
Shanum meneguk Wine terakhir di gelas kecilnya tak ada tempat pelarian terbaik sekarang, selain Bar sederhana di ujung kota ini. pakaian minim berwarna merah yang di kenakan nya menjadikan objek tatapan liar bagi lelaki-lelaki yang tengah menikmati alunan musik dengan penuh nafsu.
Shanum berdiri tangannya bertumpu pada meja kecil yang ada di dekatnya menjaga Keseimbangannya tubuhnya yang hampir jatuh.
" dududuudu." Shanum bersenandung pelan. Wine benar benar membuatnya kurang waras sekarang.
" hey baby." lelaki tambun kini menarik tubuh Shanum ke pelukannya, mengunci pergerakan gadis yang tengah memukulnya pelan.
" Ingin bersenang-senang denganku." Lelaki itu menggendong Shanum seperti karung beras di sisi bahu kanannya. Shanum yang mabuk berat hanya bergumam tak jelas.
lelaki itu menghempaskan tubuh Shanum ke sebuah Sofa, tatapannya menatap nafsu ke bagian tubuh Shanum yang terekspos karena Dress mininya.
" Sini sayang." Lelaki itu hendak menaiki tubuh Shanum sebelum peluru tepat mengenai bahunya. Membuat semua orang kini bergidik ngeri ketika mendapati Seorang lelaki tampan yang menembak lelaki tambun yang mencoba menyetubuhi seorang wanita di sofa.
peluru kedua membuat semua orang berlarian keluar Bar. Suasana menjadi riuh dan panik.
Lelaki tampan itu dengan sorot tajam melewati lelaki tambun yang sudah tergeletak tak bernyawa di lantai. Tangannya mengendong kasar Shanum ke pelukannya.
" Adrian." Shanum kini mengelus pipi lelaki itu dengan pelan sebelum akhirnya kesadarannya hilang.
......................
Shanum memegangi kepalanya yang sakit, dan kini berlahan memiringkan tubuhnya, matanya yang terbuka mendapati Adrian yang terpejam di sampingnya. Mimpi Shanum sangat indah, tapi Shanum tak sanggup jika harus memimpikan Adrian yang tak bisa di gapai.
Dengan berlahan Shanum memejamkan kembali matanya berharap dia akan benar-benar terbangun dari mimpinya.
" Astaga, pergilah dari mimpiku." Shanum menutup kembali matanya.
Adrian semakin mempersempit jaraknya dengan Shanum, hingga Shanum bisa merasakan deru nafas Adrian yang mengenai wajahnya.
Shanum membuka lebar matanya, badannya langsung terduduk di ranjang. Dia semakin kaget ketika mendapati Adrian yang menatapnya dingin tanpa ekspresi, berarti ini bukan mimpi, Sedari tadi Adrian memang ada di depannya.
" Kenapa aku..." kalimat Shanum menggantung, dia mencoba mengingat kejadian yang membuat kepalanya berdenyut sakit.
" Tidak usah di pikirkan." Adrian memegang pelan kepala Shanum wajahnya tidak ada menyiratkan perasaan apapun.
" lepas." Shanum menghempas kasar tangan Adrian membuat Adrian menahan emosinya.
" Kau yang pertama kali berani menghempas tanganku." Adrian meninggalkan Shanum sendiri di dalam kamar amarahnya terlihat jelas ketika menutup pintu dengan keras membuat Shanum terkejut dan ketakutan.
Shanum mengedarkan matanya ke sekeliling Ruangan kamar yang di dominasi warna abu-abu ini. Rapi dan Harum tapi sangat menakutkan ketika dirinya hanya seorang diri.
Shanum berlahan turun dari ranjang. Kaki nya melangkah ke sebuah kaca besar yang berada di dekat jendela.
Shanum memperhatikan dirinya yang benar-benar seperti pengemis di pinggiran jalan. dirinya berusaha keras memutar peristiwa yang terjadi hingga membuatnya berada di sini. Tapi yang di ingatnya hanya bagian dimana dia sedang mabuk berat dan di dekap oleh seorang lelaki gendut. Membuat Shanum bergidik ngeri.
" seperti ******." Shanum memegang kepalanya frustasi.Bagaimana bisa Dress ketat yang di pakainya di atas lutut kini robek di pinggirnya juga riasan yang semula rapi kini berantakan bersamaan dengan rambutnya yang kusut.
Benar-benar hal yang memalukan.