One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Kebebasan



Adrian terus memukul samsak yang ada di depannya, meluapkan segala emosi yang di rasakan selama ini.


Nafasnya naik turun menandakan nafasnya sudah tidak beraturan akibat pukulan brutal yang di lakukannya sangat kuat terhadap Samsak itu.


mom tidak mau kau mengikuti jejak daddy mu Suara Calista terus saja terngiang di pikirannya. Calista yang secara terang-terangan mengucapkan kata itu di depan Sean dan dirinya.


Dad butuh penerus untuk organisasi ini.


Sean yang menatap datar ke arah Adrian. Hingga membuat cekcok mulut di antara Calista dan Sean.


pukulan terakhir yang sangat keras menghentikan pikiran yang terus berteriak di kepala Adrian. Tangannya meraih botol minum di atas meja dan meneguk air dengan cepat berlahan menghilangkan dahaga yang sedari tadi dirasakan kerongkongannya.


Jadwal apa hari ini? Tangan Adrian mengambil ponselnya. Di lihat 3 kali panggilan tak terjawab dari Bella membuatnya sedikit tersenyum. Bisa dipastikannya adiknya tengah mengomel di tempatnya berada sekarang perkara ponsel yang tidak di angkat Adrian.


"Adrian, I want To Kill you." Teriak Bella dari seberang telpon membuat adrian menjauhkan ponsel dari telinganya. Adik kecilnya benar-benar marah kali ini.


" ada apa?" Balasan Adrian benar-benar membuat Bella semakin murka dan memutuskan telepon secara sepihak.


...****...


" Adrian brengsek." Bella kini melempar ponselnya ke arah kasur bersamaan dengan tubuhnya yang di hempaskannya ke kasur empuk di kamarnya. Kakak tersayangnya kali ini benar-benar membuatnya marah.


Seharusnya hari ini Bella bisa masuk ke dalam Bar Elit menyusul teman-temannya jika saja bodyguard Adrian tidak menghalanginya.


Calista melarang keras Bella untuk pergi ke Bar, dengan cara menyuruh Adrian terus mengawasinya.


" Umurku sudah 22 tahun, aku juga ingin bebas." Bella kini menumpahkan emosinya dengan cara menangis di balik bantal.


" Dad, aku sudah dewasa, tapi kenapa Adrian dan Mom terus melarang ku melakukan hal yang aku mau." Bella kini menatap mata Sean yang menyorotnya tajam.


Sangar wajah Sean tidak akan bisa di berikan kepada putrinya yang rapuh ini. Sean tau Alasan Calista mendidik keras Adrian dan Bella. Dia tidak mau kedua anaknya jatuh ke lubang yang sama membuat Sean terdiam beberapa detik.


" Sayang berhentilah menangis, benarkah ibumu melarang mu di setiap hal yang kamu mau walaupun itu baik?" Kini Sean duduk di pinggiran ranjang Bella. Dan mengelus lembut Surai Bella yang masih menangis.


" Dad, Aku hanya ingin bebas." ucapan Bella membuat Sean kini menatap retina mata putrinya yang sangat mirip dengannya.


Sean tau akibat Bella menangis seperti ini, anak buahnya sudah mengatakan Bella yang bersikeras ingin masuk ke dalam bar namun di gagalkan oleh bodyguard Adrian.


" Dunia bebas itu membahayakan." Sean berusaha sabar menghadapi Bella yang masih belum tau bagaimana kerasnya dunia di luar sana.


" Tidak Semua Dad." Bella menyangkalnya karena dia melihat kehidupan teman-temannya yang semakin bahagia ketika di bebaskan oleh orang tuanya dan di bolehkan untuk hal-hal yang mereka mau.


Bella hanya melihat dari sudut pandangnya saja, keras kepalanya sama dengan Calista membuat Sean tersenyum ke arah putrinya ini.


" Bebas yang membuatmu hampir di lecehkan seorang lelaki kemarin malam?" Perkataan Sean sontak membuat Bella terdiam. Apakah ayahnya tau perkara lelaki yang menghalanginya di malam hari dan Anak buah Adrian yang menembaknya.


" Dad tau?" Pertanyaan konyol Bella membuat Sean kini gemas dan mengacak rambut Bella, membuat Bella cemberut dan menatap tajam ke arah Sean.


Bagian mana yang Sean tidak tau tentang pertumbuhan anak-anaknya. Bahkan Sean akan memberikan pengawasan Khusus untuk Bella dan Adrian di manapun mereka berada tanpa sepengetahuan mereka.


" Dunia memiliki Sisi gelap dan terangnya, kau harus melihat keduanya, jangan hanya salah satu." Wajah Serius Sean membuat Bella kini tertunduk dan air matanya hampir jatuh lagi, putrinya ini sangat cengeng mengikuti sifat Calista dulu.