "Marco, kau masih di sini?" tanya Vallen sekedar basa-basi.


"Hem, lusa aku baru pulang. Bagaimana denganmu?" jawab Marco sambil tersenyum.


"Aku mungkin masih beberapa hari lagi di sini!"


"Oh. Ah ya, siapa bocah menggemaskan ini?" tanya Marco sambil mengusap kepala Nicho.


"Dia keponakanku!"


"Ah begitu. Dia sangat imut!"


"Marco, maaf ya, aku harus membawanya pulang!" pamit Vallen karena merasa tak nyaman dengan tatapan Marco.


"Vall, apa kau ada waktu nanti sore?" ujar Marco menahan kepergian Vallen.


"Kenapa?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam!"


"Aunty sibuk!" sahut Nick yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


Marco menatap kedua bocah itu secara bergantian. "Apa mereka kembar?" tanya Marco penasaran.


A"Ya kami kembar aku akan adalah kakaknya!" jawab Nick layaknya seorang yang sudah dewasa. "Ayo kita pulang aunty!" ajak Nick seraya menarik tangan Vallen.


"Aku permisi ya," pamit Vallen lagi, kemudian dia dan kedua keponakannya pulang ke villa..


"Padahal aku hanya ingin mengajakmu makan malam Vall," gumam Marco dengan wajah kecewa.


Sementara itu, Rama mengepalkan kedua tangannya melihat Vallen kembali bertemu dengan Marco. Rama sangat kesal karena Vallen selalu tersenyum lebar saat bersama dengan Marco. Setelah Vallen sampai di villa, Rama segera menarik tangan Vallen dan membawanya ke kamar..


"Lepas Ram," ucap Vallen seraya menepis tangan Rama. "Tanganku sakit!"


Rama melepaskan tangan Vallen dan menatap istrinya dengan kesal. "Kau bertemu dengan pria itu lagi?" tanyanya dengan nafas memburu..


"Pria mana yang kau maksud?" tanya Vallen tak mengerti.


"Ck, tidak usah bohong. Aku melihatmu bersama teman SMP mu lagi!"


"Oh Marco. Ya, aku tidak sengaja bertemu dengannya!" jawab Vallen apa adanya.


"Kau terlihat sangat senang. Apa dia mengajakmu makan malam?"


"Ya, bagaimana kau tau?"


Rama mengepalkan kedua tangannya, padahal dia hanya asal tebak saja. "Ck, kau yakin tidak memiliki hubungan dangan pria itu? Aku harap kau bisa menahan diri Vall, kau masih menjadi istriku sekarang!"


"Aku benar-benar tidak tau apa maksudmu Ram. Aku dan Marco hanya kebetulan bertemu. Aku juga menolak ajakan makan malamnya. Ada apa denganmu? Dua hari ini kau sangat aneh? Apa kau cemburu?"


"Ya, aku cemburu. Kau puas!"


BERSAMBUNG...