
Calista terbangun pagi hari, tidurnya tidak tenang semalaman, bayang-bayang Sean selalu menghantuinya.
" Mom kenapa aku harus ikut kerja, aku ingin bermain." Bella bersandar di dalam mobil memeluk Teddy bear pemberian arthur. wajahnya cemberut dan kini moodnya buruk.
Sedangkan Adrian yang rapi kini hanya terdiam dan wajahnya sungguh benar-benar mirip dengan Sean membuat Calista menggelengkan kepalanya. Adrian tidak boleh mengikuti jejak ayahnya.
" Sebentar saja, jika paman Arthur sudah selesai pekerjaannya. dia akan menjemput kalian." Ucap Calista tersenyum dan menjalankan mobilnya.
sepanjang perjalanantak ada lagi yang bersuara, Adrian tenang memejamkan matanya dan Bella memainkan bonekanya. sedang Calista sibuk dengan isi pikirannya sekarang.
Hingga mereka sampai di sebuah bangunan tinggi dan kokoh.
" Mom apa kau bekerja di sini?" Bella takjub melihat bangunan besar di hadapannya.
" Iya sayang." Bella menuntun kedua anaknya yang baru turun dari mobil untuk masuk ke bangunan itu.
pegawai yang di lewatinya terpesona dengan ketampanan Adrian kecil dan gemasnya Bella di sepanjang Jalan.
Semua orang berbaris rapi ketika sebuah mobil sport berhenti di depan bangunan itu. menunduk hormat ketika seorang pria turun dari mobilnya.
Langkah Calista mundur, kedua tangannya memegang erat Bella dan Adrian. Tak di dihiraukannya Bella yang meringis kesakitan akibat genggaman Calista. Wanita itu sangat susah untuk menghirup udara di sekitarnya seperti Oksigen di sekitarnya mulai menipis dan menjadi waspada ketika lelaki itu menyorotnya dengan tajam.
Sean William Charless, melangkah menghampiri mereka. Calista beku pergerakannya sangat lambat dan kakinya mulai bergetar.
" Jangan terlalu keras menggenggam Bella." Bisik Sean di telinga Calista membuat Calista membisu. Setelahnya Sean mengelus kepala Adrian yang menatapnya tajam.
" Jangan Sentuh anakku." Calista menarik mundur Adrian, Suaranya terdengar bergetar membuat Sean tersenyum. Langkah Sean masuk ke dalam bangunan besar itu sedang Calista kembali menarik Bella dan Adrian masuk ke dalam mobil dengan cepat. Calista tidak peduli ketika menjadi tontonan banyak orang yang di pedulikannya sekarang Bella dan Adrian dan dirinya harus menjauh dari Sean.
" Tidak sayang." Calista masuk dan menjalankan mobilnya. Tujuannya adalah Arthur. Arthur yang bisa di harapkannya sekarang.
Calista melaju kencang ke apartemen Arthur. Adrian dan Bella hanya terdiam di dalam mobil. Hingga 25 menit mereka sampai di Apartemen Arthur.
" Paman Arthur." Bella langsung memeluk Arthur manja bersandar di bahunya. Sedang Calista semakin menggenggam tangan Adrian.
" Bermainlah di balkon bersama Adrian." Kini Arthur tersenyum mengisyaratkan kedua anak itu untuk pergi ke balkon. Dirinya sangat tau ada yang hendak di sampaikan Calista padanya.
" Arthur,,Arthur..Hikss.,,hikss.." Calista menangis terisak. air matanya luruh seketika ketika Arthur memegang kedua bahunya yang bergetar hebat.
" Ada apa Calista." Bukannya menjawab Calista malah memeluk lelaki itu dan menangis kencang.
" Calista ada yang mengganggumu?"
" Arthur..Arthur..." Calista tak sanggup melanjutkan kata-katanya dirinya terlalu takut dan lemah.
Arthur menuntun Calista untuk duduk di sofa ruang tamunya.
" Se..an,, Se..an dia kembali." Calista semakin menggenggam erat kemeja Arthur tangisnya belum juga reda. Calista tidak mau, traumanya belum sembuh sepenuhnya, tapi Sean muncul lagi membuat 5 th memperbaiki psikolognya menjadi berantakan.
" Calista dengarkan aku." Kini Arthur menatap wajah Calista yang sendu dengan mata yang bengkak. Tangisnya mulai reda ketika melihat kehangatan di mata Arthur.
" Aku tidak akan membiarkanmu celaka." Arthur langsung memeluk Calista erat. Calista terdiam, apakah Arthur masih berharap dengannya? sedang Calista sendiri saja sudah mati rasa kepada siapapun. Calista tidak ingin memaksakan hati dan menyakiti hati siapapun, terlebih Arthur yang baik padanya.
...****************...