
Max dari balik telepon kebingungan dengan perkataan Calista. Tidak bisa keduanya membuat hidup Max tenang. Hari ini Max harus membatalkan meeting dengan investor Asing yang sudah sampai di kantor Sean, lain lagi Calista yang menyebutnya mati. Astaga jika seperti ini Max benar-benar bisa gila.
Max apa kau mendengar ku! Teriak Calista dari balik telepon membuat Max fokus lagi dengan ponselnya.
" Iya, nyonya saya mendengarnya." Ucap Max tegas.
tuutthh....tutth Calista mematikan ponselnya.
Membuat Max menyapu wajahnya yang gusar.
...****************...
" Kau mematikan teleponnya Sean!" Calista kini memarahi Sean.
" Max hendak mengurus urusan penting, jangan buang waktunya." Sean dingin dan menatap wajah Calista yang mulai kesal. Tubuhnya semakin mendekat ke arah Calista.
bibirnya ******* kasar bibir Calista, kedua tangan Calista yang memberontak di angkatnya ke atas dengan 2 tangannya Ciuman itu semakin panas dan turun ke leher Calista meninggalkan bekas Kissmark di sana.
" Sean, stop!" Calista bersuara menahan hasratnya sendiri ketika tangan Sean menjamah dirinya,
tapi bukannya berhenti Sean malah meneruskan ciumannya ke bagian bawah hingga bertemu dengan perut buncit Calista.
"aku ingin menghukum mu!" Sean menatap tajam Calista dirinya masih cemburu dengan Perlakukan Calista ke lelaki lain saat di Bar. aktifitas yang terhenti kini di lanjutnya kembali menciumi perut besar Calista dengan penuh cinta.
Calista langsung menjambak rambut Sean dan menariknya dengan keras.
" Awhh,, Baby Lepaskan jambakanmu!" kepala Sean semakin mengikuti arah tangan Calista yang menjambaknya dengan keras.
" Berapa kali kau ingin menghukumku!" Mata Calista tajam menatap Sean yang mulai tersenyum.
" Aku mencintaimu" Sean gesit memeluk Calista dan menciumi wajah wanitanya ketika jambakan Calista mulai melemah.
" Aku mencintaimu, sayang." jari-jari Sean bergerak merapikan anak-anak rambut calista yang menutupi wajahnya dan mengenyampingkan nya ke belakang telinga Calista. Tatapannya dalam dan serius ke mata Calista. Sean mencium lembut kening Calista tak menghiraukan Calista yang menatapnya tajam.
...****************...
Calista tertidur kembali Setelah selesai makan siang yang di bawakan Pelayan Sean. Mata Sipitnya berlahan terbuka dan menetralisasi kan dengan suasana di kamarnya sekarang, jelas Calista tau ini bukan Hotel atau apartemen Sean.
" perkenalkan nyonya nama saya Safira, pelayan anda yang akan terus ada di samping anda." pelayan wanita itu terlihat masih sangat muda, kulit nya putih bersih dan wajahnya yang cantik khas eropa. kini dia menghampiri Calista yang sudah mulai sadar sepenuhnya dari tidur.
" Owh iya,,iya.." Hanya itu yang keluar dari mulut Calista mengingat Sean yang memang selalu saja memberi pengawasan kepadanya lewat pelayan- pelayan yang bergonta-ganti.
" Nyoya apa kau lapar, jika iya aku akan membuatkan sup khusus masakanku?" Safira menatap Calista yang juga menatapnya.
mata mereka beradu pandang. Dan Calista merasa tidak enak ketika Safira tiba-tiba duduk di pinggiran ranjang tanpa permisi.
" Terima kasih, aku belum lapar. Apa kau pelayan baru yang di pekerjakaan sean? dan di mana aku sekarang!" Calista mencoba tersenyum menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
" Iya, aku pelayan baru tuan Sean nyonya, sekarang Nyonya ada di kamar pribadi Tuan Sean tepatnya di rumah pribadinya." Safira menampilkan senyum ke arah Calista membuat Calista membalas dengan senyum yang di paksakan.
" Lalu Sean di mana?" Calista kini kembali menatap Safira.
" Tuan Sean untuk beberapa hari ke depan tidak akan ke sini, karena harus mengurus bisnis di kantornya yang mulai berantakan." Safira tersenyum kepada Calista tapi senyum itu bisa dirasakan Calista bukanlah senyum tulus.
" Anda bisa berjalan-jalan di sekitar sini, saya akan menemani." Safira kini berdiri dari duduknya.
" Nyonya anda baik-baik saja?" Safira kini menampilkan kekhawatirannya ketika melihat Calista yang memijat kepalanya sendiri.
" aku baik-baik saja. tolong siapkan air untuk aku mandi yaa." Calista menyuruh Safira yang langsung menunduk dan pergi ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Calista.
...****************...
Safira dan Calista kini mereka berada di taman belakang rumah Sean.Calista duduk di kursi taman yang mengarah langsung ke kolam kecil ikan hias dengan arsitektur yang elegan sedangkan Safira memetik bunga mawar yang di suruh oleh Calista.
" Ini Nyonya." Safira memberikan 3 tangkai mawar merah yang sudah di petiknya.
" Terima kasih Safira." Calista tersenyum memperhatikan bunga mawar yang di pegangnya. Lama sekali dirinya tidak memegang mawar, terakhir kali Sean yang memetikkannya untuknya di taman ini.
Sudah 3 hari dirinya tidak melihat Sean, ada rindu yang sedikit menggelitik di hatinya.
" Harum, cantik, namun berduri." Safira berkata ketika Calista asyik menciumi mawar itu. Calista yang mendengarnya kini terdiam. Dia bukan orang bodoh yang tidak bisa melihat ekspresi tidak suka dari Safira kepadanya selama 3 hari ini.
" katakan apa maksudmu!" Calista menatap tajam Safira yang kini menatapnya dengan senyuman.
" Maafkan aku nyonya, aku hanya pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang." Safira kini menundukkan pandangannya.
Calista sudah tidak enak hati seperti ini, waktu sore nya di tutup dengan hal tidak mengenakkan membuatnya semakin kesal.
" Aku ingin ke kamar." Calista kini berdiri memegang perutnya, mawar yang di petik Safira tadi di tinggalkannya di kursi taman.
" Safira tolong tinggalkan aku sementara ini aku ingin istirahat." Calista menahan Safira yang ingin ikut masuk ke kamarnya.
" Sean aku merindukanmu." Calista mengelus perutnya dengan penuh cinta.
" Anak-anakmu juga pasti merindukanmu." Calista kini melangkah ke arah telepon rumah menekan nomor sean yang sudah di hapalnya di luar kepala. Perdebatan dengan rasa gengsinya beberapa hari ini untuk menghubungi Sean sudah cukup. hingga telepon tersambung.
Selamat sore ada yang bisa saya bantu.
Suara wanita dari seberang Telepon membuat Calista terkejut. kenapa Handphone Sean di jawab oleh seorang wanita.
" Di mana Sean?" Calista mencoba bersuara ketika air matanya hendak jatuh.
Maaf, Tuan Sean tidak bisa di ganggu sekarang. perempuan itu menutuo telepon secara sepihak.
Calista berusaha berpositif thingking. Sean tidak akan macam-macam. Sean hanya mencintainya.
Calista mulai merebahkan badannya ke ranjang berharap Sean akan datang dan mencium keningnya dengan penuh cinta ketika Calista membuka mata.
...****************...
Calista terbangun, di lihatnya jam yang sudah menunjukkan waktu tengah malam. sebegitu nyenyak kah tidurnya sedari tadi.
dirinya harus menelan kecewa ketika tidak di lihatnya Sean di sampingnya. tenggorokannya kering sedang air minum di gelas sudah habis membuatnya melangkah keluar kamar menutupnya dengan hati-hati. agar tidak ada yang terbangun di rumah Sean. Calista benar-benar tidak ingin merepotkan.
Calista menyadari pintu kerja Sean sedikit terbuka, apakah Sean sudah datang. senyumnya semakin menjadi, dia akan mengagetkan Sean dengan melangkah pelan. Pasti Sean juga sangat merindukannya.
Calista menahan nafas, oksigen di sekitarnya sudah mulai menipis dadanya sangat sesak ketika mengintip dan melihat Sean sedang mencium rakus Safira begitupun Safira yang mengalungkan tangannya ke leher Sean. Jelas itu Sean, lelaki yang sangat di rindukannya kini sedang bercumbu dengan pelayannya sendiri.
" Brengsek!" Calista membuka lebar pintu dan melempar gelas ke lantai ruangan Kerja Sean. membuat kedua insan yang bercumbu mesra itu kini terkejut dan menghentikan aktifitasnya.