One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
eighth



Calista menatap dirinya ke luar Jendela di kamarnya. Pikirannya jauh melayang memikirkan Sean yang telah melukainya. Sudah 5 bulan Calista bertahan, luka yang di buat Sean juga sudah mengering. Tapi tidak dengan hatinya.


" Sebegitu mudahnya kah Sean." Air matanya luruh bersama kesedihan yang tak bisa di tampungnya lagi hingga membuat dirinya terisak. Setelah kejadian Sean yang menggoreskan belati, hingga kini Calista tidak pernah lagi melihat wajah yang menatapnya elang itu. apakah Calista sedang merindu?


tangannya bergerak mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.


beberapa bulan mampu membuat pertahanannya di uji. Max membiarkannya pergi dari kediaman Sean atas perintah Sean sendiri. Perusahaan Smith kembali membaik, dan hingga kini orang tuanya belum mengetahui tentang kehamilannya. Bukankah itu hal yang baik tapi kenapa Calista sedih.


" Sayang buka pintunya ada yang ingin bertemu." Suara nyonya Smith yang mengetuk pintu membuat Calista kaget dan mengelap air matanya.


" Tunggu mom, sebentar lagi Calista keluar." Calista memperbaiki penampilannya di cermin dan memakai Switer oversize untuk menutupi kehamilannya. Bukan ingin terus menyembunyikannya, hanya saja Calista belum siap jika harus menjelaskan semua kepada orangtuanya.


dengan langkah santai dan make up tipis Calista menuruni tangga satu per satu. Hal itu saja sudah mampu membuatnya sedikit kelelahan.


" Juan, ada apa kau ke sini." Kini Calista duduk di sofa dan menatap lelaki itu tajam.


" Maafkan aku Calista, ada yang ingin aku bicarakan." Wajah Juan kini terlihat sendu dengan kantung mata yang tercetak jelas.


" Wah nak Juan, ini minumannya." Nyonya Smith menaruh Sirup Jeruk di atas meja dengan senyum yang terus merekah.


" Terima kasih Nyonya, suatu kehormatan ketika nyonya Smith sendiri yang membuatkan saya minum, maaf saya merepotkan anda." Juan kini tersenyum ke arah nyonya Smith.


" Tidak apa-apa Juan, apakah kau bisa mengajak Calista ku jalan-jalan, sudah lama sekali dirinya mengurung diri di kamar." wajah Nyonya Smith kini terlihat sedih memandang Calista.


" Tidak perlu mom, aku ingin di rumah saja." Calista menolak dengan menatap Juan tak suka.


" Ayolah Calista untuk kali ini biarkanlah Juan mengajakmu jalan-jalan, mom hanya percaya dengan dia. Dady dan Edward sedang berada di luar negeri mereka tidak bisa mengajakmu jalan-jalan." Nyonya Smith mengambil tempat di sebelah Calista dan memegang tangan Calista yang sangat putih


" Baiklah untuk kali ini saja." Calista tak sanggup melihat nyonya Smith bersedih jika dia harus mempertahankan egoisme nya sendiri.


" Terima kasih sayang sudah mengikuti kata-kata mom." Nyonya Smith mencium lekat kening Calista.


...***...


Calista dan Juan kini berada di sebuah taman permainan. Tak hentinya Juan memperlihatkan senyumnya ke arah Calista yang datar.


" Calista bukankah kau suka permainan roller coaster." Kini Juan menggenggam tangan Calista.


" Sekarang tidak." Calista menjawab dingin membuat Juan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Calista ku mohon berhentilah bersifat dingin padaku. Aku tau diriku salah." Juan mengelus tangan kanan Calista namun tak di hiraukan oleh wanita itu.


" Aku sungguh mencintaimu tidak mungkin bisa aku menduakan mu, ada alasan tertentu aku melakukan hal itu Calista." Ucap Juan yang suaranya mulai gemetar. untuk pertama kali Calista menatap lekat wajah Juan di hadapannya. Kantung mata yang tercetak jelas, wajah yang terlihat sangat lesu dan lelah, mata sayu yang kini meneteskan air mata membuat Calista tak tega. Juan memang pernah ada di hidupnya di bagian terpenting, ada keraguan dalam diri Calista ketika melihat pengkhianatan Juan seakan tak percaya namun nyata.


" Aku terpaksa mengkhianatimu." lirih Juan dalam tangisnya membuat Calista terkejut dengan mata membola.


Calista Syok dan menghirup dalam-dalam udara di taman seakan oksigen di bumi akan menghilang, kenapa Deborah tidak pernah mengatakan apapun padanya, bukankah Calista adalah sahabatnya


" Lalu dimana Deborah sekarang?" Calista beralih menatap serius wajah Juan.


" Meninggal." seakan pertahanan Calista runtuh,


dirinya terduduk di rumputan taman.


" Deborah maafkan aku.." Lirihnya di antara isak tangisnya. Jika Calista tau sebenarnya, dia tidak akan keras kepala dan menjauhi Deborah yang selalu berusaha mendekatinya.


" Tenanglah Calista." Kini Juan memegang kedua bahu Calista dan langsung memeluknya erat, mengelus kepala wanita yang sangat di cintainya itu.


...***...


setelah beberapa jam Calista dan Juan mengutarakan semuanya akhirnya Juan mengajak Calista untuk pergi ke restoran ternama di kawasan Elite.


baru saja kaki Calista menginjak restoran itu, terlihat Sean yang berdiri bersama seorang wanita cantik dengan dress merah, lelaki itu melewatinya begitu saja keluar dari Restoran dan menaiki mobil sportnya.


Hati Calista bagai teriris belati, sekuat tenaga dirinya menahan tangis tapi akhirnya tangis itu pecah dan membuatnya terisak. Juan yang mulai kebingungan dengan tingkah Calista langsung memeluknya dan mengajaknya duduk di sofa restoran.


" Ada apa baby." Juan menghapus air mata Calista membuat Calista kini menatapnya lekat.


" Tidak apa-apa hanya saja aku teringat Deborah, dulu aku harus memaksanya untuk bisa ke restoran ini." Calista kini menghapus sisa jejak air matanya dan menatap lurus ke depan. pikirannya jauh ke arah Sean, bagaimana bisa lelaki itu bersama wanita lain ketika anaknya berkembang di rahimnya. Calista harus meminta pertanggungjawaban Sean secepatnya. Ini adalah kesalahan mereka berdua bukan hanya kesalahan Calista, lalu kenapa Calista yang harus menanggungnya sendiri.


" Baby apa kau mau makan sea food." Kini Juan membolak-balikkan menu di tangannya namun tak di balas oleh Calista.


" Calista." Juan bersuara tegas dan kesal membuat Calista terperanjat kaget dan menatapnya bertanya.


" kau mengabaikan ku." Juan mencoba tersenyum di depan Calista.


" Maafkan aku, aku tidak fokus." Kini Calista mengambil menu yang ada di tangan Juan dan membukanya.


" Aku ingin gurita bakar." Calista bersuara yang di balas anggukan dari Juan. Setidaknya Calista tidak sedingin es padanya. Es itu telah sedikit mencair dan itu kesempatan untuk Juan agar bisa mengambil alih cinta Calista kembali.


komennya nih, komennya jangan lupa🥰 dukungannya juga yaa🤗


apalah jadinya author tanpa para readers seperti kalian 🤗


1 dukungan kalian sudah bikin thor jadi tambah semangat nulisnya🥰


cerita author yang ini cuma ada di Noveltoon sama mangotoon yaa🥰


cerita berat yang bakalan nguras pikiran dan perasaan kalian di kedepannya🤗