One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Twenty fifth



Sean berjalan cepat di iringi dengan 2 orng bodyguard berbaju hitam. Masalah apa lagi yang di perbuat musuh kali ini hingga ayahnya menyuruh turun tangan.


" Maafkan aku nak, aku hanya ingin duduk di kursi sana" Seorang kakek tua tidak sengaja menabrak Sean menumpahkan es Coffe ke kemejanya yang putih. 2 bodyguardnya sudah hendak mendorong kakek itu tapi Sean menahan mereka dengan instruksi tangannya.


" Tidak apa-apa." Respon Sean membuat 2 anak buahnya tercengang terlebih Sean yang berusaha membantu sang kakek yang tua renta yang memegang tongkat untuk menahan tubuhnya berjalan ke arah kursi.


Sean William Charless yang tak punya hati kini membantu kakek tua.


" Nak, jangan percaya pada siapapun, seorang yang sangat kau percaya bisa saja mengkhianatimu. " Mata Sean dingin memicing tajam ke arah kakek tua itu.


" Terima kasih pak tua." Ucap Sean yang langsung berdiri dan meninggalkan kakek itu masuk kedalam mobil hitam sedangkan kedua anak buahnya memakai mobil lain. Mereka ke arah yang berbeda.


hatinya resah sedari tadi mengingat Calista dan anak-anaknya karena Max sedari tadi tak bisa di hubungi. Lihat saja apa yang akan Sean perbuat jika ada yang berani menyentuh keluarga kecilnya. Sean dengan melaju kini kini langsung meluncur bersama anak buahnya ke arah masalah inti mereka ke sini.


perebutan kekuasaan, penggelapan, jual beli organ dan lainnya itulah kerasnya dunia gelap di hidup Sean. Dunia begitu jahat namun jahat itu tersembunyi rapat dan hanya sedikit orang yang menyadarinya. Dunia begitu kejam untuk orang-orang yang lemah dan tak berkuasa.


Sean sadar ada mobil yang mengikutinya tapi Bukan mobil anak buahnya. Sean melajukan mobilnya dan mengambil jalan pintas. Mobil itu ikut semakin melaju dan mengikuti Sean.


" Bodoh." Sean Kini semakin menambah laju motor nya ketika mobilnya mengarah ke lokais yang jauh dari Orang banyak. Matanya memicing tajam mendapati seorang lelaki dengan badan gendut dan besar yang mengemudinya. Senyum Licik Sean kini mengembang. Bukankah menyenangkan bermain-main dengan musuh.


" Peringatan 1." Sean bersuara kepada anak buahnya melalui earphone kecil di telinganya.


Sudah di pastikan anak buahnya gesit untuk meambil langkah sekarang.


Sean berhenti, membuat mobil di belakangnya ikut berhenti.


Tidak mungkin Sean akan menyerahkan diri begitu saja. Tapi kenyataannya Sean turun dari mobilnya dan 4 orang lelaki juga turun dari sebuah mobil.


Tatapan Sean menyipit salah satu lelaki itu adalah Juan Albert. Mantan kekasih Calista.


" Hay, senang bertemu denganmu Juan Albert." Sean menatap tajam dan membunuh ke arah Juan.


" Wah Senang bertemu denganmu Sean William yang pernah menyiksa dengan sangat keji." Juan menatap penuh kebencian ke arah Sean. Sean yang merebut Calista darinya dan membuat hidupnya hancur.


Doar,,,


Peluru tepat mengenai punggung Sean tidak hanya sekali tapi berkali-kali membuat Sean lemas dan darah yang keluar dari mulutnya.


" Bedebah Sialan." Sarkastis Sean yang Melihat Senyum Juan tersungging Licik.


......................


Calista menangis ketika mobil mulai menjauh dari kediaman Sean.


" Ka, ini aku Edward."


Calista terkejut ketika mendapati Edward yang menyetir mobil dengan memakai topi dan masker.


" Edward kemana saja kau." Calista malah bertanya membuat Edward menghela nafas.


" Panjang Ceritanya." Edward tetap menyetir dan sesekali menatap kaca spion berjaga-jaga jika ada yang mengikutinya.


" Kau gila kak. Nyawamu dalam bahaya, dan bayimu masih membutuhkanmu." Edward menatap sedih ke arah Calista air matanya hendak turun namun di tahannya dengan menutup mata.


" Aku percaya padamu Edward, tapi bayiku yang 1 nya juga membutuhkanku." Calista kini mencium bayi yang di gendongnya sebelum memberikannya kepada Edward.


Edward menghela nafas panjang sebelum akhirnya menerima bayi itu.


" Pergilah, doakan aku." Calista turun dari mobil. Dan dengan hati Berat Edward menjalankan mobil dirinya memutar otak untuk bisa membantu kakak nya sekarang ini, setelah banyaknya pengkhianatan orang sekitarnya.


Calista berlari kembali kekediaman Sean, tidak di pedulikannya kakinya yang tanpa alas menginjak kerikil-kerikil kecil. Dress panjangnya kini mulai tertiup angin malam, menusuk ke tulangnya tapi tak mematahkan langkahnya yang terus berlari, di pikirannya hanya keselamatan bayinya, bayinya sangat membutuhkannya, bayinya sangat rapuh. Air mata terus membasahi pipi Calista kali ini semakin deras ketika dirinya sudah mulai mendekati kediaman Sean yang tengah di jaga ketat, bagaimana bisa masuk? apakah Calista harus terang-terangan menyerahkan diri atau secara diam-diam? Calista berpikir namun tubuhnya secara tidak langsung menyerahkan diri.


" Aku ingin mengambil bayiku." Satpam seakan tuli dan acuh dengan kehadiran Calista.


" Kalian dengar aku!" Calista berteriak dan berusaha melewati gerbang namun dirinya di tahan oleh 2 orang lelaki bertubuh besar.


klakson mobil yang hendak masuk membuat Calista menoleh, dan kedua lelaki itu menarik kasar Calista untuk minggir.


" Kasian!" Suara seorang wanita cantik yang membuka kaca mobilnya dengan senyum merendahkan. Calista sangat ingat wajah wanita itu, wanita yang mengatainya j***ng dan menyembur air ke wajahnya. Simpanan Sean!


Wanita itu keluar mobil dan melangkah ke arah Calista.


" Hay." wanita itu berkata sambil memperhatikan penampilan Calista.


Calista tidak merespon wanita itu, dirinya berusaha memberontak untuk lepas dari cengkraman kedua lelaki itu, pikirannya hanya ingin menyelamatkan bayinya sekarang.


Tiba-tiba wanita itu menjambak rambut Calista.


" Hey, J***ng apa kau tuli!" wanita itu berteriak keras di telinga Calista.


" Kau yang j***ng!" bukannya memohon ampun Calista malah membalas teriakan wanita itu. Tangannya tak bisa melepaskan jambakan karena di pegang oleh 2 lelaki yang sedari tadi menghalangi langkahnya.


" lucu sekali, dirimu dengan sukarela yang mau di tiduri lelaki hingga hamil, dan mengaku bahwa itu anak Sean." Wanita itu tersenyum licik dan semakin menjambak rambut Calista.


Calista meludah tepat di wajah wanita itu membuat wanita itu berang dan marah besar, dengan tangannya dia berusaha membersihkan, terlihat wajahnya yang mulai memerah dan siap menghantam Calista.


" Kurang ajar kau!" Wanita itu berhasil menampar pipi Calista.


" Hentikan!" Max menahan wanita itu yang masih hendak menghajar Calista dengan membabi buta.


" Max di mana bayiku." Calista tak gentar berteriak meskipun hidungnya kini mengeluarkan darah dan kondisinya sangat lemah.


Tapi Max diam tak menghiraukan Calista.


" Max kau pengkhianat! Sean salah telah percaya padamu." Calista kini berteriak ada amarah yang di tahannya untuk Max.


" Hidupmu tidak akan tenang Max telah memisahkan anak dengan ibunya." Nafas Calista tersengal-sengal tatapannya mulai kabur. Harapan terakhirnya hanyalah pertolongan Tuhan. Kalaupun dirinya harus mati sekarang Calista Ikhlas tapi 1 hal biarkan bayi-bayinya tetap hidup.


Calista ambruk dengan wajah yang lebam dan hidung berdarah dan wanita itu tertawa lepas menyaksikan keadaan Calista yang sekarat.