
Calista spontan membuka matanya ketika seseorang menggigit bibir bawahnya dengan keras. tatapannya bertemu dengan pemilik Retina mata Elang. Sean William Charles kini berada di atasnya dan menatapnya dengan tajam. Tangan Calista berusaha keras mendorong Sean namun usaha yang sia-sia ketika Sean menahan kedua tangan Calista dengan satu tangannya ke atas.
" Menjauh dariku pria bajingan." teriak Calista membuat genggaman tangan Sean semakin mencekik pergelangan tangannya.
" Kau tau ada 2 pilihan hukuman seseorang yang mengkhianati ku. 1 kematian 2 penyiksaan." Ucapan Sean penuh penekanan dan tatapannya membunuh ke arah retina Calista membuat Calista di terpa kebingungan.
" Aku benar-benar tidak mengerti?" Calista kini berusaha memberontak untuk melepaskan genggaman Sean yang semakin sakit. Lagi-lagi Sean mengigit keras bibir Calista hingga mengeluarkan darah segar di bibirnya membuat Calista mengeluarkan air mata.
" Bibir yang mencium selain aku pantas terluka." Sean kini menahan rahang Calista dan memfokuskan tatapan Calista agar bertemu dengan matanya lalu melepaskan wajahnya dengan kasar.
" apa maksudmu Sean?" Suara Calista kini bergetar.
" Tidak seru jika hanya bermain di bibir bukan!" Jari telunjuk Sean yang di ditempelkannya di bibir Calista kini turun melewati leher dan dadanya hingga berhenti ke perut Calista.
" Sean apa yang kau lakukan, jangan gila Sean."
Calista bersuara ketika tangan dingin Sean menyentuh perutnya dan mengelusnya dengan sensual.
" apa kau lupa kau sedang mengandung anakku!" Sean kini masih menatap Calista, Calista yang terbunuh dengan tatapan Sean kini mulai menangis.
" Aku tidak menyuruhmu menangis Calista." Sean mulai melemahkan genggamannya di pergelangan tangan Calista.
" Se..an..kenapa kau..." Calista yang ambigu kini harus berhenti berkata ketika Sean mencium bibirnya rakus berlahan tangannya melepas kedua pergelangan tangan Calista membuat Calista langsung mengalungkan tangannya di leher Sean.
" wah J***ng ku." Sean langsung berdiri dan melepaskan Calista yang mulai terangsang. seketika Calista tersadar dan mulai mendudukkan tubuhnya di ranjang menatap tak suka pada Sean.
" aku bukan J***ng mu." Calista kini mulai turun dari ranjang dan hendak berjalan ke arah pintu namun tangannya di tarik oleh Sean hingga kepalanya berbenturan keras dengan dada bidang Sean.
" aku belum menghukum mu B**ch." Sean mengarahkan belati kecil ke lengan kanan Calista membuat wanita itu panik dan memberontak hebat.
" Apa yang ingin kau lakukan?" Kini Calista berusaha mendorong Sean namun Sean mempersempit jarak mereka.
" Apa alasanmu menghukum ku Sean?" Kesal Calista membentak Sean membuat lelaki itu semakin nyalang terhadapnya.
" kau yang berani menggoda orang lain dan menciumnya di tempat umum." Seketika Calista memutar balik ingatan kejadian saat dirinya mabuk dan memeluk Juan di bar. Apakah Sean cemburu padanya, bukankah Sean sendiri yang berkata tidak mau bertanggung jawab.
" Kenapa kau marah? apa kau cemburu? pria brengsek setelah kau permalukan aku di depan orang banyak dengan mudahnya kau marah hanya karena aku mencium lelaki lain, bukan masalahmu Sean jika aku mencium orang lain bahkan aku bisa tidur dengan pria lain selain dirimu!" Calista tertawa membuat Sean murka dan langsung mendorong Calista ke ranjang. dengan Kasar Sean merobek dress Calista dan menggoreskan belati itu ke lengan atas Calista. tanpa jijik Sean menjilati dan menyesap darah Calista layaknya minuman enak.
" Sean kau gila." erang Calista ketika Sean menyentuh titik sensitifnya dengan Sensual. sungguh kewarasan pria itu entah kemana membuat Calista hampir mencapai titik pencapaiannya sekarang.
" Sean." Calista makin menggila ketika Sean mengabsen seluruh tubuhnya dengan ciuman.
mata Sean berkabut nafsu tanpa mempedulikan kondisi Calista yang mulai kesakitan.
hampir 3 jam Sean melakukannya tanpa henti membuat tubuh Calista terasa remuk dan sakit.
hingga kecupan tulus di kening Calista membuat Calista bernafas lega. Sean kini berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuhnya posesif, mata lelaki itu langsung terpejam tak merasa bersalah karena perbuatannya.
" awwh.." erang Calista ketika hendak mendudukkan dirinya.
" Ada apa Sayang." Sean kini membuka kembali matanya dan menatap khawatir ke arah Calista.
" perutku kram bodoh." Ucap Calista membuat Sean langsung terduduk dan mencari letak ponselnya.
" Max suruh dokter Jakson ke kamarku." intrupsi Sean membuat Calista melongo tak percaya.
" Kau benar-benar gila Sean, bagaimana bisa kau menyuruh orang lain ke sini sedang keadaanku tanpa busana." Calista mengerang kesakitan ketika Sean mengambil baju handuk di sampingnya dan memberinya pada Calista. setelah itu Sean dengan sigap mengangkat Calista bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Dengan pelan Sean mendudukkan Calista ke closed duduk yang tertutup.
" Aku lelah Sean." kesal Calista namun tak dihiraukan Sean yang sibuk mengatur air hangat di bathtub nya. seketika Sean mengangkat tubuh Calista ke bathtub secara berlahan membuat Calista terkejut dan handuk yang di pakainya menjadi basah spontan Calista langsung mengalungkan tangannya ke leher Sean. Sean meletakkan Calista layaknya barang berharga yang harus hati-hati agar tidak terluka.
Calista memperhatikan gerak gerik Sean yang menuangkan sabun cair harum mawar seperti sabun yang sering di pakai Calista ke spon mandi membuat busa semakin banyak lalu menggosokkannya ke lengan Calista.
" Apa yang kau lakukan Sean?" Calista meringkis kesakitan karena sabun itu mengenai luka di lengan tangannya.
" memandikan mu baby." Sean masih fokus membersihkan tubuh Calista dan menyiraminya dengan air di bathtub.
" selesai." Sean kini mengangkat Calista dan mendudukkannya di tempat sebelumnya.
" Harum yang selalu membuatku gila." Ucap Sean menghirup leher Calista. Kini dirinya beralih berjongkok didepan Calista mengelus perut wanita itu yang mulai membesar.
" Anak-anak Daddy sehat-sehat yaa di dalam perut mommy." Ucap Sean membuat Calista tercengang.
" Anak-anak?" bukankah Calista hanya mengandung 1 bayi. Calista hendak mengelak namun tubuhnya telah di balut oleh baju handuk kering putih milik Sean. Sean kembali menggendongnya hingga ke tepi ranjang dan mendudukkannya di sana.
" Aku ingin mandi dulu, duduk di sini jangan buka pintu meskipun ada yang mengetuk kecuali aku sendiri yang membukanya." Perintah Sean yang akhirnya masuk kembali ke kamar mandi.
Setelah keluar kamar mandi Sean menggunakan handuk sepinggang yang berwarna sama dengan yang di pakai Calista.
" Sean, bajuku robek." Calista kini menatap nanar ke arah dress nya yang sobek dan hancur, entah berapa uang yang harus di habiskan Calista membeli dress limited edition itu dan kini hancur seketika.
Sean berjalan ke arah pintu yang sedari tadi di ketuk oleh orang lain dari luar. membukanya membuat orang lain tercengang karena penampilannya.
" Mana pakaian yang ku minta." Ucap Sean dingin dan mengambil paper bag dari salah satu tangan pelayan yang memberikannya. Sean kembali menutup kamar tanpa menghiraukan kehadiran Jakson yang sedari tadi berada di sana. dengan kesal Jakson bergumam tak jelas tentang Sean membuat pelayan menatapnya tak percaya.
" pakailah ini." Sean memberikan Shopping bag itu ke Calista dan Calista mengeluarkan isi dari paper bag nya.
" Sean yang benar saja." Calista menatap pakaian dalam beserta Dress 7/8 lebar tanpa membentuk tubuhnya, terlihat biasa dan rumahan. Calista menutup mulutnya ketika melihat harga yang tertera di pakaian itu yang melebihi harga dress yang di robek Sean.
" dengan pakaian itu dan bukan dress ketat kau tidak bisa menjadi penggoda lelaki lain." Ucap Sean membuat Calista tercengang dan menggelengkan kepalanya.
" cepatlah pakai atau akan ku suruh Jakson masuk dengan penampilanmu seperti itu." Ucap Sean dingin dan berjalan ke arah pakaian room nya yang megah di dalam kamar itu.
" Awhh..Sean." Teriak Calista yang sudah berganti baju darah keluar dari bagian sensitifnya dan mengalir ke betisnya membuat Sean langsung berlari ke arah Calista yang memegang perutnya dengan menahan sakit.
jangan lupa vote dan Coment yaa🥰🤗