
mereka telah selesai jalan-jalan dan terakhir kali Bella kelelahan hingga tertidur di dalam mobil.
" Biarkan aku mengangkat Bella." Kini Arthur turun dari mobilnya dan menggendong Bella yang tertidur pulas.
Sedangkan Calista menggendong Adrian yang ikut juga tertidur pulas di kursi belakang.
" Mom." Suara Adrian yang terusik di tidurnya.
" Tidurlah sayang." Calista mengelus rambut Adrian hingga adrian kembali memejamkan matanya.
" terima kasih Arthur." Calista tersenyum ketika Arthur menurunkan Bella di kamarnya.
" tidak Usah berterima kasih Calista." Arthur tersenyum dan berpamitan untuk pulang.
Calista tersenyum ketika mobil Arthur pergi namun, Calista seketika membeku ketika melihat seorang lelaki bertopi hitam di seberang jalan mengarah ke rumahnya.
dengan cepat Calista menutup pintu. Bayang-bayang Sean masih ada, Calista takut Jika itu adalah Sean William Charles. Calista mengecek semua kunci pintu dan jendela. kakinya melangkah cepat ke arah kamar anak-anaknya.
di lihatnya 2 buah hatinya yang selalu menjadi penenangnya di kalah gundah seperti ini. tangannya mengelus kepala Adrian dan bella bergantian.
" Mom." Adrian tidak benar-benar tidur kini dirinya membuka mata menatap ke arah Calista.
" kau tidak tidur Adrian." Calista mengangkat satu alisnya bertanya kepada Adrian yang kini terduduk dan menatap Bella.
" aku ingin bertanya mom." Adrian kembali menatap Calista dengan serius. Calista terbunuh dengan tatapan anaknya sendiri. Begitu tampan dan lucu anaknya ini.
Calista mengangkat Adrian ke pangkuannya.
" Mom, di mana ayah kami?" Pertanyaan Adrian membuat Calista terdiam dan kehabisan kata. Harusnya dia memikirkan lebih dulu jawaban ini jauh sebelum anak-anaknya berusia 5 th.
" Ayahmu pergi jauh, dia tidak akan kembali." Calista menahan sakit di hatinya ketika menjawab pertanyaan Adrian. Adrian yang paham kondisi ibunya langsung memeluk Calista.
hanya pelukan yang di butuhkan Calista. dirinya berusaha kuat menghapus jejak air mata yang sudah keluar.
" Adrian tidak ngantuk? apa masih ada pertanyaan?" Calista kini menatap mata anaknya yang sama persis dengan Sean.
" Cukup mom, lain kali aku akan bertanya lagi. Sekarang waktunya tidur." Calista tersenyum ketika Adrian mencium pipinya dan merebahkan diri di tempat tidur.
" Good night Sayang." Calista mengecup kening Adrian lama sebelum akhirnya mematikan saklar lampu dan keluar dari kamar anak-anaknya.
dirinya masih harus mempersiapkan baju kerjanya besok dan menyusun makanan yang baru saja di belinya tadi siang.
anaknya selalu saja kelaparan pagi hari, Calista harus gesit agar tidak bangun kesiangan lagi.
setelah semuanya telah selesai, Calista membersihkan dirinya dengan air hangat, jam sudah menunjukkan jam 12 malam. Calista mulai mengantuk dan merebahkan dirinya di sofa ruang tamu, dirinya harus berjaga untuk anak-anaknya.
bell rumah berbunyi membuat Calista membuka matanya berlahan. Seorang itu terus saja membunyikan bell membuat Calista semakin takut dan berlari ke kamar anak-anaknya. di lihatnya Bella dan adrian yang tidak ada di kamar membuat nya semakin cemas.
Calista berbalik dan melihat Sean yang mengarahkan pisau di leher Adrian. di lihatnya Bella yang berlumuran darah di lantai membuatnya menangis histerius.
" Sean, apa yang kau lakukan." Teriak Calista hendak menyelamatkan Adrian namun Sean malah mundur dan siap menancapkan pisau itu kapan saja. tatapan liciknya mengarah kepada Calista yang histeris.
" Jangan, ku mohon jangan." Calista menangis memohon pada Sean.
" Aku kembali Calista!" Sean menyunggingkan senyum liciknya membuat Calista menatapnya marah.
Seorang ibu tidak akan membiarkan anak-anaknya terluka.
" Sean lepaskan kedua anakku, aku akan memberikan apapun padamu, termasuk nyawaku sendiri!" Calista mencoba mendekati Sean berlahan. Di lihatnya Adrian yang mulai menangis membuat Calista merasa takut.
" Jangannn!!!!" Teriak Calista membuat Anak-anaknya terkejut.
Calista spontan bangun dan memeluk kedua anaknya yang ada di depannya.
Calista menangis memeluk kedua anaknya. dirinya tidak akan sanggup hidup tanpa mereka.
" Mom, kenapa menangis?" Adrian polos kini mengelus punggung Calista yang bergetar.
" Mom, mimpi buruk Sayang." Calista menyeka air matanya dan menatap kedua anaknya dengan senyum.
" Bella terkejut, sedari tadi mommy tidur berteriak." Anak perempuan Calista kini mencium pipi Calista lembut.
" Really? Maafkan mommy yaa yang membangunkan kalian." Ucap Calista tersenyum dan menarik Bella dan adrian dalam pelukannya.
sudah jam 05 subuh Calista harus menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dirinya berjalan ke arah dapur di ikuti Bella dan Adrian.
" Mommy hari ini kami ke penitipan anak lagi yaa" Adrian kini duduk di kursi dapur memperhatikan Calista yang sibuk memasak.
" Iya sayang, apakah kalian tidak suka di sana?" Calista kini memotong sayur-sayuran.
" Senang mommy, Bella banyak punya teman baru Di sana." Bella menjawab sambil memainkan Teddy bear yang di beri Arthur.
" Dan kau Adrian?" Kini Calista bertanya kepada anak laki-lakinya, tangannya masih saja memotong sayur wortel menjadi pipih.
" Aku tidak suka." Spontan kata-kata Adrian membuat Calista menghentikan aktifitasnya. Dilihatnya Adrian yang terus memperhatikan pisau yang di pegang Calista.
" Why?" Calista kini menjauhkan pisau dan menatap lekat ke arah Adrian.
" mereka kekanak-kanakan." Ucapan Adrian membuat Calista tersenyum.
" Bukankah kau juga anak-anak kak." Bella yang bersuara membuat Adrian menatapnya tajam. Sedangkan Yang di tatap tajam itu hanya fokus menyisiri teddy bear nya.
" Diam Lah!" Suara Adrian kesal membuat Calista semakin tersenyum.
" Anak Mommy, pulang kerja mom langsung menjemput kalian." Ucap Calista yang mengelus kepala Adrian dan kembali ke aktifitasnya memasak.
...****************...
Calista sesekali termenung menatap monitor di hadapannya. angka-angka seperti tak terhiraukan, begitupun dokumen-dokumen yang masih berhamburan di meja.
ketukan pintu menyadarkannya.
" Masuklah." Calista mulai merapikan dokumen yang berantakan.
" Maaf nyonya Calista, apakah berkas yang di minta Tuan Leon sudah selesai." Seorang karyawan Lelaki kini masuk dan menatap segan ke arah Calista.
" katakan padanya, sore ini akan saya antar ke ruangannya." Ucap Calista membuat lelaki itu mengangguk dan pergi dari ruangan Calista.
Fokus Calista kembali, kini dirinya mulai memperhatikan sederet angka-angka yang ada disalah satu dokumen.
...****************...
Adrian menjauh dari teman-temannya. dirinya duduk di pinggiran taman yang mengarah langsung ke Jalan raya.
" Hai, kenalkan namaku Shanum." anak perempuan seumuran Adrian. Rambutnya berwarna hitam sangat cocok dengan kulitnya berwarna kuning langsat, senyumannya manis dengan lesung pipit di pipi kanannya mengulurkan tangan di depan adrian.
Adrian diam dan hanya menatap uluran tangan anak perempuan itu. Sebelum akhirnya dia bersuara.
" Adrian." Ucap Adrian dingin.
" Adrian William Charless." Suara itu menginstruksi mereka untuk berbalik.
tatapan Adrian tajam ke arah lelaki dewasa itu, sedangkan anak perempuan itu terdiam di depan Adrian.