One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
twentieth



wanita itu menghirup penuh udara di sekitaran, namun tetap saja rasa sesak menyelimuti hatinya. Kesepian! benar dia kesepian dan merasa hampa menatap jakarta dengan lalu lalang padat dari atas balkon. Tangannya mengelus perut yang sudah membesar membuatnya merasa tenang dengan senyum bahagia. Benarkah bahagia ketika hatinya membutuhkan sosok yang harusnya kini berada di sampingnya.


" Anak mommy kuat yaa." bulir air mata ikut turun bersamaan dengan dirinya yang merasakan sakit. tangannya menggenggam erat tiang yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk.


wajah cantiknya pucat menahan tangis, sepertinya ini waktunya. Calista berlahan terduduk.


dirinya tak tahan lagi, bulir keringat keluar di dahinya menahan sakit yang tak kunjung reda.


" Tuhan engkau maha baik, aku butuh bantuanmu." Calista tak pernah berada di titik ini, mengharap penuh pada tuhan dengan sungguh-sungguh.


dirinya mencoba menyeret tubuhnya sendiri ke arah dalam pintu balkon untuk mengambil ponsel yang ada di atas kasur.


tatapannya tambah panik dan kesakitan ketika melihat darah yang mengalir di kedua betis dari titik sensitif nya.


apakah tuhan akan setega inj pada dirinya. Membiarkannya dalam kesulitan seorang diri.


Tuhan jika semuanya sudah berakhir,, maka izinkan anakku untuk lahir ke dunia. suara hati Calista di tengah isak tangisnya menahan sakit yang semakin menjadi.


tangannya msih mencoba menyeret tubuhnya ke arah kasur yang mulai berdering.


pandangannya buram dan semakin tak jelas. Calista benar-benar membutuhkan pertolongan kali ini,, berharap Tuhan akan mengirimkan malaikat yang bisa membantunya.


...***...


Di lain sisi...


Sean membiarkan Rose memeluknya dengan erat. Tubuhnya menerima tapi rahangnya mengeras menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam mendapati wanita yang di cintainya sejak dulu, berkhianat padanya.


" Kau tau ada 2 pilihan hukuman seseorang yang mengkhianatiku.." Suara Sean dingin dan menusuk ke pendengaran Rose.


" aku tau kematian atau penyiksaan, tapi aku tak mau dua-dua nya." Tangis Rose menjadi dan semakin memeluk erat Sean. Rose tau betul tabiat lelaki ini. Sean tidak akan memberikan kesempatan kedua kali untuk orang lain.


" lantas, kenapa kau masih berkhianat!" Sean kini melepaskan pelukan Rose kasar.


Sean mengeluarkan pistolnya dan menempelkan tepat di kening Rose. Rose diam tak berontak ataupun melawan. Mata Sean menatap tajam ke arah wanita di hadapannya. Max yang melihat drama sedari tadi kini ikut terkejut ketika Sean melakukan hal itu.


" Tembak aku Sean, biarkan aku mati jika itu membuatmu bahagia." Rose bersuara lirih di tengah tangis sesegukannya yang tak bisa di tahan.


" Itu hukumanku." lanjut Rose kini msih menunduk dan air mata masih menetes deras di pipinya dirinya pasrah. jika mati berarti itu takdirnya.


" benar hukuman untuk pengkhianat!" Sean berkata dingin membuat Rose langsung menatapnya tak percaya. tatapan retina grey dan hitam itu kini beradu pandang. ada sakit, kecewa, hancur, marah, dan cinta. haruskah Sean menurunkan egonya demi Rose.


pikiran dan hati Sean kini berontak berargumen satu sama lain dan tak selaras.


" Baik, aku pengkhianatnya tembak aku sekarang!." Rose kini benar-benar pasrah.


" Tuan." Max bersuara tapi tak membuat tautan tatapan Sean dan Rose buyar.


" Calista." Rose bersuara lirih membuat Sean kembali menatap elang ke arahnya.


" Aku sakit Sean, kau yang berkhianat! membiarkan orang lain masuk dan menggantikan posisiku di hatimu, meski kau bersamaku sekarang tapi hatimu tidak sepenuhnya untukku lagi." Rose bersuara keras menumpahkan emosinya di tengah tangis.


" Lantas siapa yang salah! Ketika aku tidak mau menerima hal itu, Calista mengandung anakmu dan kau akan meninggalkanku begitu saja kan." Rose hampir kehilangan kewarasannya ketika mengekspresikan kekecewaannya selama ini, ketakutan itu muncul lagi Rose menggigit kuku jarinya sendiri, tatapannya cepat mengarah kemana saja.


" Tuan, jangan sampai kau menyesal." Suara Max seperti angin lalu di telinga Sean.


Sean tidak boleh goyah, tetap ke prinsip hidupnya. pelatuk itu berbunyi nyaring tapi tidak tepat sasaran.


...***...


maaf Para readersku baru bisa publish lagi setelah sekian lama😅🙏


.