
Sudah 7 hari Shanum hanya berdiam diri di kamar, lukanya juga sudah mulai mengering tapi tidak dengan luka di hatinya. Dengan teganya Adrian memperlakukannya seperti ini. Demi apapun Shanum tidak tahan berada di samping lelaki itu.
Langkah Shanum pelan menuruni Ranjang dan menyeret kakinya yang belum pulih sepenuhnya untuk berjalan ke arah kaca, bukankah mengakhiri hidup lebih baik sekarang. Dengan keras Shanum melempar Vas bunga ke arah kaca, membuat kaca itu retak dan serpihannya berhamburan di lantai.
Kenop pintu yang bergerak mengalihkan pandangan Shanum ke arah pintu, langkahnya mundur ketakutan, jika Adrian melihatnya sudah di pastikan dia dalam masalah besar sekarang.
" Shanum." Bella menghampiri Shanum dan memeluknya dengan erat, Wajah Bella dan Calista yang berdiri di ambang pintu khawatir membuat Shanum terdiam.
" Maafkan putraku nak." Calista mengambil langkah mendekati Shanum yang terlihat menyedihkan.
Di belakang Calista terlihat sorot mata Sean yang menatapnya tajam.
" Pergilah sebelum Adrian datang." Sean bersuara membuat Calista dan Bella membantu Shanum keluar.
di luar ruangan sudah ada Bodyguard Adrian yang berderet hendak menghalangi mereka.
" Mundur atau mati." Sean membuat para Bodyguard Adrian menunduk patuh ketika pistol di lepaskannya ke arah atas.
Sorot mata Sean semakin tajam ketika salah satu anak buah Sean bertubuh besar berani menghalanginya.
" Maaf tuan, tapi nyonya Shanum harus tetap di kamar." Suara itu benar-benar membuat telinga Calista panas.
Calista dengan cepat mengambil pistol di tas selempang mahalnya, mengarahkan pistol itu ke arah lelaki yang menghalanginya.
Lelaki itu menanggapinya biasa saja membuat Sean yang mengambil alih.
" Bukankah tidak baik sayang menggertak orang lain." Sean maju satu langkah dan menembak lelaki itu tepat di dada kanannya membuat darah juga muncrat ke kemeja Calista. Sedangkan Bella dan Shanum terkejut bukan main.
" Pergilah." Suara Sean, membuat Bella dan Calista menuntun Shanum menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil milik Sean.
" Sekali kalian berani menghalangiku, nyawa kalian taruhannya. " Sean berlalu menyusul mereka.
Calista menangis di dalam mobil, membuat Shanum dan Bella terdiam.
" Aku telah gagal mendidik Adrian." Isaknya semakin keras membuat Sean yang baru memasuki mobil menatapnya sejenak lewat kaca mobil dalam.
" pergilah nak, pergi yang jauh dari Adrian, aku tak ingin kau di siksanya." Calista kini menggenggam erat tangan Shanum.
Shanum tak bisa menahan air matanya, dirinya menangis menatap mata Calista yang menyiratkan perih dan sakit di hatinya.
" Maafkan putraku, hiduplah berbahagia, aku akan membantumu." Calista memeluk Shanum begitupun Bella.
" Maafkan aku Shanum." Bella memeluk Shanum, dia merasa bersalah ketika melihat ulah kakaknya terhadap gadis yang pernah menyelamatkannya dari preman malam di pinggiran gang.
Semuanya telah terencana oleh Sean, Calista dan Bella ketika hendak menemui Shanum. Shanum punya kehidupan dan Adrian tidak punya hak untuk mengekangnya di rumah besar itu.
Identitas palsu, kepergian Shanum, dan dana yang di berikan kepada Shanum di harapkan Calista menjadi awal mula kehidupan Shanum yang lebih baik.
Lalu bagaimana dengan Adrian? Apakah Calista tega membiarkan anaknya sendiri kehilangan gadis yang di cintainya.
Calista menutup pelan matanya sebelum akhirnya Mobil berhenti di bandara pribadi milik Sean.
...****************...
" Katakan, siapa yang membuat kekacauan ini." Sorot mata Adrian tajam, tangannya menarik kerah salah satu bodyguard nya.
Semua bungkam tak ada yang bersuara membuat Adrian memukul lelaki di depannya dengan membabi buta.
Langkah Adrian cepat berjalan ke arah ruang kerjanya, melihat ke arah monitor CCTV.
Tangannya cekatan membuka 1 demi 1 CCTV di ruangannya.
" Sial." tangannya mengepal erat ketika melihat Ayahnya dalang semua ini. Sean bermain-main dengan Adrian, walaupun Adrian sudah pernah memperingatkannya
Adrian menghambur berkas-berkas yang ada di mejanya. langkahnya keluar ruangan melewati bodyguard yang sedari tadi terdiam ketakutan.
...****************...
"Sean kau melewati batasanmu." Mulut Adrian terus saja berteriak, walaupun tangannya di tahan oleh 2 orang pengawal karena memberontak dan semakin menjadi setelah membunuh 2 orang pengawal Sean.
Sean menatap Adrian datar, Sedangkan Bella yang ketakutan memeluk Calista erat, Isaknya semakin kencang, baru Kali ini dia melihat kakaknya beringas seperti ini. Ini sisi Adrian yang baru di ketahui Bella.
" Adrian hentikan." Teriakan Calista tetap tidak di hiraukan. Instruksi tangan Sean kepada anak buahnya untuk melepaskan Adrian membuat Adrian sedikit lebih tenang.
" Sean kau melewati batasmu." Sorot mata Adrian tajam menatap ke arah mata Sean.
" Jaga sopan santun mu Adrian." Teriak Calista tak di hiraukan Adrian, matanya masih menatap benci ke arah Sean.
" Kau tidak bisa mengurung wanita itu." Ucapan Sean membuat Adrian menodongkan pistol ke arahnya begitupun Sean yang mulai mengangkat pistolnya. kedua sorot mata tajam itu beradu tatap, tak ada yang mau mengalah baik itu Sean ataupun Adrian membuat Calista Frustasi.
" Hentikan." Teriak Calista dengan Isak tangis tetap di abaikan oleh mereka. Sedangkan Bella masih memeluk Ibunya, wajahnya bersembunyi di punggung Calista, tangannya menggenggam erat baju Calista.
" beritahu aku." Adrian masih fokus ke arah Sean.
" Dia bebas." Sean kini mengarahkan fokus pistolnya ke arah Adrian.
" Caramu salah." Lanjut Sean membuat Adrian semakin murka.
" Apa peduli mu." Adrian kini tersenyum kecut ke arah Sean.
peluru benar-benar lepas dari kedua lelaki itu. Tembakannya nyaring hingga membuat Calista menutup kedua telinganya.
Melihat Sean yang bersimbah darah di bahunya. Dan Adrian yang terkena peluru di perutnya.
Calista dan bella menyaksikan kedua lelaki yang di sayanginya kini terluka.
" Hentikan Sean" Calista menghadang Sean yang masih hendak menembak Adrian. Air mata Calista semakin membuat Sean terluka. Harusnya Sean benar-benar membunuh Adrian saat bayi, agar tidak menjadi penghalang untuknya seperti ini.
Tubuh Adrian jatuh di belakang Calista, darah telah keluar dari mulutnya. Membuat Bella berteriak kencang. Calista berbalik dan membantu Adrian.
" Tolong bantu anakku." Semua pengawal diam tak ada yang bergerak mendengar perintah Calista.
" apa kalian semua tuli." Kini suara teriakan Bella yang juga tak di hiraukan mereka.
" Sean bantu anakku." Calista berlari ke depan Sean yang memegangi bahunya.
" Kumohon." Isak Calista berlutut di depan Sean membuat Bella tak kuasa.
" Selamatkan dia." Sean berlalu di papah oleh 2 bodyguardnya yang datang meninggalkan Calista yang masih berlutut di hadapannya.
Calista menghampiri Adrian yang mulai di papah oleh 2 bodyguard Sean.