One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
twenty Fourth



hidup penuh dengan kejutan, sedih dan bahagia selalu ada mengiringi setiap langkah manusia. Rasanya enak jika hanya duduk berdiam diri dan menjadi penonton tanpa harus bersusah payah menjalaninya. Helaan nafas wanita itu semakin berat ketika mengingat dirinya hanya seorang diri di ruangan kosong yang indah ini dengan beribu harapan yang semakin hari semakin pupus.


saking kecewa nya membuat air mata tak bisa lagi jatuh, padahal sakit, sangat sakit melihat kenyataan pahit. Berulang kali menampik dan berpositif thinking tapi ternyata realita yang menampar keras dirinya sendiri.


Dia adalah Rose, kenyataan telah Menyadarkannya dari dunia mimpi yang pernah di bangunnya bersama Sean.


Bukan, sebenarnya Bukan Sean William Charless. Tapi Deon William Charless kekasih hatinya yang sangat mencintainya, di detik akhir dia yang menyuruh Sean untuk mencintainya dan memperlakukan Rose dengan baik.


Lantas kemana lelaki itu, apakah telah mati, berperang atau menjadi tahanan sehingga tidak pernah muncul lagi bahkan hingga sekarang. Rose merindukan Deon.


Cinta pertama dan satu-satunya yang bisa membuat dirinya merasa sangat di cintai.


dirinya mengecup liontin pemberian Deon yang sudah lama berada di kotak perhiasan, inilah peninggalan terakhir lelaki itu.


" Deon bisa kah kau kembali dan lihat apa yang di perlakukan kembaran mu padaku, aku sudah bersusah payah mencintainya tapi dia mengkhianati ku." air mata Rose akhirnya jatuh.


bukankah ini bertolak belakang, Sean dengan berkelimpahan harta dan kekuasaan sedangkan Deon tidak tau entah kemana dan tak ada usaha Sean untuk mencari kaka nya itu. Kabar Deon seperti tersembunyi rapat, tertelan bumi dan di anggap tidak pernah ada.


kenapa waktu itu Sean berhenti tidak membunuh Rose malah membiarkannya tetap hidup, bukankah prinsipnya hanya 2 pilihan mati atau tersiksa. jika saja Sean membunuhnya mungkin saja dirinya akan bertemu Deon atau Deon yang akan datang menemuinya.


kau harus tetap hidup sayang ucapan terakhir Deon sebelum akhirnya lelaki itu menghilang. Dia membiarkan Sean mengambil alih wanitanya. Rose ingat kecupan terakhir dari Deon yang selalu di rindukannya.


" Tuhan aku sudah sering kecewa, hanya ingin satu, pertemukan aku dengan Deon." Lirih Rose dengan suara bergetar, tangannya bergerak memakaikan liontin ke lehernya sendiri.


Rose hanya ingin hidup walaupun tidak dengan kemewahan seperti ini tak apa, sederhana namun damai dengan yang di cintai. Tidak ada rasa was-was, tidak ada ancaman, dan tidak ada kehidupan yang begitu pelik ini.


hanya ingin tenang bahagia dan damai. Tapi dunia seakan terus mendorongnya masuk ke dalam dunia hitam yang penuh kejutan.


mata cantik Rose kini mulai sembab, air matanya akhirnya keluar dengan deras, wajah cantik dan natural itu kini sedang bersedih.


......................


Calista menatap nanar ke arah 2 buah hatinya yang tengah tertidur pulas di sampingnya.


" kenapa?" lirih terucap dari bibir Calista bersamaan dengan air mata yang turun dari kedua matanya. kerongkongannya terasa pahit hanya untuk meneguk ludahnya.


pertanyaan 'kenapa' yang terus dilontarkannya pada tuhan, setega itukah memberikan takdir semacam ini padanya, menyesal sudah tak ada artinya.


Sean begitu jahat, sangat jahat padanya hingga Calista berpikir lelaki itu hanya ingin memanfaatkan tubuhnya saja.


......................


" Pisahkan mereka malam ini!" William tegas menatap mata Max di ruangan dengan minim pencahayaan.


Max terdiam cukup lama dirinya benar-benar bingung dan ragu.


" Untuk kebaikan Sean!" William memainkan emosi Max.


" Baik Tuan." Max kini menatap mata William.


diam-diam William. menampilkan smirk liciknya ketika Max keluar dari ruangan.


tawanya lepas menatap beberapa senjata yang terpajang di dinding itu.


"Smith!" pelan dan tajam suara William menyebutkan nama itu. Sebentar lagi, tunggu saja semuanya akan hancur. Mencoba masuk di permainan, mengusik, dan mencari tau sama saja menyerahkan diri sendiri kepada kematian.


......................


" Permisi Tuan, anda di suruh tuan William untuk mengurus masalah di Swiss." Max kini berada di ruangan Calista ketika mendapati Sean tengah bermain dengan si kembar.


Sean berdiri tegak, wajah yang mulanya tersenyum kini kembali datar.


" Keluarlah Max, sebentar lagi aku akan ke sana." Perintah Sean yang langsung di laksanakan Max.


" Sayang." panggilan Sean tak di gubris Calista, dirinya masih berpura-pura sibuk dengan kegiatannya.


" Calista kau dengar aku!" Kini Sean lebih memilih menangkup wajah Calista dengan kedua tanganya, mata mereka kini beradu tatap.


" jaga anak-anak kita, aku akan segera kembali." Sean mengecup kening Calista lama.


" jaga dirimu Sean." Calista kini bersuara membuat Sean tersenyum bahagia dan langsung memeluk Calista.


air mata Calista jatuh ketika Sean memeluknya, entah apa yang di rasakannya seperti ini adalah pelukan terakhir Sean. Feelingnya kuat akan terjadi sesuatu hal yang besar.


" Jangan Khawatir, aku akan menyuruh Max untuk selalu menjagamu dan anak-anak kita."


Sean memeluk erat Calista. sungguh berat harus meninggalkan keluarganya.


akhirnya Sean melepaskan pelukannya dan langsung ke luar kamar. Max yang setia berada di depan pintu kini terdiam.


" Max, jaga Calista dan anak-anakku. Aku percaya padamu." Sean menepuk bahu kanan Max sebelum akhirnya dia membuka ponselnya mengangkat telepon dari William.


" Baik Tuan." Max terdiam menatap langkah Sean yang semakin menjauh.


Maafkan aku Tuan yang terpaksa harus mengkhianatimu kali ini. Suara hati Max yang semakin tak tenang. hampir saja air matanya jatuh setelah bertahun-tahun dirinya mengabdi pada Sean kini harus mengkhianatinya secara diam-diam.


" Laksanakan malam ini!" Suara Max berbicara dengan orang yang di telponnya. Dan matanya menatap arloji di pergelangan kanannya jam menunjukkan pukul 4 sore berarti tinggal beberapa jam lagi pekerjaan keji itu di lakukan.


......................


Calista hendak menghampiri bayinya yang menangis namun tiba-tiba lampu padam membuatnya kesusahan untuk menggapai kotak box bayi-bayinya.


jatuhan barang membuat Calista was-was pencahayaan kurang membuatnya sulit melangkah, dan dengan langkah pelan kini Calista berhasil menggendong 1 bayinya. 1 bayinya masih di box dan Calista berusaha mengelus kepala bayinya.


Calista jatuh ketika sebuah tangan mendorongnya ke lantai, tangis anak nya semakin keras dan menjadi ketika terdengar Box bayinya jatuh.


" Calista berusaha bangkit lagi dengan tangannya yang menggendong erat 1 bayinya."


"Lari atau kau kehilangan kedua bayimu." Calista bimbang ketika mendengar seorang lelaki yang berbisik tajam ke telinganya. Sungguh Calista tidak sanggup jika harus kehilangan kedua bayinya.


Calista berusaha menjangkau barang di dekatnya tapi tidak ada, ini pilihan terakhir. Calista mendorong Box bayi ke arah lelaki itu dengan sekuat tenaga dan 1 tangannya memegang bayinya. Tangis 1 bayi terdengar semakin menjauh membuat Calista berdiri dan berusaha mengejar suara bayinya. lantas kakinya di tarik oleh seorang lelaki membuatnya tersungkur ke lantai. persendian lututnya kaku, namun tangannya tetap berusaha melindungi bayi yang ada di gendongannya kini yang menangis semakin keras.


Seorang berusaha menarik bayi di gendongannya, tapi Calista tetap kukuh mempertahankannya. Calista menggigit tangan lelaki itu tapi membuat lelaki itu murka dan menjambak rambut Calista.


" Sean." teriak Calista dengan air mata kini terdengar teriris mendapati seorang itu menamparnya hingga berdarah.


" Tolong biarkan bayiku bersamaku." Lelaki itu tak mengubris tapi dengan pasti lelaki itu melepas jambakannya dan keluar ketika mendapati seorang mendekat ke arahnya.


" Nyonya Calista, lari lah. jika tidak kau akan kehilangan kedua bayimu sebelum Tuan besar ke sini." Calista mengenal sekali suara itu. Maxmelle kepercayaan Sean William Charless yang selalu di agungkannya kini berkhianat.


" Calista berusaha bangkit dengan bantuan Max walaupun dirinya enggan tap ini adalah satu pilihan. suara tembakan mengenai dinding membuat Calista gemetaran dan bayinya menangis kencang ketakutan.


" tenang sayang, mama akan terus menjagamu." Calista berusaha mengikuti Max yang menuntunnya dengan cara memegang kedua bahu Calista, agar Calista tidak jatuh di gelapnya ruangan.


suara pintu rahasia terbuka Max dan Calista masuk ke dalamnya seperti Lift yang berjalan . Tangis Calista semakin menjadi mengingat nasib 1 bayinya. bayinya yang mulai tenang di pelukan Calista. Tapi hatinya masih resah memikirkan kondisi bayinya yang telah di bawa tadi.


" Max kau sangat tega mengkhianati Sean dan memisahkan aku dengan bayiku."


Tangis Calista sesenggukan dan tepat ketika Calista mendengar suara tangisan bayinya dari lift yang berjalan melewati ruangan dan tangis bayi itu berhenti ketika tembakan berbunyi membuat Calista lunglai dan jatuh tak berdaya tatapannya kosong dan hatinya sakit. Sedang Max mencoba memalingkan tatapannya.


pintu Lift terbuka 2 orng mendirikan Calista dan mencoba menuntunnya ke sebuah mobil dari ruangan tersembunyi.


" Bayiku." Calista menangis lagi dengan memeluk bayi yang mulai tertidur di pelukannya.


"kemana Sean, kemana dia." Batin Calista yang kini di lempar kasar ke dalam mobil oleh seorang pelayan.