One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
ikhlas?



Sean sepertinya benar-benar ingin membuat Calista menjadi yang paling terburuk.


Ketika Calista sudah hampir sembuh, kenapa Sean tiba-tiba muncul lagi. Menghancurkan Benteng yang coba di pasang Calista dengan tinggi selama 5 tahun ini.


Sesakit ini, hati Calista tidak bisa berbohong, dirinya masih mencintai Sean. Tapi mengingat yang lalu membuatnya harus melepaskan Sean dan menjauh darinya. Sean adalah racun, Sean berbahaya dan tidak benar mencintainya. Lantas kenapa di lubuk hati Calista masih berharap lelaki itu berubah menjadi pria baik, sesuatu hal yang mustahil terjadi.


Calista menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya yang terasa berat. Sean datang beberapa saat hanya untuk memberi peringatan padanya, tapi jelas setelah itu Sean akan kembali dan membuat hidup Calista lebih sengsara. Calista tidak bisa menaruh Arthur dalam situasi bahaya jika lelaki itu terus membantunya. Calista tidak mau kejadian Juan terjadi pada Arthur. Lelaki itu terlalu baik untuk Calista.


Dering ponsel Calista menyadarkan dirinya untuk berdiri dari setengah jam, menarik koper Bella dan Adrian ke dekat meja kamar.


" Mom, kau di mana?" Suara Bella dari seberang telepon membuat Calista menutup mulutnya meredam tangis yang terisak dengan tangannya sendiri.


" Mom, kau tidak apa-apa?" Kini Suara Adrian yang terdengar membuat Calista menjauhkan telepon dari telinganya.


Calista tidak mau kehilangan mereka berdua.


" Calista apa yang terjadi padamu!" Suara khawatir Arthur membuat Calista menarik nafas dan bersuara dari balik telepon.


" Arthur, sebentar. Aku masih membereskan baju Bella." Suara Calista terdengar parau dan serak membuat Arthur terdiam lama di seberang telepon.


" Aku akan ke sana." terdengar suara khawatir Arthur membuat Calista langsung mematikan sambungan ponsel dengan sepihak.


Calista mengelap tangisnya, Arthur tidak boleh melihat dirinya menyedihkan seperti ini. Bergegas Calista pergi ke wastafel dan mencuci wajahnya.


kata-kata Sean terus terngiang di kepalanya.


...****************...


Arthur melajukan mobilnya ke rumah Calista. Semoga wanita itu baik-baik saja.Pikirannya bercabang-cabang, Calista, anaknya, atau dirinya.


bukan Hal mudah untuk membuat Arthur menyerah terutama mendapatkan hati Calista selama ini. Sean tidak boleh asal merebutnya dari Arthur. Pion emas telah di keluarkan, ini kesempatan Arthur untuk menyingkirkan Sean dari hati Calista.


Arthur stop tepat di depan halaman rumah Calista. Bergegas turun dan langsung mendobrak pintu rumah Calista.


Calista yang sudah terkapar di lantai dan tak sadarkan diri membuat Arthur menahan amarahnya. Pasti Sean si pengecut itu telah datang ke sini. Bergegas Arthur membawa Calista ke dalam mobilnya melaju ke arah rumah sakit milik keluarga Arthur di Indonesia.


...****************...


" Apa rencanamu Max!" Kini Sean menyorot tajam Max yang menunduk di hadapannya.


" Apa aku harus menculik Calista?" Entah pikiran dari mana membuat Max mendongak menatap Sean.


" Situasi tidak aman, jika banyak yang mengenali identitasmu tuan." Ucap Max


" apalagi di tambah rencana bodoh mu yang ingin menculik Calista." lanjut Max yang kini menatap Sean tanpa ekspresi apapun.


" Tapi aku tidak bisa membiarkan Arthur keparat itu meracuni otak wanitaku dan mengambil posisiku!" Sean kini berdiri dari kursi dan berjalan ke arah Jendela ruangan rahasia.


Sedang Max terdiam, hatinya sangat ingin menggerutu. Tapi apalah daya dia hanya bawahan bukan atasan.