One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Twenty third



berkali-kali Calista menggeliat dari tidurnya. Ingin menggerakkan tubuhnya namun terasa sulit seperti ada beban di atas perutnya membuatnya tak bisa leluasa dan memilih membuka Matanya secara berlahan. matanya menatap langit-langit ruangan berwarna putih dan beralih ke sampingnya. matanya beradu tatap dengan mata Sean yang memperhatikannya sedari tadi. Lengan Sean yang memeluknya posesif membuat Calista tak nyaman.


" Kau." Calista terkejut bukan main melihat Sean yang memeluknya sekarang.


" Morning baby." Sean mengecup singkat pipi Calista.


" Sean di mana bayi-bayiku?" Calista menatap tajam ke arah Sean dan berusaha berontak.


Namun bukan jawaban yang di dapatkan Calista. Malah Sean yang langsung ******* bibirnya dengan agresif.


Sean begitu merindukan bibir mungil berwarna Cherry ini. tangannya menahan tangan Calista yang terus berontak. Calista adalah Candu bagi dirinya. Sean menuntun Calista untuk menikmati momen ini.


Calista mengerang ketika ciuman Sean turun ke lehernya. Jangan lagi, Calista tidak mau mengulang kesalahan kedua kalinya. otaknya menolak tapi tubuhnya berkhianat dan memilih menikmati momen ini.


Hingga tangisan bayi menyadarkan Calista dan mendorong kasar Sean.


" Bayiku Sean." Calista spontan berdiri dan mencari bayinya. di lihatnya 2 kotak tempat tidur bayi dengan tampilan elegan. Dan di dalamnya ada Anthony dan Geraldy yang menangis.


Calista menggendong Geraldy sedangkan Sean ikut turun dan menggendong Anthony.


" Mereka haus." Calista dengan cepat memberikan Asi pada Geraldy.


Sedangkan Anthony kini mulai diam ketika di gendong Sean.


" Aku juga haus Calista." Spontan ucapan Sean ketika melihat pemandangan indah di depannya.


" Itu urusanmu!" Calista ketus dan dingin menjawab Sean.


" Sayang, lihat ibumu pemarah sekali." Sean berbicara kepada Anthony yang ada di gendongannya.


" Dan ingat, kau tidak boleh memisahkan ku dengan bayi-bayiku Sean." Lanjut Calista.


" Harus berapa kali kukatakan Calista, aku tidak akan memisahkan kalian!" Tegas Sean muak dengan perkataan Calista.


" Di mana ayah, ibu, dan Edward?" Calista mengalihkan topik ketika Sean terus saja menatapnya.


Sean terdiam dan menaikkan kedua bahunya memberitahu Calista bahwa dia pun tidak tau.


" Jangan berbohong Sean!" Calista kini mencoba menelaah ekspresi wajah Sean tapi wajah datar yang di tampilkan dari wajah lelaki itu.


" Siapa yang berbohong." Sean menatap dalam mata Calista ada suatu kebenaran yang tertahan, Sean tidak mau mengatakannya sekarang.


Calista terdiam rasanya dirinya sangat membenci laki-laki ini, tapi kenapa dalam hitungan menit lelaki itu membuat Calista kembali merasakan hangatnya kasih sayang dari Sean. Katakan bahwa Calista adalah wanita yang paling bodoh karena mudah sekali luluh dengan perlakuan Sean, ada penyesalan yang menelusuk jauh di relung hatinya untuk dirinya sendiri.


" Calista, menikahlah denganku." Sean menatap serius kedua mata Calista.


Entah Calista harus bahagia, atau kecewa kali ini. Setelah panjangnya kisah, peliknya kehidupan yang di lalui karena seorang lelaki yang membuat luka kini mengajaknya menikah.


" Omong Kosong." Calista mencoba kuat dan mengalihkan pandangannya ke arah bayinya.


" Aku serius." Sean kini menangkup wajah Calista dengan tangannya dan mencoba meyakinkan wanita itu. Cintanya benar-benar tak main-main, dirinya ingin menjadikan Calista sebagai istrinya walaupun Sean tau tak mudah untuk membuat Calista percaya Padanya setelah banyak hal yang terlewati.


" Sean apa kau gila!" Kini Calista menatapnya, air mata yang di tahan sedari tadi akhirnya jatuh bersamaan dengan tangan Sean yang melepaskan tangannya dari wajah Calista.


...***...