
di ruangan yang minim pencahayaan ada 3 orang dengan wajah yang sudah berdarah-darah dan 3 lainnya sudah tergeletak tak bernyawa.
Sean menempelkan pistolnya ke kening lelaki yang menatapnya dengan tubuh tambun. wajahnya berlumuran darah dan babak belur karena ulah dari anak buahnya.
" Kau yang hampir melenyapkan ibu dari anakku tidak pantas hidup di dunia." Sean langsung menembak kepala lelaki itu hingga darahnya muncrat mengotori kemeja putihnya. Langkahnya berjalan kembali ke arah lelaki yang terus memberontak.
" Apa kau ingin Selamat." Sean menempelkan pistolnya tepat ke kepala tengah lelaki itu.
" Jelas aku ingin selamat, dan aku ingin anakmu yang mati." Lelaki itu membalas Sean tanpa ada rasa takut di dirinya membuat Sean hilang kesabaran dan langsung melepaskan pelatuknya. kembali darah segar mengotori kemeja dan wajah tampannya.
" Sialan, mereka tau aku memiliki anak." Sean kini berjalan ke arah seorang lelaki yang tertawa dengan wajah yang sudah memar dan berdarah di pelipisnya.
" sebentar lagi anakmu akan mati bersama ibunya." lelaki itu tertawa terbahak-bahak membuat Sean menendang wajahnya kasar hingga tersungkur ke lantai.
" Beraninya kau." dengan satu tarikan pistol Sean mampu menembak di bagian jantungnya. hingga lelaki itu terbujur kaku tak bernyawa. Darah keluar dari mulutnya semakin banyak.
" Max bereskan ini semua." Sean keluar ruangan. Hatinya benar-benar resah dan takut ketika mengingat perkataan lelaki itu. iya, benar dirinya sangat takut kehilangan Calista dan anaknya. Sean sudah Jatuh Cinta kepada Calista ketika pertama kali Sean melihat Calista dengan hati berantakan pergi ke bar dan menggodanya seperti wanita penghibur lainnya.
Sean membuang kemejanya yang penuh darah dan menggantinya dengan kemeja bersih berwarna biru, tak lupa dirinya membersihkan wajahnya yang penuh percikan darah takut jika Calista mengetahui identitas dirinya dan mulai pergi menjauh.
...***...
Sean membuka ruang kamarnya. Terlihat Calista yang masih tertidur nyenyak membuat Sean tak kuasa menahan diri untuk tidak mendekatinya. Dengan berlahan Sean menaiki ranjang dan ikut berbaring di sisi wanitanya ini.
" Sean menjauh." Calista terduduk dan menutup hidungnya membuat Sean memicing tajam ke arah wanita di hadapannya.
" kau bau amis Sean, apa kau habis menjadi tukang cincang ayam." Calista mengibaskan tangannya ke wajahnya untuk mengurangi bau amis yang sangat tidak dia sukai.
" Apa kau bilang." Sean kini melotot ke arah Calista bagaimana bisa wanita ini mengatakan hal yang bisa membuatnya dalam masalah.
" Sean menjauh." Calista semakin ingin memuntahkan isi perutnya. Sean dengan wajah datar kini langsung berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi. Hatinya begitu kesal tapi tak bisa dia lampiaskan kepada Calista, hormon hamil si wanita kadang membuat Sean harus ekstra sabar.
Sean keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya, matanya menangkap Calista yang kini menyemprotkan banyak pengharum ke tempat tidurnya.
" Calista!," Sean kini mendekat ke arahnya dan langsung memeluknya dari belakang membuat Calista seketika menjadi kaku di tempat beberapa saat.
" bagaimana dengan bisnis keluargaku Sean." Kini Calista bersuara tanpa melepaskan tautan pelukan mereka.
" keluarga Licik yang terlibat berbagai macam kasus." Sean menatap dalam ke arah luar jendela.
" Ingat Sean yang kau katakan itu adalah keluargaku." kini Calista melepaskan pelukan Sean dari pinggangnya dan langsung menoleh menghadap lelaki itu.
" Baiklah Honey, aku akan memperbaikinya. tapi kau harus di hukum kali ini karena sudah mencoba berkhianat di belakangku." Sean kini menarik pinggang Calista dan menahannya erat.
...tbc...