
...terkadang kita di uji dengan apa yang sudah kita ucapkan....
...One Night Stand With Ceo Arrogant...
Air mata tak bisa lagi di tahan Calista. sebelum menjadi Calista berbalik dan berlari ke kamarnya.
Sean yang mengejar kini berusaha menahan pintu yang hendak di tutup Calista.
" Calista, buka pintunya. Ku mohon!" Tenaga Calista kalah jauh dari Sean membuatnya melepaskan pintu dan membiarkan Sean masuk.
Calista tak sanggup berkata, tangisnya pecah membuat Sean merasa bersalah.
" Maafkan aku Calista." Sean menangkup wajah Calista.
Calista menatap tajam Sean kedua mata itu kini beradu tatap.
" Lelaki brengsek akan tetap brengsek!" Calista kini terbakar emosi dan menghempaskan tangan Sean dengan kasar memperhatikan kondisi Sean yang tidak rapi dengan kancing terbuka semakin membuat hatinya teriris.
" Nyonya maafkan saya, saya yang salah." Safira kini dengan langkah cepat mulai mendekati Sean dan Calista dengan tangannya memperbaiki bajunya yang masih sedikit terbuka akibat ulah Sean.
" Aku ingin pergi." Ucap Calista hatinya benar-benar hancur kali ini.
" tidak!" Sean kini menyorot tajam ke mata Calista yang menyorot kebencian
padanya. Tangannya menutup kencang pintu membuat Safira yang ada di depan pintu terkejut.
Tangan Calista menampar pipi Sean keras. menyalurkan emosi dan sakit hatinya kepada Sean.
" Lelaki keparat, brengsek, kenapa aku harus bertemu denganmu harusnya aku menikah dengan Juan!" Calista menatap Sean benci.
Sean menarik Calista dan menghempaskannya ke ranjang tidak menghiraukan Calista yang menangis semakin menjadi.
" Kau masih mengharapkan lelaki lain ketika bersamaku." Sean kini mendekat ke arah wajah Calista.
" Setidaknya Juan lebih mencintaiku dengan tulus." Calista masih saja berani menatap mata Sean ketika Sean menariknya untuk berdiri.
" Calista kau sadar dengan ucapanmu!" Hati Sean teriris mendengar kalimat Terakhir Calista. sampai saat ini Sean terus memperjuangkan Calista tapi apakah semua itu tidak ada artinya di mata wanitanya ini.
" iya aku dengan sadar mengucapkannya. Kau tidak pernah mengerti perasaanku Sean!" Suara Calista meninggi di iringi tangis yang mulai menjadi.
" Aku sabar selama ini bersamamu atas semua perlakuanmu padaku, kau renggut kebebasanku, kau buat aku percaya dan akhirnya kau hancurkan kepercayaan itu! kau biarkan aku yang menanggung semuanya, lantas siapa yang salah! aku saja menurutmu?" Calista berteriak dan mendorong Sean menjauh darinya.
" Calista!" Sean memejamkan matanya menahan amarah. Tangannya mengeluarkan Pistol yang ada di sakunya membuat Calista semakin was-was.
Tangan Sean mengarahkan pistolnya ke arah Jendela dan seketika menembak sesuatu membuat sesuatu itu jatuh dan berbunyi.
" Sean kau gila!" Sean membuka matanya dan melihat Calista yang panik dan mencoba melepaskan genggaman tangannya.
" Tenanglah sayang, aku tidak akan melukaimu!" Sean memeluk erat Calista yang memberontak.
" Sean aku benci kau!" Calista terus memberontak walaupun hasilnya tetap saja sama, kekuatan Sean lebih kuat daripada Calista.
" Se..ann.." Suara Calista terbata-bata, nafasnya tersengal-sengal dadanya mulai sesak. Sean terkejut dan langsung mengangkat tubuh Calista menaruh ke ranjang dengan pelan.
Sean meraih Ponsel di saku kemejanya, dan bersuara cepat ketika telepon tersambung.
" Max, kerahkan semua anak buah untuk berjaga di rumah sakit." darah yang mengalir dari bawah Calista membuat Sean makin khawatir. Dengan segera Sean mengangkat Calista menggendongnya ke luar kamar, berteria seluruh pelayan berdiri di depan kamar Sean dan terkejut dengan kondisi calon nyonya mereka.
Sean dengan langkah cepat pergi ke lantai bawah menggunakan lift. Calista yang merintih kesakitan kini memegang erat leher Sean. wajah Sean datar dan menakutkan memasuki mobil yang sudah di sediakan yang di kemudikan oleh pengawalnya.
" Tenanglah sayang kau akan baik-baik saja." Sean mengecup bibir Calista yang kering. keringat telah membasahi wajah Calista.
"" Sean sakit." Calista memegang erat kerah baju Sean pelampiasan menahan sakit di perutnya.
" Kumohon Calista bertahanlah." Sean kini mengelus kepala Calista.
" Sean Brengsek!" Calista menggerutu tak tau tempat menjambak rambut Sean.
" Hentikan Calista!" Sean dingin kepada Calista yang semakin menjambaknya keras, sekali anak buah Sean melirik ke tempat belakang melihat Bos nya yang berusaha melepaskan jambakan Calista.
" lirik lah ke sini, jika kau ingin mati" Ucap Sean yang melihat anak buahnya terkadang memperhatikannya dari kaca.
" Maafkan saya tuan." anak Buah Sean kembali fokus ke arah depan jalan dengan kecepatan tinggi.
" Sean kau brengsek, kau pengkhianat, aku membencimu." Calista menangis menahan sakit dan terus menjambak rambut Sean.
" Maafkan aku sayang." Sean berusaha bersuara lembut. Bagaimanapun Calista dalam bahaya sekarang.
mereka sampai di rumah sakit milik Sean, para dokter gesit membawa Calista dengan bangkar dorong, Max juga ikut khawatir dengan kondisi Calista yang begitu pucat.
" Maafkan aku Calista, maafkan aku sayang." Untuk pertama kalinya Sean memperlihatkan kasih sayangnya kepada Calista di hadapan banyak orang. Membuat Max dan yang lainnya terkejut.
Sedangkan Calista sudah terpejam lemah tak berdaya.
" Tuan Izinkan kami membawa nyonya ke dalam ruangan." Salah satu dokter perempuan bersuara menahan Sean.
" Jika sampai terjadi apa-apa, aku akan membunuhmu dan keluargamu!" Sean menatap tajam dokter yang menunduk di depannya.
" Max jemput keluarga Smith ke sini, beri perlindungan ketat" Sean menatap tajam Max.
Musuh akan mudah mengacaukan Sean kali ini, Sean harus berhati-hati. Penjagaan ketat tidak akan menjamin tapi akan meminimalisir keadaan yang tidak di inginkan.
Calista sedang berjuang di dalam ruangan, sayup-sayup matanya melihat lampu terang di hadapannya menjadi semakin buram dan menjadi gelap terlihat sebuah cahaya yang semakin mendekat dan mamanya yang berjalan ke arahnya.
" mom." Calista menangis mamanya datang dengan memakai dress putih. Calista sangat merindukan ibu kandungnya ini memeluk erat ibunya.
" Jaga cucu momy yaa sayang, maafkan momy yang tidak bisa menemanimu sekarang." wanita setengah baya itu memeluk erat anak perempuannya.
Calista gemetaran tangannya penuh dengan darah ibunya yang tertembak. seketika baju dress putih itu penuh dengan warna merah khas darah.
" Mom" Tangis Calista semakin kencang. 2 orang menyeret paksa Ibunya yang tak berdaya. mendorong Calista yang mencoba mengejar mereka.
Sean memperhatikan Calista yang terbaring lemah di rumah sakit, dirinya telah berhasil melahirkan 2 bayi laki-laki nya. Bibir Calista kering, dan wajahnya sangat pucat. Setetes demi setetes air mata jatuh dari sudut mata Calista yang tak sadarkan diri.
" Jangan Khawatir, aku mencintaimu Calista dan akan terus menjagamu sayang." Sean mengecup lembut kening Calista menyalurkan rindu dan sayangnya setelah sekian lama tak menatap wanitanya ini.
lalu bagaimana dengan Safira! wanita iblis itu harus musnah...