
lelaki itu masih terpejam damai dengan banyaknya Alat kesehatan yang setia menempel di tubuhnya.
"Sudah lama tertidur tidak ada kah niatan untuk bangun sekedar melihat bagaimana kondisi keluarga kecilmu sekarang? Porak poranda bukankah begitu Sean." Fiona tersenyum bahagia mengingat bagaimana kondisi Calista sekarang.
Max yang membatu di belakang Fiona kini mengepalkan tangannya dan menahan diri untuk tidak menampar wanita di depannya yang sangat licik.
" Sayang, kau tak perlu bersusah payah untuk menghancurkan mereka, aku sudah mempermudah mu, bagaimana? apa kau senang?" Fiona tertawa tapi tangannya mengelus lembut pipi Sean yang semakin tirus.
handphone Fiona yang berdering membuat Max tersenyum samar.
" Baik dad aku kesana." Fiona kini menutup telponnya. bibirnya mengecup pipi Sean dan langsung keluar dari ruangan itu.
hanya tersisa Max bersama Sean yang masti terpejam, heningnya ruangan hingga bunyi alat pendeteksi jantung yang mendominasi.
" Tuan maafkan aku, aku tidak bisa menjaga keluarga kecilmu." Max tertunduk di depan Sean dengan penyesalan yang amat mendalam di rasakannya.
" Tapi aku berjanji akan menyatukan kalian kembali, walau nyawaku yang dipertaruhkan." Max kini menatap lekat Sean yang tak berdaya.
...****************...
Calista diam-diam keluar dari ruangannya menggendong boneka yang di peluknya erat.
berpura-pura kehilangan kewarasannya memanglah hal bodoh tapi terpaksa harus Calista lakukan demi mengelabui keluarga Sean.
waktu selama ini cukup membuatnya tidak di kenali dengan kata wanita waras. Calista memelankan langkah ketika melewati pintu belakang rumah sakit.
" kak, lewat sini." Edward yang memakai masker dn topi kini menuntun Calista untuk berlari dan memasuki mobilnya di ujung jalan.
" kak aku merindukanmu." ucap Edward di dalam mobil terlihat matanya yang mulai berair.
" Kau mau jalan, atau aku di tangkap lagi." Sontak perkataan Calista membuat Edward tersadar dan langsung menjalankan mobilnya.
" penampilanmu seperti orang gila sungguhan kak." mendengar Edward membuat Calista ingin sekali menenggelamkan adiknya ke samudera pasifik.
" Bagaimana keadaan anakku." Calista kini menatap serius wajah edward.
" Baik-baik saja." Edward mulai mengemudikan mobilnya.
mereka sampai di gubuk yang jauh dari kata layak. seorang nenek tua menggendong bayi yang berumur beberapa bulan itu.
bulir mata Calista mengalir, dirinya tak sanggup menahan kerinduan, langkahnya mendekat dan terus mendekat hingga bunyi tembakan menyadarkannya untuk mengambil cepat anak nya.
nenek tua itu semakin ketakutan ketika gubuk kecilnya di tembak berkali-kali.
" Max!" Calista terkejut melihat Max yang tiba-tiba masuk dan menutup kembali pintunya.
" Nyonya Calista maafkan saya. ikutlah dengan saya supaya anda dan bayi anda selamat." Max menarik tangan Calista, namun dengan cepat Calista menghempaskannya.
" kau pengkhianat!" Calista kini menatap tajam Max.
Edward hendak memukul Max namun tangannya di tahan oleh Calista.
" kumohon percayalah padaku 1 kali ini saja, untuk menebus semua kesalahanku!" Max menatap serius Calista. sedangkan tembakan itu semakin menjadi membuat nenek tua itu gemetar ketakutan.
" Nak, selamatkan bayimu." nenek tua itu menangis melihat Calista dan bayinya.
" Cepat masuk dan bantu kami." suara Max berbicara dengan anak buahnya lewat Earphone di telinganya.
" Edward bawa nenek ini selamatkan dia ikut bersama anak buahku. Aku dan Nyonya Calista akan lari dari kejaran mereka.
mereka berpencar dengan anak buah Max yang mencoba melindungi.
Ban mobil tertembak membuat Mobil tak seimbang dan Calista mencoba menenangkan bayinya yang di pegangnya erat.
mereka ada di pinggir tebing sekarang, sedang musuh terus saja mengejar.
" Datang ke sini cepat. selamatkan Nyonya Calista dan bayinya!" Max berteriak berbicara dan mendengarkan lewat earphone di telinganya.
" mobil oleng dan max sengaja menabrakan mobilnya ke pohon agar tidak jatuh ke jurang.
Kepala Max berdarah ketika bertubrukan dengan setir. begitupun Calista namun tetap mempertahankan bayinya yang menangis kencang mereka kini di kepung.
langkah mereka di tuntun untuk keluar mobil dan berjalan ke arah pinggir jurang. Helikopter yang semakin mendekat kini mendarat di pinggiran jurang.
" aku perintahkan kalian, lepaskan mereka!" Sean yang turun dari helikopter bersama 1 anak buahnya berteriak kencang, namun di anggap angin lalu oleh mereka semua. perban di kepalanya belum di lepas, pakainannya masih baju rumah sakit. membuat Calista semakin terisak menatapnya. sosok yang sangat di rindukan Calista, dan bayi yang selalu di pikirkannya. dua orang yang sangat di sayanginya kini mereka semua berada di ujung tanduk.
" bunuh mereka semua!" Calista semakin terisak ketika seorang menembak max hingga max memuntahkan darah segar.
Sean tak diam, dia menembak sekitarnya namun kalah cepat dengan mereka yang mengangkat pistol.Calista memeluk erat bayinya dan berlari ke arah Sean yang kini di pinggir jurang. pelukan hangat yang di balas oleh Sean namun sangat menyakitkan bagi Calista melihat darah yang bercucuran dari lengan Sean.
" Se..se..an.. jangan tinggalkan aku." Calista sesegukan memeluk erat tubuh Sean.
Sean tersenyum memeluk erat Calista. bayi itu terus menangis. Calista tidak mau kehilangan keduanya.
" Tembak dia sekarang." perintah itu membuat Sean membalik posisi melindungi Calista dan anaknya. hingga punggung Sean yang tertembak. Berkali-kali tembakan membuat darah keluar dari mulut Sean. Calista semakin panik ketika anak buah nya mendekat dan mendorong Sean ke tanah. menyeretnya ke pinggir tebing.
" Jangan!!" Calista terbangun, nafasnya ngos-ngosan, keringat membasahi wajahnya. matanya masih mencoba merealisasikan dengan keadaan sekitar, di kamar dan semua masoh tersusun rapi, Sean kini menatapnya khawatir.
" Ada apa sayang?" Sean memegang tangan Calista.
" Sean kau masih hidup?" Calista terisak memeluk Sean membuat Sean kebingungan tapi tetap membalas pelukan Calista.
" Bayi kita mana Sean!" Calista semakin terisak membuat Sean mengelus punggungnya yang bergetar hebat itu. Sean peka Calista baru saja mimpi buruk.
" Tenang sayang, bayi kita masih di perutmu." Ucap Sean membuat Calista mendorong Sean dan langsung memegang perutnya.
" Se..se..an kau mati, bayiku di tembak, apa tadi cuma mimpi." Calista terisak kembali menatap Sean.
" sayang, kau hanya mimpi buruk." Sean mencium kening Calista.
" berapa lama aku tidur Sean!" Calista masih saja terisak.
" 26 jam kau tidur tuan putri. apakah kelelahan akibat percintaan kita yang hebat?" Sean tersenyum menatap wajah Calista yang terkejut bukan main dengan kata-kata Sean.
" Brengsek." Calista melempar bantal tepat di wajah Sean yang tersenyum membuat Sean tertawa dengan tingkah Calista.
telpon Sean berbunyi, membuat Sean harus mengangkatnya dengan malas.
" Ada apa Max?" Sean berubah menjadi dingin.
tuan hari ini kita ada meeting dengan investor asing.
" Batalkan meeting itu, aku sibuk Max!" Sean berbicara dari telpon.
mendengar nama Max Membuat Calista langsung merebut ponsel Sean.
" Max kau masih hidup! pengkhianat, Bukankah kau tadi sudah mati Max!" Calista kini terisak kembali ketika Max berbicara dari balik telepon.
Sean semakin terbahak melihat tingkah Calista...