
" Sean kumohon maafkan Adrian." Calista menatap Sean yang mengacuhkannya sedari tadi dia lebih memilih fokus menatap layar komputernya daripada melihat wajah istrinya. Terlihat suaminya ini sedikit meringis kesakitan ketika Calista mencoba memegang luka di bahunya yang lecet akibat peluru, walaupun telah di perban beberapa saat lalu Calista tau ini pasti sangat sakit begitupun yang di rasakan Adrian sekarang.
" Ini kesalahanmu karena mendidiknya dengan kasih sayang." Suara Sean dingin membuat Calista mundur beberapa langkah. Hatinya sakit ketika Sean mengatakan hal itu.
" Kau menyalahkan aku Sean." Calista menatap tajam Sean yang kini menatapnya.
" Adrian tengah terbaring dengan alat medis di tubuhnya, kau sebagai ayah harusnya khawatir bukan seperti ini, menyalahkan didikanku atas semua ini." Nada Suara Calista meninggi membuat Sean kini berdiri dari duduknya dan menatap Calista yang mulai marah.
" kau harus ingat Sean, dia anakmu, ada darah psikopat mu di sana." Lanjut Calista dengan penuh penekanan dan menunjuk wajah dingin Sean.
" Turunkan suaramu di hadapanku Calista." Sean menggenggam erat lengan Calista hingga wanita itu meringis kesakitan.
" Dad, apa yang kau lakukan." Bella yang baru saja masuk ruang kerja Sean kini menatap tajam Sean.
" Diam Bella jika kau tak ingin besok menjadi orang termiskin di kota ini." Ucapan Sean membuat Bella kesal dan hampir menangis.
" Dad, mom aku benci kalian." Bella berteriak membuat Calista kini menoleh ke arah Bella, sedangkan Sean masih menatap Calista.
Calista tidak pernah membayangkan jika kehidupan keluarganya akan sebegini hancurnya karena memisahkan seorang wanita yang tak salah apa-apa dari hidup putranya.
" Cukup Sean, aku tak tahan denganmu, kau menyakitiku." Calista memegang lengannya yang memerah akibat genggaman Sean yang terlalu kuat. Dia pergi dari ruangan Sean ketika Sean melepaskan genggaman lengannya.
" Bedebah sialan." Sean menghambur barang yang ada di mejanya. sorot matanya tajam menatap kepergian Calista yang mengejar Bella.
" Harusnya aku membunuh kalian lebih awal." kepalan tangan Sean kuat menghentak meja hingga terlihat urat-urat di lengannya.
...****************...
Calista mengelus kepala Adrian yang belum sadarkan diri, peluru di perutnya telah di keluarkan dan kini nyawa putranya dalam kritis.
" Maafkan Mommy sayang." kecupan hangatnya ke kening Adrian membuat hatinya menghangat, tidak terasa waktu begitu cepat.
Adrian yang dulu sangat lucu kini berubah menjadi pria dewasa yang tampan, wajahnya sangat mirip dengan Sean begitupun keras kepala anaknya ini.
Air mata Calista menetes lagi namun dengan cepat di tepisnya.
" Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi, tapi aku tidak ingin kau salah jalan di kedepannya nanti." Calista menengadahkan kepalanya ke atas menahan air mata yang hendak jatuh kembali.
Hatinya benar-benar hancur menyaksikan anak nya dalam situasi ini. Nalurinya sebagai ibu ingin terus melindungi kedua anaknya.
Tapi dia merasa gagal menjadi ibu terbaik untuk Bella dan Adrian. Bayangan Calista Anak-anaknya akan tumbuh menjadi seorang yang lebih baik lagi daripada dirinya dan Sean, tapi ternyata di belakang Calista Adrian juga mengikuti langkah Sean.
Calista sudah tidak bisa mengubah takdir yang sudah terjadi. Sean pun sudah mulai menjaga jarak dengannya. Apakah ini akhir dari hancurnya rumah tangganya kali ini.
Senyum kecut kini terhias di wajah cantik Calista. Mengingat Sean yang membentak Putrinya sendiri membuat Bella pergi dari rumah dan belum datang hingga sekarang.
" Siapa yang harus di salahkan?" suara dari bibir Calista bergetar, Tangis Calista pecah dia berusaha sekuat tenaga menjadi tegar, tapi nyatanya dia lemah.
Kekuatannya seakan terkuras habis menyisakan luka dan penyesalan.
Calista tersadar dengan getaran hpnya, matanya fokus ke arah Layar Handphone yang menampilkan nama Max. Jarang sekali pria itu menelponnya sekarang kecuali ada hal penting. Tangan lentik Calista menggeser layar.
" Nyonya kabar buruk terjadi,Nona Bella kecelakaan dan masuk rumah sakit, sedangkan Tuan Sean pergi ke Tempat organisasi untuk menghentikan serangan musuh." Suara Max yang terdengar cepat dan terburu-buru sebelum akhirnya telpon di matikan Max secara sepihak membuat Calista bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Adrian.
" Perketat penjagaan." Calista menyampaikan kepada bodyguard Sean yang ada di depan pintu rumah, sebelum akhirnya Calista masuk ke dalam mobil mewah menuju luar pagar.
kaki Calista semakin menginjak gas membuat mobil melaju di jalanan raya. tujuannya adalah menemui sang putri, hatinya ketar-ketir tak karuan. Alamat rumah sakit yang di kirimkan Max lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
bunyi klakson dari sebelah kanan membuat Calista terkejut dan melihat truk besar yang hampir menabraknya di pertigaan jalan. Dengan cepat Calista membelokkan setir menjauh hingga Truk itu benar-benar melewatinya.
Calista kembali melajukan mobilnya, tangannya sesekali memukul-mukul setir mobil, air matanya semakin menjadi, kenapa keluarganya jadi begitu hancur sekarang, apakah ini penebusan dosanya selama ini. Dua anak dan suaminya kini dalam bahaya secara bersamaan,dia tidak memperdulikan darah yang kini mengalir dari kepalanya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah Bella, Adrian, dan Sean.
"