
...haruskah bersama jika luka yang kau dapatkan....
...One Night Stand With Ceo Arrogant...
Calista masih saja menangis dalam diamnya tatapannya mengarah ke luar jendela hotel milik Sean. memang tidak ada yang tau di balik dunia yang sangat indah ternyata banyak kekejaman di dalamnya.
" Aku akan menjauh darimu Sean tapi aku sudah mulai jatuh cinta padamu." bibir Calista bergetar mengucapkannya, matanya terpejam mencoba menahan sakit di ulu hatinya.
sendiri di dalam ruangan hotel ini, tidak ada ponsel ataupun seseorang yang bisa di ajak berbicara membuat Calista merasa kesepian.
pintu terbuka membuat Calista mengelap tangisnya.
" Maaf nyonya waktunya makan siang." ucap salah satu pramusaji hotel.
" letakkan saja di meja dan keluarlah." Calista berbicara namun tidak mau menoleh membuat Pramusaji itu khawatir.
" tapi nyonya tuan Sean menyuruhmu makan." Pramusaji itu masih berdiam membuat Calista Emosi.
" Apa kau tidak dengar yang kukatakan? keluar!" Calista berdiri dan berteriak ke arah pramusaji wanita itu, membuat wanita itu bergetar akibat bentakan Calista dan langsung keluar kamar.
" Maaf nona." pramusaji itu menutup kembali pintu dengan pelan.
" argght.." Calista melemparkan segala hal yang bisa di jangkaunya ke arah dinding terakhir vas bunga yang di lemparnya cukup keras membuat suara terdengar hingga ke luar ruangan.
" Ada apa nyonya." 5 anak buah Sean yang berjaga kini masuk ke dalam ruangan Calista melihat ruangan yang sudah berantakan dan melihat Calista menangis kencang dan terduduk dilantai dengan darah yang mengalir di tangannya membuat mereka panik dan langsung menolong Calista.
" lepaskan aku, menjauh dariku." Calista memberontak namun tenaganya sudah habis dan menjadi melemah membiarkan dokter yang memasuki kamarnya kini mengurusi pecahan beling yang menusuk tangannya.
" Tuan Sean tidak menjawab telpon." salah satu anak buah Sean berbicara namun masih bisa di tangkap oleh telinga Calista.
" Tuan Max juga tidak mengangkat telepon" salah satu anak buah juga mengabarkan hal sama membuat Calista menatap nanar ke arah perutnya.
" Tuan Sean sedang mengurus nyonya Rose yang baru di temukan." anak buah itu memberikan kabar yang membuat Calista semakin terluka.
" pergi kalian semua dari sini. Keluar!" Teriak Calista memberontak membuat orang-orang yang berada di sana semakin khawatir.
" Maafkan saya Nyonya." Dokter perempuan itu kini menyuntikkan cairan yang membuat kesadaran Calista semakin menghilang.
perawat dengan sigap mengangkat Calista ke atas tempat tidur dan menyelimutinya. memberikan obat bius kepada Calista adalah cara terakhir agar Calista bisa tenang dan beristirahat untuk sementara waktu.
...***...
" Rose, maafkan aku." Sean mengelus pelan kening wanita yang kini terbaring lemas di kamarnya, wajah Sean terlihat sedih dan ingin meluapkan kerinduannya selama ini terhadap wanita ini.
air mata Sean terjatuh memperhatikan lebam yang ada di wajah Rose, dirinya telah gagal untuk melindungi wanita ini dengan pelan Sean mencium kening Rose lama menyalurkan rasa rindu yang telah lama di bendung nya selama ini. Tak ada yang bisa menggantikan posisi tanggung jawab Sean kepada Rose. Rose adalah wanita yang dari dulu Sean harus jaga.
Lalu bagaiman dengan Calista seketika Sean berdiri dan menghidupkan hp nya terlihat notifikasi telpon dan pesan dari anak buahnya dengan sigap Sean melangkahkan kakinya ke luar kamar lalu mengemudikan mobilnya dengan melaju cepat.
Rose dan Calista sama-sama membutuhkan Sean. Sean tidak boleh egois terhadap cintanya.
...***...
Sean membuka pelan kamar hotelnya, beberapa kekacauan yang di buat Calista telah di rapikan oleh pegawainya.
" Maafkan aku." Sean berkata lirih tepat di telinga Calista namun maafnya terdengar sangat sakit di lubuk hati Calista. Maaf Sean hanya bualan semata hingga tanpa sadar air mata Calista menetes berlahan ketika dirinya pura-pura tidur. Punggungnya bergetar membuat Sean menyadari bahwa Calista tidak tidur.
" Calista." Kini Sean terduduk dan membalikkan wajah Calista ke arahnya. tatap mata mereka beradu pandang.
" Katakan padaku apa yang terjadi." Sean menatapnya tajam dan memegang luka yang ada di tangan kanan Calista.
" Apa peduli mu Sean?" Calista
menghempaskan tangan Sean " Menjauh lah dariku!" Lanjutnya dengan penuh emosi. Membuat Sean menatapnya elang dan menusuk ke dalam retina Calista.
" Aku tidak mencintaimu dan aku tidak bisa menikah denganmu." Calista menatap tajam Sean namun air mata tidak bisa membohonginya bahwa dia sudah jatuh ke dalam cinta lelaki itu.
" Apa yang kau katakan Calista!" Sean mencengkram erat lengan Calista membuat Calista mengerang kesakitan.
" aku tidak menerima penolakan." Sean kini menarik Calista ke dalam pelukannya walaupun Calista memberontak untuk di lepaskan Sean lebih besar kekuatannya dan menahan kuat Calista.
" pergi dariku Sean." Calista berkata di antara sesenggukan tangisnya yang semakin menjadi benar-benar titik terlemahnya sekarang.
" Ku mohon tenangkan dirimu sayang." Sean mengelus kepala Calista pelan tak terasa air mata juga ikut turun dari sudut matanya.
" Bagaimana bisa aku tenang Sean ketika aku tau kau memperjuangkan cinta selain aku." kata-kata Calista membuat Sean membelalakkan matanya terkejut.
" Siapa yang memberitahumu Calista?" Sean kini melepas pelukannya dan menatap mata sendu itu.
" Siapa Rose?" Calista bertanya balik terasa pahit di kerongkongannya untuk sekedar menelan ludah.
" Dia Istriku." Ucap Sean berat membuat Calista lemas dan semakin menangis. Sean benar-benar telah menghancurkannya kali ini.
" Dengarkan aku dulu Calista." Ucap Sean yang kini menggenggam tangan Calista.
" Menjauh Sean, menjauh dariku!" teriak Calista hingga nafasnya tersengal-sengal membuat Sean Khawatir.
" Katakan Sean bagaimana bisa kau tega menghancurkan ku, aku telah memberikanmu kesempatan tapi kesempatan itu akhirnya membuatku semakin kecewa." Calista kini memegang dadanya yang mulai sesak.
" Aku malu mengandung anakmu Sean." Ucapan Calista menusuk hati Sean sakitnya melebihi sakit tertembak pistol.
rahang Sean mengeras tatapannya tajam juga menakutkan tapi air mata berlahan jatuh dari sudut matanya.
" Rose istri sekaligus wanita yang harus aku jaga. Kau tidak bisa mengubah takdir itu." kata-kata Sean penuh penekanan.
" dan kau tidak bisa mengubah takdir bahwa kau telah mengandung anakku." Sean kini mempererat genggaman tangannya di tangan Calista.
" Dan kau tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu." Calista menatap mata Sean dengan penuh kebencian.
" Jangan berani untuk membunuh darah daging ku kalau itu terjadi aku tidak segan akan membunuhmu secara kejam." Ekspresi Sean terlihat marah dan datar namun air mata masih tetap keluar dari sudut matanya menahan begitu pedihnya kenyataan yang harus di hadapinya sekarang.
" Aku tidak bisa hidup tanpamu." Sean kembali memejamkan matanya menahan emosi yang bercampur aduk dalam dirinya.
" Dan aku tidak bisa hidup denganmu Tuan Sean yang terhormat!". Calista semakin memegang dadanya yang semakin sesak dan dirinya seketika tak sadarkan diri