
" Aku ulangi apa kau ingin aku menikahi mu?" Sean kini menatap tajam mata Calista.
" Aku hanya akan menikah dengan pria yang aku cintai!" Calista kini menatap mata Sean yang memperhatikannya sejak tadi, matanya masih menyimpan amarah kepada lelaki di hadapannya.
" Maka kuberi kau waktu 1 minggu untuk mencintaiku." ucap Sean yang kini menatap dalam ke mata Calista.
"Dan aku tidak akan pernah mencintaimu Sean yang brengsek." Calista penuh penekanan di akhir katanya membuat Sean menyunggingkan senyumnya.
" Kita lihat saja nanti." Sean kembali dengan ekspresi datarnya dan kini hendak mencium bibir Calista namun langsung di hindari Calista hingga bibir Sean menempel di pipi kanan Calista.
...***...
"Ada apa tuan memanggil saya, ada yang bisa saya bantu?" Kini Max berdiri di dekat Sean yang bersandar di kursi ruang kerja khusus di rumahnya.
" Max apa yang kau lakukan untuk membuat wanita mu bahagia?" jari-jari Sean kini bermain mengetuk meja kerjanya sendiri. Max yang mendengarnya langsung membulatkan matanya tak percaya.
" Maaf Tuan aku tidak memiliki kekasih, tapi yang kutahu perempuan itu suka dengan hal romantis." Max mencoba mengingat apa yang pernah di bacanya di sebuah artikel.
" Contohnya makan malam berdua." Lanjut Max kini menatap Sean yang mulai berpikir.
" Aku pernah mendengar nyonya Calista berbicara pada pelayan bahwa dia sangat ingin ke pantai." Max kini menimpali Sean dengan perkataannya membuat kepala Sean harus berfikir keras untuk menyusun rencana dan keselamatan.
" Baiklah maka kau harus buatkan aku dinner romantis di pinggir pantai bersama Calista besok malam" Ucap Sean menatap Max membuat Max menelan ludahnya seketika.
" Baik tuan." Max langsung berlalu waktu Sean menyuruhnya ke luar dengan instruksi tangannya.
Mengapa harus dirinya. Max bergumam tak jelas sambil berjalan ke tempat anak buahnya berkumpul. Jangankan mempersiapkan makan romantis makan berdua wanita saja Max belum pernah merasakannya.
Max membuka ponselnya lagi-lagi dirinya berdengus kesal ketika mendapatkan pesan dari Sean bahwa harus dirinya sendiri yang mengurus rencana itu.
...***...
" Calista persiapkan dirimu nanti malam." Sean memberikan paper bag ke arah Calista yang kini membaca buku keadaanya sudah mulai membaik dam infusnya sekarang sudah di lepas setelah 5 hari lamanya Sean terus mempedulikan kesehatan wanita itu hingga sekarang.
" Aku akan mengajakmu keluar." lanjut Sean yang kini duduk di pinggiran ranjang memperhatikan Calista yang memilih tak memperdulikan Sean.
" Seharusnya aku menyuruh pelayan untuk membakar buku ini." Sean mengambil buku dari tangan Calista membuat wanita itu menatapnya tak suka.
" Aku tidak mau pergi." Calista kini merebahkan tubuhnya ke ranjang berpura-pura tidur untuk menghindari pembicaraan dengan Sean.
Sean yang merasa di abaikan kini meniup pelan telinga kanan Calista dan mencium leher wanita itu membuat Calista terusik, tangan Sean tidak diam bergerak mengelus perutnya yang besar.
" Sean hentikan." Calista membuka matanya dan mendorong jauh Sean namun Sean hanya menampilkan wajah datarnya dan menatap Calista yang kini wajahnya terlihat marah.
" Permisi tuan waktunya nyonya Calista makan siang." Seorang perawat yang membawa nampan berdiri di dekat Sean.
" Letakkan di atas meja." Sean menampilkan wajah datarnya kembali.
" Baik Tuan." Perawat itu langsung keluar dari Kamar Sean setelah meletakkan nampan makanan di atas meja. Sedang Sean kini berjalan mengambil nampan itu dan membawanya ke dekat Calista.
" Aku akan menyuapi mu sayang" Sean menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Calista.
" Aku bisa makan sendiri." Calista menolaknya membuat mata elang itu kini menyipit.
" Makan dengan sendok atau aku harus menggunakan mulutku." Sean menuntut mau tidak mau Calista kini menerima suapan yang di sodorkan Sean.
" Setelah makan apa kau ingin jalan-jalan melihat taman di rumahku." Seketika mata Calista berbinar senang. Calista benar-benar bosan, makan tidur dan membaca itu saja kegiatannya selama 5 hari ini, handphonenya di sita oleh Sean dan dirinya belum boleh keluar kamar.
" Aku bosan di sini." Ucap Calista yang kini menerima lagi suapan dari Sean membuat Sean menahan ekspresi senangnya.
" Kalau begitu cepat habiskan makanan ini dan minum vitaminnya." Sean kini memberikan satu sendok lagi makanan.
" Sean makanan ini terlalu banyak, kau tau perawat mu terus memaksaku untuk menghabiskan makanannya setiap hari. Aku sangat benci itu." Calista bercerita mengeluarkan kekesalannya membuat Sean tersenyum. Al hasil Calista terdiam melihat Sean yang tersenyum baru pertama kali dirinya melihat senyum lelaki di hadapannya ini. Apa Calista terpukau? iya untuk beberapa menit setelahnya pikirannya menepis jauh itu dan mengingat bahwa Sean adalah lelaki jahat yang pernah mempermalukannya.
" Apa yang kau bilang Sean 2? apa berarti aku mengandung anak kembar?" Calista lebih terkejut mengetahui fakta itu.
" Jangan bilang kau baru mengetahuinya." Sean kini menatap Calista datar.
" Wah apa kau ada 2 di dalam sini, pantas saja tendangannya terkadang sangat sakit." Ucap Calista yang mengelus perutnya dan tidak mempedulikan Sean yang kini tersenyum.
memang benar Calista baru mengetahuinya karena selama ini Calista belum pernah melakukan USG memastikan kehamilannya ke dokter kandungan dan terakhir kali Dokter Jakson tidak mengatakan bahwa dirinya mengandung anak kembar. Sedangkan Ekspresi Sean tak habis pikir dengan wanitanya kali ini. Selain ceroboh, pelupa, ternyata Calista juga orang yang sangat tidak memperhatikan hal-hal penting termasuk keadaan bayinya di dalam perut.
" Sean." Calista menepis tangan Sean yang kini menahan tangannya matanya terkunci dengan tatapan mata Elang milik Sean.
" Jangan lupa minum vitamin mu." Setelahnya Sean melepaskan tangan Calista dan berlalu ke luar kamar.
...***...
" Bagaimana, apa kau melihat perkembangan kehamilan wanita itu?" seorang Lelaki bersuara di dalam ruangan yang temaram dengan pencahayaan yang kurang. pakaiannya serba hitam dan kepala yang tertutup tudung hoodie yang di kenakan nya.
" Iya tuan, aku selalu mengawasi gerak geriknya dan akan terus mengabarkannya.." lelaki itu kini berdiri menghadap lelaki yang merupakan tuannya tengah duduk di kursi putar kekuasaannya.
" Aku akan Menghancurkan kehidupan keluarga William secepatnya terutama Sean!" Lelaki itu tersenyum penuh misteri bekas jahitan luka di bibirnya menambah kesan misterius di masa lalunya.
" Tentu saja tuan." Lelaki itu ikut tersenyum licik matanya berkilat penuh kebencian terhadap Sean.
......***......
Sean mendorong kursi roda yang diduduki Calista ke kawasan tamannya. meskipun Calista sempat menolak sebelumnya dan hendak berjalan saja, tapi Otoriter Sean sangat berpengaruh di situ.
" Wah, bagus sekali." Mata Calista berbinar cerah, bibirnya tersenyum bahagia hanya melihat tumbuhan- tumbuhan yang indah dan asri di sekelilingnya. Dirinya memejamkan mata dan menghirup dengan rakus udara yang menenangkan di tempatnya sekarang.
Sean yang memperhatikan Calista ikut tersenyum samar dan tak begitu nampak.
" Sean aku ingin bunga itu." Calista menunjuk mawar yang berwarna merah membuat Sean mendorongnya pelan ke arah tumbuhan berduri itu.
" Bolehkah aku memetiknya." Calista menatap Sean bertanya, bukankah harusnya Calista tak usah bertanya lagi karena sebentar lagi dirinya lah yang akan menjadi Nyonya besar di rumah ini.
" Biarkan aku yang memetiknya untukmu." Sean memetik mawar itu dan memberikannya ke arah Calista anggap saja ini salah satu cara yang di lakukan Sean untuk mengambil hati Calista. Menurut artikel yang di bacanya tadi malam, wanita menyukai bunga dan coklat tapi lebih menyukai kepastian. Apakah Calista menyukai jika Sean memastikan menikahinya dalam waktu dekat ini. arggh..lagi-lagi Sean menggelengkan kepalanya tidak bisa Sean harus membuat Calista jatuh cinta dulu padanya lalu melamarnya. Apakah Sean harus melawak dulu untuk menjalankan tips dari google menurut artikel lain yang di bacanya Seorang wanita menyukai lelaki yang humoris, selain bisa di andalkan, bertanggung jawab dan mudah di ajak ngobrol.
" brengsek" Gumam Sean kesal dengan pikirannya sendiri yang di buat pusing oleh tips-tips sampah yang memenuhi otaknya saat ini. Calista yang mendengar kini menatap Sean dengan tatapan anehnya.
" Apa yang terjadi padamu, menggelengkan kepala seperti orang tidak waras." Calista tak me rem ucapannya yang berkata secara sarkastis tanpa takut jika Sean akan terpancing marah kali ini.
" Tidak apa." Sean hanya diam dan menampilkan Ekspresi datarnya. Tubuhnya berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut Calista yang besar.
" Anak-anak Daddy pintar-pintar yaa jangan seperti ibumu yang bodoh dan ceroboh." Ucap Sean yang penuh penekanan di akhir kalimatnya menyindir Calista secara tidak langsung.
...***...
maaf, buat para readers yang sudh nunggu-nunggu cerita ini karena author baru up malam ini🙏 setelah sekian detik, jam dan menit kalian tunggu😂
karena waktu author harus terbagi-bagi dan sekarang lagi sibuk-sibuknya. Tapi author bakalan usahain untuk Up secepatnya buat kalian semua.😘💛
tapi....
Jangan lupa Comment dn Like ny yaa☺️🤗
juga dukungan kalian buat author🤗
ikutin terus cerita One Night Stand With Ceo Arrogant yaa🤗
"