One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
No Escape



Shanum berteriak kencang di depan Adrian. Kesabarannya hilang menghadapi Adrian yang keras kepala. Sudah 7 hari Shanum hanya berdiam di dalam mansion yang besar ini. Di kurung seperti layaknya tahanan.


" Adrian, aku bukan tahanan mu, lepaskan aku!" intonasi nada bicara Shanum sudah tak terkendali, Suaranya yang meninggi membuat Adrian kini maju dan menekan lengan Shanum keras hingga membuat Shanum meringis kesakitan.


" Pelan kan suaramu anjing kecilku." Ucapan Adrian membuat Hati Shanum sangat sakit, air matanya terjatuh ketika tangan kanannya melayangkan tampara ke pipi kiri Adrian.


" Mulutmu tidak terdidik." Ucapan Shanum membuat Adrian kini menatapnya tajam dan mendorong Shanum ke arah ranjang. Tangan kanannya mengeluarkan belati kecil yang membuat Shanum ketakutan. Shanum hendak mundur Tapi Adrian cepat menarik kaki kanannya hingga mata Elang itu bertatapan dengan Shanum.


" Lepaskan aku!" Tegas Shanum dia tak mempedulikan Tatapan Adrian yang berubah tajam seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.


" Kau tak bisa di beri hati." Adrian menggores pelan belati ke kulit paha Shanum hingga darah segar mengucur dan Shanum berteriak kencang.


" Hentikan Adrian." Shanum menahan rasa sakitnya dengan memegang erat kemeja Adria. Air matanya menetes di iringi isak tangis yang semakin kencang.


" Maafkan aku." Shanum bersuara pelan di telinga Adrian membuat Adrian menghentikan aksinya dan kini memeluk Shanum pelan.


" menurut lah." Adrian bersuara dan mengeluarkan ponselnya.


" paman Jakson datanglah ke mansion ku, aku perlu bantuanmu." Adrian bersuara dan langsung menutup telponnya.


dirinya berdiri mengambil Kain kecil dan sebuah cairan di laci kecil meja kamar nya.


Mengusap pelan luka Shanum.


" Kau Jahat adrian." Suara Shanum ringkih dan bergetar di sela isaknya. Dirinya tidak pernah menyangka akan bertemu dengan iblis di dalam diri Adrian. Shanum berteriak kencang membuat Adrian memeluknya.


" Maafkan aku sayang." Suara pelan Adrian kini bergetar dia sangat takut kehilangan Shanum.


Sedangkan Shanum memejamkan matanya, dia sangat marah terhadap Adrian, rasa cintanya kini menjadi benci kepada lelaki di depannya, kata maaf tidak akan pernah menyembuhkan luka yang di buat Adrian.


Mulutnya ingin berkata kasar tapi di redam nya dengan diam. ketakutan terbesarnya Adrian akan berbuat lebih kejam dari ini.


Jakson mengetuk pintu kamar Adrian, Jarang Sekali Anak Sean yang satu ini menghubunginya, Suara dingin Adrian yang mirip Sean mempersilahkan Jakson untuk membuka pintu.


Jakson terkejut ketika melihat seorang gadis yang menangis menahan sakit, terlihat sisa darah yang masih mengalir di paha gadis itu.


Dengan sigap Jakson menghampiri dan mengeluarkan semua peralatannya kesehatannya.


" Apa yang terjadi?" Jakson bersuara namun tak ada niatan Adrian untuk membalasnya.


Sudah di pastikan Adrian telah menyiksa gadis ini.


" Siapa namamu?" Jakson menanyai Gadis yang tangisnya mulai reda. Tangannya mengelap pelan luka Shanum dengan cairan penghilang rasa sakit.


" Shanum." suara Shanum parau dan bergetar membuat Jakson melirik ke arah Adrian yang memperhatikannya.


" Lakukan pekerjaanmu dengan baik." Perintah Adrian membuat Jakson fokus membalut luka Shanum. Sifat Adrian tidak jauh beda dengan Sean. Apakah Jakson bisa berhenti saja jadi dokter keluarga William, tapi ini semua menyangkut masa depan dan jaminan masa tuanya.


Jakson menatap luka Shanum yang sudah di balut nya pelan, dan memberikan beberapa obat penghilang sakit.


" Keluar lah paman Jakson." Jakson beradu tatap dengan mata elang milik Adrian, setidaknya Adrian masih punya sopan santun memanggilnya paman.


Adrian menghampiri Shanum ketika Jakson telah keluar. Tatap matanya datar dan tajam ke arah Shanum. Sedangkan Shanum menatap takut ke arah Adrian.


" Adrian, ku mohon lepaskan aku, aku tidak akan melaporkanmu pada siapapun." Ucapan Shanum membuat Adrian menyunggingkan senyumannya. Bisa-bisanya gadisnya berpikir untuk melaporkannya sedangkan dia yang mempunyai kekuasaan.


Tangan Adrian memperbaiki anak rambut yang menutupi wajah Shanum dan menaruhnya di belakang telinga Shanum.


" Maafkan aku sayang." kecupan pelan di dahi Shanum membuatnya merasa tenang. Berbeda dengan Shanum yang semakin ketakutan kepada Adrian, lelaki itu bisa saja menjadi monster yang sangat menakutkan.


" No escape, honey." Adrian memeluk pelan tubuh Shanum yang bergetar ketakutan. Tapi bukan kehangatan dan ketentraman yang dirasakan Shanum, melainkan rasa was-was dan takut.