
" Sean apa yang kau lakukan, Jangan bunuh anakku Sean!" Calista gelisah wajahnya kini banjir keringat, matanya masih terpejam dan penuh ketakutan.
" Sayang bangun." Sean menepuk-nepuk pipi Calista hingga akhirnya Calista terbangun dan menatap Sean takut.
" Menjauh Sean, jangan bunuh anakku" Teriak Calista memegang perutnya dan mencoba mendorong Sean.
" Ada apa Calista! sadarlah kau hanya mimpi!" Sean kini membentak Calista membuat Calista mengeluarkan air matanya.
" Sayang aku tidak akan pernah membunuh darah daging ku sendiri." Ucap Sean yang berusaha menenangkan Calista dan memeluknya erat. Tapi tetap saja kegelisahan menyelimuti hati Calista.
" Hari ini kita akan ke rumah orang tuamu bersiaplah." Sean kini mencium kening Calista tulus dan keluar kamar meninggalkan Calista yang masih terdiam mencerna ucapan Sean.
...***...
" Max kabar apa yang kau dapatkan tentang Rose?" Kini Sean menatap serius wajah Max.
" Nyonya Rose ternyata masih hidup dan di tahan oleh Vulsufatken mereka menginginkan Tuan menukarnya dengan Calista bersama bayinya juga pulau terbesar kita yang ada ada di Italia " Ucap Max membuat Sean mengeram marah terlihat rahangnya yang mengeras dan wajahnya memerah. sepertinya Vulsufatken tidak akan pernah menyerah dan ingin mempermainkannya, memerasnya untuk mengikuti keinginan organisasi bajingan itu. Mereka menginginkan Pulau yang terdapat banyak emas di dalamnya itu sudah bisa di tebak Sean tapi apa hubungannya dengan Calista, mengapa mereka menginginkan Calista. Tatapan Sean tenang namun sangat menusuk.
" kita lihat permainannya dulu, tetap waspada jangan sampai dia melukai Rose." Ucap Sean meninggalkan Max.
Sean kini berjalan ke arah kamarnya melihat Calista yang terduduk sambil memakan cemilan bersama pelayan yang menemani. Wanitanya itu kini terlihat semakin chubby membuat Sean gemas menatapnya.
" Tuan." Pelayan itu izin berlalu keluar ketika melihat Sean berdiri di belakangnya.
" Hey Tuan putri kapan kau akan bersiap, sebentar lagi kita akan pergi ke rumah orang tuamu." Ucap Sean yang kini mencoba tersenyum namun sangat kaku.
" Sean aku malas bergerak." Ucap Calista yang bersandar di pinggiran kasur, akhir-akhir ini perutnya terkadang sakit dan dirinya semakin sering kelelahan membuatnya sulit beraktifitas.
Sean kini mendekati Calista, deru nafasnya menghembus di wajah cantik Calista yang mulai terpejam.
" Apa kau ingin kucium?" Ucap Sean membuat Calista berlahan membuka matanya dan tersadar dengan tatapan Sean yang mengunci matanya.
" Tidak..aku tidak.." Belum selesai Calista berbicara Sean melahap bibir mungil merah cherry itu dengan rakus membuat Calista sulit bernafas.
" Sean kau gila." Ucap Calista yang mulai terbatuk-batuk sedang Sean kini memberikannya kesempatan untuk bernafas.
" Aku menginginkan lebih." Ucap Sean yang kini mencium leher Calista tangannya tidak diam bergerak mengelus punggung Calista di dalam dress pendeknya membuat Calista melenguh tak tahan dengan perlakuan Sean.
" Sean ingat anakmu!" Calista menyadarkan Sean yang hampir berbuat lebih kepada Calista seketika itu dia menghentikan aksinya. Dia tak ingin Calista seperti waktu itu harus di rawat di rumah sakit karena perbuatannya.
" Maafkan Dady mu sayang." Sean mengelus sensual perut Calista namun bibirnya kembali menciumi wajah Calista.
" Aku akan hati-hati." Sean kini menuntun paksa tubuh Calista untuk berbaring di ranjang.
...***...
wajah Calista sangat cantik meskipun tertidur pulas di bahu Sean. Membuat Sean tersenyum simpul di dalam mobil mengelus kepala Calista di pelukannya. Setelah kurang lebih setengah jam bermain dengan hati-hati tetap saja membuat wanitanya kelelahan seperti ini.
" Calista bangun, kita sudah sampai." Sean mengecup singkat bibir Calista membuat Calista terganggu dalam tidurnya dan melihat sekitaran halaman depan rumahnya.
" Ayo turun." Sean turun dari dalam mobilnya dan membuka pintu mobil Calista.
" Percayalah padaku." Ucap Sean menggenggam tangan Calista yang dingin dan penuh keraguan itu bisa di lihat Sean dari mata dan tingkah laku Calista.
" Sean aku takut." Ucap Calista yang meneteskan air mata nya, dia takut jika ibunya tidak akan mau menerimanya.
dengan langkah pelan Calista menuruni mobil mereka masuk ke dalam rumah Calista, seluruh pelayan yang bertemu Calista terkejut dengan bentuk tubuh Calista.
" mama." Calista berlinangan air mata melihat ibunya yang sangat jarang di lihatnya kini berada di depannya dengan wajah terkejut dan kecewa. Batinnya sangat ingin memeluk ibunya namun dirinya mengkhianati dan malah menggenggam erat tangan Sean.
" Ita beritahu mama apa yang terjadi?" Nyonya Smith menelan pahit di kerongkongannya.
" Maaf nyonya Smith tidakkah anda persilahkan kami duduk dulu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan." Ucap Sean se ramah mungkin dan akhirnya kini mereka duduk di ruang keluarga bersama Tuan Smith yang baru saja datang.
" Katakan sebenarnya." Tuan Smith dengan wajah serius menatap Sean dan Calista.
" Maafkan saya yang telah menghamili anak anda, saya berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang saya perbuat." Sean menatap dingin Tuan Smith membuat Tuan Smith terintimidasi dengan tatapan Sean.
" Bagaimana Calista apa kau ingin menikah dengannya? ayah tidak akan memaksamu." Tuan Smith kini menatap Calista dalam.
" Iya Ayah, aku mencintainya." Ada rasa sakit ketika Calista mengucapkan kalimat akhirnya dengan berlinang air mata dan terpaksa.
Nyonya Smith tak kuasa melihat Calista hingga berdiri dan langsung memeluk anaknya dengan berlinangan air mata.
" Maafkan Calista mama." Calista memeluk ibunya dengan penuh cinta.
" Baiklah Sean, aku izinkan kau menikah dengan putriku dengan 1 syarat kau tidak akan pernah menyakitinya." Tuan Smith berkata dengan tatapan tajam, dia tau watak Sean yang keras dan otoriter.
" Baik ayah aku berjanji." Tatapan mereka sama-sama dingin dan menusuk. Dalam hidup Smith tidak pernah terlintas bahwa dia akan berhadapan dengan Sean ketua Mafia dan organisasi yg terkenal kejam itu.
" Ayah aku harus pergi biarkan Calista ikut bersamaku aku akan menjaganya." Ucap Sean membuat Nyonya Smith tak rela jika kehilangan.
" Baiklah." Dengan semudah itu Tuan Smith mengizinkan Sean untuk membawa Calista ada rasa tak rela dan ingin menahannya dari hati terdalam Smith namun di tepisnya.
" Ayo Sayang." Ucap Sean menuntun Calista berdiri.
" Mah, aku tidak ingin ikut dengannya, dia menyak..." Sebelum Calista berbicara jujur Sean lebih dulu memotong bicaranya.
" Mah, kami pamit dulu." Sean mencium tangan nyonya Smith dan Tuan Smith membuat Calista terkejut.
" Jaga Calista baik-baik Sean." Nyonya Smith mengelus perut Calista yang sudah membesar.
" Pasti mah." Ucap Sean yang kini menuntun Calista ke dalam mobil. Terlihat wajahnya yang menahan amarah dan rahangnya mengeras membuat Calista terdiam.
" Apa kau ingin mengadu pada orang tuamu?" Sean kini menginjak laju gas mobilnya membuat Calista menahan nafas.
" Sean slowly, it 's not a race!" Ucap Calista bergetar dan menggenggam lengan Sean kuat.
" kau masih ingat ada 2 pilihan untuk yang berkhianat. 1 penyiksaan 2 kematian!" Suara Sean semakin menusuk telinga Calista.
" Apa kau ingin diingatkan kembali?" Sean kini mengurangi kecepatan mobilnya dan memasuki loby hotelnya. Seketika keluar dan menarik paksa Calista menyudutkan Calista di pojok Lift yang baru saja mereka masuki.
Sean mencium Calista kasar dan menahan kepala Calista yang tidak mau diam.
" Sean cukup!" Calista bersuara namun seperti angin lalu di telinga Sean.
" Kau harus ingat bahwa kau adalah wanitaku, dan tidak ada pelarian sayang!" Ucap Sean yang semakin menyudutkan Calista Demi apapun Calista benar-benar malu kali ini.
lampu lift menyala pertanda akan ada seorang yang juga masuk ke dalam Lift ini.
seketika Lift terbuka menampilkan seorang lelaki yang kini menatapnya terkejut dan tidak percaya.