ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
EXTRA PART



Dua bulan berlalu begitu cepat, Vallen kini mulai terbiasa menjadi seorang ibu dan tidak kewalahan lagi merawat baby Zilla yang semakin menggemaskan.


Dua bulan setelah kepergian Feli, Vallen memutuskan untuk mengikhlaskan segalanya. Tak ada lagi dendam yang tersisa di hatinya dan dia merasa hidupnya menjadi lebih damai. Apalagi kini dia memiliki suami dan keluarga yang menyayanginya.


Setelah cuti beberapa waktu, Rama sudah kembali bekerja. Meski sibuk dengan pekerjaannya, Rama berusaha menyisihkan waktu untuk keluarga kecilnya. Seperti hari ini, Rama sengaja pulang lebih awal karena beberapa hari terakhir dia tidak sempat bermain dengan putrinya.


Rama masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati, dia tersenyum melihat Vallen sedang menimang putri mereka. Rama melangkahkan kakinya dengan pelan, dia lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Rama, kau mengagetkanku!" ucap Vallen sambil berbisik, dia tak mau membangunkan Zilla yang baru saja tidur. "Tumben pulang cepat?"


"Aku merindukan kalian!" bisik Rama tepat di telinga Vallen.


"Merindukanku atau Zilla?" goda Vallen seraya tersenyum.


"Kau menggodaku ya?" tanya Rama seraya mengecup pundak sang istri.


"Geli Ram," Vallen meremang karena ulah nakal Rama. "Cepat mandi. Aku akan menyiapkan makanan untukmu!"


"Baik sayangku!" lagi-lagi Rama mengecup pundak Vallen sebelum dia pergi ke kamar mandi.


Vallen terkekeh, dia lalu menidurkan Zilla di dalam bok bayi. Vallen lalu turun ke dapur dan mengambilkan makanan untuk suaminya.


Setelah mandi, Rama makan di temani Vallen. Sesekali Rama memaksa Vallen membuka mulut dan Rama menyuapkan makanan ke mulut Vallen.


"Ibu menyusui harus banyak makan sayang," ucap Rama saat Vallen menolak di suapi.


"Aku sudah makan Ram. Aku tidak mau gemuk!"


"Biarpun kau gemuk aku tetap cinta!"


"Gombal!" ujar Vallen seraya mencubit manja perut Rama.


"Aku serius!"


"Cepat habiskan makananmu!"


Semenjak Vallen kembali, nafsu makan Rama kembali normal. Pria itu kembali terlihat segar dan lebih banyak tersenyum. Setelah makan, Rama duduk di atas ranjang sambil memeriksa beberapa pekerjaannya. Vallen lalu menyusul Rama ke atas tempat tidur.


"Kerjakan besok lagi Ram, kau harus istirahat!" ucap Vallen cemas, semenjak kembali bekerja Rama selalu sibuk dan kurang tidur.


"Ini sudah selesai!" Rama lalu menutup laptopnya dan menyimpannya di atas nakas. Dia lalu menatap sang istri dengan tatapan penuh arti. "Zilla sudah tidur. Mama dan Zea juga sedang makan malam di luar, lalu apa yang harus kita lakukan sayang?"


"Tidur Ram, aku lelah!"


"Terus mau ngapain?"


"Sudah 2 bulan sejak Zilla lahir, aku merindukanmu!" ucap Rama seraya mengerlingkan matanya.


Vallen tersenyum karena mengerti maksud sang suami. Meski Vallen lelah karena seharian menjaga Zilla, namun dia juga tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Aku juga merindukanmu!" jawab Vallen malu-malu.


Rama tersenyum senang, setelah sekian lama akhirnya dia akan berbuka puasa. Rama tak ingin membuang waktu, dia menarik tengkuk Vallen dan mencium bibir Vallen dengan lembut. Kerinduan yang mendalam membuat keduanya larut dalam permainan lidah yang menimbulkan suara decapan.


Dan entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos. Melihat bekas jahitan di perut Vallen membuat Rama semakin menyayangi dan menghargai istrinya. Rama mencium bekas jahitan di perut Vallen sebagai tanda rasa terima kasihnya karena Vallen telah berkorban demi melahirkan anak mereka.


"Aku mencintaimu Vall," ucap Rama mesra.


"Aku mencintaimu Rama!"


Keduanya lalu melakukan penyatuan. Mereka sama-sama larut dalam permainan panas yang telah lama mereka rindukan. Suara desaaahan mereka terdengar tertahan karena tak ingin membangunkan sang putri. Setelah beberapa saat keduanya sampai di puncak kenikmatan.


"Terima kasih sayang," ucap Rama seraya mengecup kening Vallen.


"Sama-sama Ram!"


"Oh ya, aku memiliki hadiah untukmu!"


"Apa itu?"


Rama meraih laptopnya,.dia lalu membuak email milik Vallen dan menunjukan sesuatu pada istrinya.


"Kejarlah mimpimu, aku akan mendukungmu!"


Vallen membekap mulutnya tak percaya, dia tak menyangka Rama telah mengaktivkan status mahasiswinya di luar negeri padahal sudah hampir dua semester Vallen cuti tanpa lapor. Rama juga sudah menyelesaikan semua administrasinya sehingga semester depan yang artinya satu bulan lagi Vallen sudah bisa kembali kuliah.


"Tapi bagaimana dangan Zilla. Butuh waktu satu tahun sampai aku lulus Ram!" Vallen merasa dilema, di sisi lain dia ingin merampungkan studinya namun dia juga tidak mungkin meninggalkan Zilla.


"Aku dan Zilla akan ikut bersamamu. Aku juga mendapatkan pekerjaan di sana. Kita akan tinggal di luar negeri sampai kau lulus! Aku ingin kau mengejar mimpimu Vall. Maaf karena pertemuan kita membuat mimpimu tertunda!"


Vallen tak bisa menahan air matanya. Dia begitu terharu karena Rama sangat memperdulikannya. "Terima kasih banyak Ram. Aku tidak tau harus membalas kebaikanmu dengan cara apa?"


"Cukup cintai aku selamanya Vall!"


Vallen mengangguk, dia lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Aku sangat mencintaimu Rama!"