
" Maafkan aku" satu kata yang keluar dari Sean membuat Calista tersenyum kecut.
" 5 tahun perjuanganku sendiri, hanya di balas kata maaf, kau sangat Lucu Tuan Sean." Calista kini menatap Sean yang berdiri dengan wajah datar.
" Lalu apa yang kau mau?" Sean kini masih dengan ekspresi datar yang tidak bisa di baca.
" menjauh dariku, biarkan aku hidup dengan tenang bersama Bella dan Adrian." Calista kini memberanikan berdiri dan menatap wajah Sean.
" Tidak bisa." Sean dingin dan memegang bahu Calista.
" Kau gila Sean!" Calista berusaha melepaskan tangan Sean yang semakin mencengkeramnya dengan kuat.
" Iya aku gila karena mu Calista!" Sean kini menarik Calista ke dalam pelukannya.
Calista terdiam, jauh di dalam hatinya, dirinya sangat merindukan lelaki ini, tapi logikanya menolak. Sean adalah racun yang harus dia hindari, di buang dan tidak untuk di harapkan lagi.
Calista menangis sejadi-jadinya, apa yang harus dilakukannya sekarang. tangannya terkepal erat menahan untuk tidak membalas pelukan Sean. hatinya masih sangat sakit untuk bisa menerima lelaki ini lagi.
" Mom.." Teriakan Bella menyadarkan Calista, dengan cepat Calista langsung mendorong Sean.
" Calista berlari keluar kamar dan melihat Bella yang penuh dengan lumpur. Di belakangnya ada 2 pelayan yang membawa handuk dan baju membuat Calista bertanya.
" Ada apa sayang?" Calista langsung memeluk Bella yang menangis, tak di dihiraukannya lagi bajunya yang ikut terkena lumpur karena memeluk Bella.
" Mom, aku jatuh saat bermain di taman, aku mencari mu tidak ada di sana." Bella sesenggukan ketika Calista mengelus punggung Bella dan menggendong Bella dalam pelukannya.
" Berhenti menangis Putriku, Mom di sini sayang." Calista mencium Bella dan menampilkan senyum bahagianya.
" Daddy." Bella beralih meminta gendong kepada Sean yang baru saja muncul dari balik pintu kamarnya.
" ada apa putriku." Sean menerima uluran Bella dan memeluk anak perempuannya ini.
" Aku merindukanmu." Bella bersandar di bahu Sean membuat Calista tak habis pikir.
Semudah itu Bella menerima Sean sebagai ayahnya. Apakah Bella akan tetap menerima Sean jika di kedepannya Bella tau Kelakuan Sean di masa lalu Calista tidak bisa menjamin hal itu.
" Kau harus mandi, jika tidak tubuhmu bisa sakit sayang." ucap Calista yang melihat sekujur tubuh Bella penuh lumpur.
" Mandikan aku Mom." Bella kini tersenyum ke arah Calista.
" Come on sayang." Calista hendak menggendong Bella.
Bella mencium pipi Sean sebelum akhirnya kembali ke gendongan Calista. Ada sesuatu hal yang dirasakan Sean, kehangatan di hatinya. apakah ini yang di namakan keluarga? Sean benar-benar memimpikannya sekarang. Kemeja putihnya kini penuh dengan lumpur seharusnya Sean marah, tapi dia tidak bisa memarahi puteri kesayangannya ini.
Sedangkan Adrian kini telah selesai dengan eksperimennya.
" Paman Max, terima kasih." Adrian kini melepas sarung tangannya yang penuh darah. wajahnya masih saja datar tanpa ekspresi.
" Sama-sama Tuan." Max tersenyum kepada Adrian kecil . Adrian benar- benar memiliki bakat yang jarang di miliki anak- anak lain seusianya. bak buah tidak jauh dari pohonnya. sifat Adrian mirip sekali dengan Sean. kepintaran, wajah, dan lainnya.
Max melihat Adrian adalah duplikat dari Sean. Tokoh utama yang menyumbangkan Sel ****** di dalam rahim Calista sehingga Adrian bisa lahir di dunia.
" Di mana dad dan mom." Kini Adrian bertanya kepada Max yang menatapnya dengan senyuman.
" I don't know, mungkin Tuan dan Nyonya ada di dalam rumah." Ucapan Max berhasil membuat langkah Adrian masuk menuju Rumah besar yang bernuansa putih.
" Adrian sayang." Calista menerima pelukan Adrian yang secara tiba-tiba memeluknya.
" Mom, aku merindukanmu."
Calista tersenyum mendengar perkataan Adrian, sangat tumben sekali Adrian mengungkapkan perasaannya.
" aku juga sayang." Calista mengelus surai rambut Adrian yang sudah mulai panjang.
Calista menahan mual ketika mencium kening Adrian. Bau darah terlalu menyengat di indra penciumannya saat ini.
" Sayang, mandilah. mom perlu bicara padamu setelahnya. " Calista menyuruh pelayan yang ada di belakang untuk mengantarkan Adrian ke kamarnya di rumah Sean.
Adrian kecil dengan wajah dingin dan malas mengikuti pelayan yang sedari tadi menunduk padanya.
" Pergilah, terima kasih." Adrian menyuruh pelayan yang berhenti di depan pintu kamarnya untuk pergi.
langkah Adrian masuk ke dalam kamar. setiap Sudut kamar di perhatikan oleh mata tajamnya. Sungguh benar-benar luas 2 kali lipat dari kamarnya di Indonesia.
ruangan kamar yang bernuansa abu-abu dan putih ini sangat cocok untuk Adrian. Interior yang mahal, penjagaan yang ketat dan pelayan yang banyak menunjukkan bahwa ayahnya adalah seorang kaya raya sesungguhnya.
Namun kenapa baru sekarang Sean muncul di hadapan mereka. Kepala Adrian mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lain. Namun kesimpulannya Adrian masih mencari celah untuk bisa mengetahui.
Adrian menampilkan wajahnya di cermin yang mengarah ke tempat tidur. Adrian sadar dari mana wajah tampannya ini berasal. 99% dari gen ayahnya yang tidak bisa di pungkiri ketampanannya.
Adrian menggapai tangan kanannya, gelang yang di berikan seorang anak kecil saat dirinya di Indonesia membuat Adrian menampilkan Senyumnya yang tak kentara.
tunggulah suatu saat kita akan bertemu.
...****************...
" katakan, apa niat mu sebenarnya Sean?" Calista masih saja menatap Sean yang sibuk menyisir rambutnya.
" penting?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Sean membuat Calista semakin geram dan menarik sisir yang ada di tangan Sean.
" Iya Sean bodoh." Calista menatapnya dengan tajam dan menaikkan 2 oktaf suaranya.
" Kau wanita pemberang yang berani memanggilku bodoh, aku bisa saja memperlihatkan hasil tes IQ ku padamu, membungkam mulut dengan hasil yang memuaskan. " Sean kini menarik Calista ke dalam pelukannya.
" Aku tidak butuh tes IQ mu, aku butuh jawaban dari perlakuan gila mu ini." Calista berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Sean. Sean adalah keparat yang tak tau malu. Urat malunya telah hilang di mata Calista.
" Aku mencintaimu dan anak-anak kita." Sean mengelus rambut panjang Calista dengan pelan. di dalam hatinya ada sedikit penyesalan karena membiarkan keluarganya ini menderita.
" kau berbohong! Calista memberontak membuat Sean melepasnya dan menatap kedua mata Calista yang mulai berair.
begitu pedih dan sakitnya masa lalu yang diberikan Sean terhadap wanitanya ini.
" Tidak!" Sean dengan wajah datar kini menjawab dan menatap Calista. ekspresinya sulit untuk di baca walaupun oleh pakar ekspresi sekalipun.
Calista terhenti tak tau harus membalas dengan apa, kalimatnya seakan habis untuk berdebat dengan lelaki ini. Seribu kali pun Sean berkata itu akan percuma di mata Calista.
"