
" Masuklah jika kau ingin mati." Mata Sean memicing tajam ke arah lelaki dengan tatapan keterkejutan melihat boss ny dengan seorang wanita di dekap nya berada di tempat yang tidak seharusnya.
" Tolong aku." Calista berteriak membuat Sean geram. Dengan cepat lelaki itu menjauh dan tidak jadi menaiki Lift karena hal itu sama saja memberikan nyawanya untuk di cincang habis oleh bosnya sendiri.
" Berani sekali kau meminta tolong ke orang lain untuk lari dariku honey." Ucap Sean yang kini menatap tajam ke arah mata Calista yang terus mengeluarkan bulir air mata.
" Sean mengapa kau begitu jahat padaku." Calista sudah tak bertenaga untuk melawan Sean dan membiarkan Sean yang terus menciuminya.
" karena kau terus membantahku." Sean kini berbisik di telinga kanan Calista.
pintu Lift terbuka dengan cepat Sean menggendong Calista ke dalam kamar hotelnya.
" Kau sekarang bertambah berat honey." Sean meletakkan Calista di atas ranjang dengan hati-hati. Entah sedari kapan Calista tidak sadarkan diri membuat Sean merasa sangat bersalah.
" Aku sering di tinggalkan selama ini Calista, kumohon jangan tinggalkan aku juga." Ucap Sean mengecup tulus kening wanitanya. menyelimuti Calista dengan selimut hingga menutupi perut besarnya.
" Maafkan Dady sayang." Sean kini mengelus perut Calista.
Sean mengubur lama rasa perihnya sendiri, di balik dirinya yang tegas dan kejam tersimpan sisi lainnya yang sangat rapuh. Dengan pelan Sean menaiki ranjang dan tidur di sebelah Calista tangannya memeluk wanita itu.
" Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku." Suara Sean terdengar lirih dan bergetar di samping telinga Calista. Sean menangis untuk pertama kalinya di depan Calista yang memejamkan matanya. Tangannya tak bisa diam semakin mempererat tangannya ke tubuh wanita itu.
" Calista kau telah menghidupkan kembali jiwaku, aku takkan membiarkanmu pergi dari sini. karena kau hanya tercipta untukku!" Sean mendeklarasikan Calista miliknya. Matanya memicing tajam dan penuh amarah.
" Tidak ada pelarian." Sean menyampingkan anak-anak rambut yang menutupi wajah Calista dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
...***...
Tuan nyonya Rose benar-benar masih hidup, sekarang nyonya di sekap.. Suara Max dari seberang telepon membuat Sean kini terduduk serius setelah beberapa menit memperhatikan wajah Calista yang masih terpejam di pagi hari.
" Kerahkan anak buah kita dengan hati-hati, jangan biarkan Rose terluka. Aku akan segera ke sana." Sean mematikan teleponnya secara sepihak dan membuka lokasi yang di kirimkan Max dengan langkah cepat Sean meninggalkan Calista yang berada di dalam kamar hotel.
Calista membuka matanya berlahan, air mata yang ditahannya sedari tadi tumpah semakin deras tatkala Sean keluar ruangan. Sebegitu kejamnya kah dunia membiarkan pria memperlakukan wanita dengan sesuka hati. Sean yang berlaku jahat bahkan terus memaksanya yang sudah memberi harap kepadanya dan orang tuanya kini dengan tega meninggalkannya, hanya demi seorang wanita bernama Rose. Mungkin Rose adalah orang yang terpenting di hidup Sean dan sangat Sean cintai sehingga seketika Sean langsung pergi dan melupakan Calista.
Apakah Calista salah ketika memberikan kesempatan kedua untuk Sean berubah, mungkin wanita terbodoh di dunia adalah Calista. Iya Calista Smith yang kini mengharapkan cinta yang tulus dari seorang bajingan gila yang mustahil untuk di dapatkannya.
Permisi 3 orang Pelayan perempuan di Hotel Sean kini memasuki kamar Calista dengan membawa sarapan, buah-buahan dan paper bag berisi baju dan lainnya untuk Calista.
" Maaf nyonya, kami berharap nyonya memakan makanan yang kami bawa. Dan ini untuk anda kenakan baju dari desain ternama dunia di buat khusus untuk anda.
Calista mengelap kasar air matanya dan menatap tajam ke 3 pelayan yang terus menunduk.
" Tuan Sean ada rapat mendadak sehingga harus meninggalkan anda di sini." Ucap Pelayan itu membuat Calista menelan pahit di kerongkongannya.
" Aku tau kau berbohong." Calista kini kembali menangis dengan sesenggukan. Siapa yang mau mendengarkan Calista sedang 3 pelayan itu hanya diam dan menunduk.
...***...
" Tuan, nyonya Rose ada di dalam." suara Max pelan melihat Sean yang ikut bersembunyi di kejauhan.
" apa kau sudah memastikan tidak ada bahaya jika kita langsung menyerang?" Sean kini memperhatikan keadaan yang di jaga ketat dengan waspada.
" Tuan kita ketahuan." Max gelagapan ketika anak buahnya tertangkap anggota musuh.
" Bodoh, cepat alihkan fokus mereka aku akan masuk dan mencari Rose!" Perintah Sean membuat Max memerintah anak buahnya melalui earphone di telinga kanannya.
Sean mengendap berjalan ke dalam ruangan membunuh beberapa orang dalam keheningan.
satu per satu ruangan di bukanya hingga dia menemukan Rose yang terduduk di pojok ruangan dengan keadaan berantakan.
" Sayang." Seketika Sean memeluk Rose yang menangis berjongkok di sudut ruangan dengan tangannya yang menutupi kedua telinganya.
" pergi, pergi." Rose menangis histeris sehingga Sean langsung mendekapnya hangat dan penuh cinta.
" Ini aku Sean, Sean mu Rose!" Sean mengecup lama kening Rose tak terasa bulir matanya hampir menetes jika saja dia tidak ingat sekarang dirinya dalam ancaman bahaya. Dengan pelan Sean menuntun Rose untuk berdiri. Sean benar-benar marah melihat kondisi wanitanya yang di perlakukan buruk oleh Vulsufatken.
Sean menembak orang-orang yang menghalangi jalannya untuk keluar dari tempat keparat itu.
" Tuan pergilah bawa Nyonya Rose, saya akan mengurus sisanya." Max kini berdiri di depan Sean yang menatap mayat-mayat berserakan di depan bangunan itu hasilnya dan anak buahnya yang membantai habis anak buah musuh.
di lain sisi seorang yang terduduk di kursinya terdiam cukup lama menatap layar monitor yang ada di hadapannya saat ini menampilkan CCTV di ruangan Rose.
" Tuan, kita kehilangan Pion emas kita. Sean berhasil menemukan Rose dan membawanya." seorang anak buah bergetar ketika menyampaikan fakta sebenarnya takut jika Tuannya akan membunuhnya sekarang.
Namun lelaki itu tertawa mendengar perkataan anak buahnya.
" Itu yang aku harapkan agar rencana ku berjalan lancar kali ini." Lelaki itu bersuara membuat anak buahnya berpikir keras. Apa yang ada di kepala Tuannya ini tak bisa di mengerti oleh anak buahnya sendiri.
" Lihatlah apa yang akan terjadi." Lelaki itu mematikan layar monitor di hadapannya dan memberi Isyarat kepada anak buahnya untuk pergi.
" Sean kau selalu saja bodoh dan ceroboh dalam hal cinta." Lelaki itu tersenyum licik dan melemparkan panah kecil tepat ke arah selembar foto Calista yang terpajang di ruangannya. menargetkan wanita cantik yang tengah mengandung anak penerus Sean yang bodoh bukanlah hal kebetulan namun sudah di rencanakan dengan matang.