ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR

ONE NIGHT STAND WITH DOCTOR
Periksa kandungan



Memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang sangat berbeda, meski Vallen memutuskan untuk memaafkan Felisya, namun dia tidak bisa melupakan apa yang telah Felisya perbuat pada kakaknya, meski Felisya melakukannya karena tidak sengaja namun tetap saja Felisya salah karena berniat mencelakai orang lain. Vallen memilih untuk tidak menemui Felisya sampai dia bisa melupakan semuanya, dan dia tidak yakin kapan waktunya.


Tak terasa kandungan Vallen semakin membesar, di usia kandungannya yang memasuki bulan ke lima, Vallen tak lagi merasakan mual, dia juga tak perlu lagi menciumi baju kotor milik Rama.


Pagi ini Vallen ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, dia pergi ke rumah sakit bersama Rama karena Rama juga akan bekerja. Meski hampir lima bulan hidup bersama, namun hubungan keduanya tak ada kemajuan sedikitpun. Rama masih belum bisa menerima Vallen begitupun sebaliknya. Namun kabar baiknya adalah, Rama sudah tak sekejam dulu. Pria itu juga mulai menaruh perhatian kecil pada Vallen meski Vallen sendiri tak menyadarinya.


"Terima kasih tumpangannya," ucap Vallen setibanya mereka di rumah sakit, dia lalu turun dari mobil dan segera pergi ke ruangan dokter.


Melihat perut Vallen yang mulai membesar Rama sedikit iba, pria itu menyusul Vallen dan memutuskan untuk menemani Vallen memeriksakan kandungannya.


"Ada apa Ram?" tanya Vallen dengan tatapan penuh tanya.


"Aku akan menemanimu!" jawab Rama datar.


"Bukannya kau harus bekerja?"


"Aku cuti!"


Vallen begitu bahagia, namun dia menyimpannya di dalam hati. Dia sungguh senang Rama mau menemaninya. Akhir-akhir ini dia ingin sekali di perhatikan oleh Rama, mungkin karena bawaan bayi.


Mereka sudah berada di dalam ruangan dokter, Vallen sudah berbaring di atas brankar dan dokter mulai memeriksa kandungan Vallen. Dokter menempelkan tranducer di perut Vallen dan menggerakannya ke semua bagian perut. Sementara itu Rama fokus menatap layar monitor di mana dia bisa melihat bayinya.


"Bayinya sehat, berat badan dan panjang tubuhnya juga sesuai dengan usianya. Dokter Rama bisa lihat ini, ini jenis kelaminnya," ucap dokter tersebut seraya menunjukan jenis kelamin bayi mereka.


"Dia perempuan?" Rama menatap dokter untuk memastikan jawabannya.


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum. "Ya, bayinya perempuan. Selamat ya dok!"


Tanpa Rama sadari, dia tersenyum senang. Untuk yang pertama kalinya Vallen melihat senyuman Rama. Pria dingin itu terlihat begitu mempesona jika tersenyum. Rama segera menarik senyumnya saat menyadari Vallen sedang memperhatikannya. Setelah pemeriksaan selesai mereka keluar dari ruangan dokter.


"Aku pulang dulu ya, terima kasih sudah mau menemaniku," pamit Vallen seraya tersenyum.


"Biar aku antar pulang!"


"Kau benar-benar tidak bekerja?"


Rama menggelengkan kepalanya. "Aku cuti hari ini. Ayo cepat!"


Hari ini Vallen sangat senang karena Rama memperdulikannya. Selama perjalanan pulang, Vallen terus memperhatikan foto hasil USG, dia mengusap lembut potret bayinya yang masih berada di dalam perut. "Hidungnya sangat mirip denganmu Ram," ucap Vallen tanpa sadar, namun dia segera membungkam mulutnya saat mendapat lirikan sinis dari Rama.


Vallen lalu menyimpan hasil USG nya di tas, dia lalu menatap ke luar jendela dan menikmati pemandangan kota yang tak terlalu ramai. Tak sengaja Vallen melihat penjual permen kapas di pinggir jalan, tiba-tiba dia menginginkan permen itu. Vallen menelan ludahnya berulang kali, dia sudah membayangkan saat permen kapan itu meleleh di mulutnya.


"Ram, boleh aku beli permen kapan?" tanya Vallen karena dia benar-benar sangat menginginkannya.


"Tidak!"


"Tolong Ram, aku sangat menginginkannya!" pinta Vallen dengan wajah memohon.


"Kau bisa batuk nanti!"


"Aku hanya mencicipinya sediki. Memangnya kau mau anakmu ileran? Ya meskipun kau tak yakin dia anakmu, tapi setelah lahir nanti dia akan bersamamu kan? Kalau dia ileran memangnya kau tidak malu?"


Vallen lalu keluar dari mobil dan menghampiri penjual permen kapas tersebut. Vallen hanya membeli satu karena tidak mau di marahi oleh Rama. Saat akan kembali ke mobil, Vallen melihat beberapa anak jalanan juga sedang menatap permen kapas itu. Hati Vallen tersentuh, mereka mengingatkannya pada diri sendiri meski Vallen lebih beruntung dari mereka.


Vallen menghampiri anak-anak itu. Mereka tersenyum ramah melihat Vallen. "Kalian mau permen kapas juga?' tanya Vallen dengan lembut.


"Mau kak, tapi kami tidak punya uang," jawab salah satu dari mereka.


"Ayo kesana, kakak yang akan membelikannya," ujar Vallen.


"Sungguh kak?"


"Yaa!"


Anak-anak itu berlari dengan tawa bahagia, mereka terlihat sangat senang padahal itu hanya permen kapas.


"Terima kasih banyak kak," ucap mereka bersamaan, suara mereka terdengar sangat tulus.


"Sama-sama. Oh ya, kakak ada sedikit uang untuk membeli makanan," Vallen mengambil beberapa lembar uabg dari dompetnya.


"Tidak usah kak, terima kasih!" tolak mereka dengan sopan.


"Tidak baik menolak rezeki!' Vallen terus memaksa sampai akhrinya mereka mau menerima pemberian Vallen.


"Terima kasih banyak kak!"


"Sana-sama!"


Rama menyusul Vallen karena wanita itu sangat lama. Namun Rama malah melihat pemandangan yang menyentuh hatinya. Rama tak menyangka Vallen memiliki hati yang begitu lembut karena selama ini Vallen tidak pernah memperlihatkannya.


Rama kembali masuk ke dalam mobil sebelum Vallen melihatnya. Tak lama kemudian Vallen masuk sambil membawa permen kapasnya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Rama, dia berpura-pura tidak tau apa yang Vallen lakukan.


"Antri," jawab Vallen bohong. Wanita hamil itu lali segera mencicipi permen kapas yang sejaka tadi membuat air liurnya terus menetes. "Ah, enaknya," ucap Vallen dengan girang, Rama melirik Vallen sekilas dan tanpa Vallen sadari Rama mengangkat sudut bibirnya.


Vallen menghabiskan permen kapas itu tak tersisa, setelah habis dia mulai merasa ngantuk dan tanpa sadar tertidur di dalam mobil.


Rama memarkirkan mobilnya di depan rumah, namun dia membiarkan Vallen tidur karena wanita itu terlihat sangat lelah. Diam-diam Rama memperhatikan wajah Vallen, jika di lihat dari dekat wanita itu terlihat sangat cantik. Mungkin karena badannya mulai berisi, Vallen terlihat lebih segar dari pada saat pertama kali mereka bertemu.


Sudah setengah jam dan Vallen belum juga bangun. karena tidak tiga melihat Vallen tidur di mobil, Rama memutuskan untuk menggendong Vallen keluar dari mobil. Dengan hati-hati Rama mengeluarkan tubuh Vallen dan menggendongnya ke kamar mereka. Indy dan Zea yang melihat hal itu saling melempar senyum, mereka berharap hubungan mereka berjalan dengan lancar.


Rama membaringkan tubuh Vallen di atas tempat tidurnya, kali ini dia akan meminjamkan ranjangnya untuk Vallen. Saat akan menarik tangannya yang berada di bawah kepala Vallen, tiba-tiba wanita itu malah memeluk lehernya dan sedikit menariknya sehingga wajah mereka begitu dekat, saking dekatnya Rama bisa merasakan nafas hangat Vallen.


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba jantung Rama berdebar-debar. Dia mulai merasakan gelenyar aneh di tubuhnya. Tanpa sadar Rama menatap bibir Vallen yang begitu ranum, tiba-tiba Rama mengingat kembali malam panas mereka beberapa bulan yang lalu.


Rama segera menarik pandangannya sebelum dia semakin memikirkan yang aneh-aneh, dia juga melepaskan tangan Vallen yang merangkul lehernya dan segera menjauh.


"Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba mengingat kejadian malam itu?" tanya Rama pada dirinya sendiri. Malam itu mereka memang melakukannya secara tidak sadar, namun beberapa bulan terkahir Rama mulai mengingat kejadian itu dengan jelas, dia bahkan mengingat noda merah di sprei kamar hotel dan mulai percaya jika Vallen benar-benar mengandung anaknya.


BERSAMBUNG...