
Calista terbangun di sofa tamu milik arthur. Selimut yang menyelimuti tubuhnya kini di lepasnya secara berlahan. matanya sangat ngantuk dan berat. penglihatannya menetralisasi kan dengan Suasana di ruangan ini.
Di lihatnya Arthur yang duduk di seberang sofa dengan leptop yang setia di depannya.
" Arthur di mana Bella dan Adrian." Kini Calista duduk dan mulai menatap arthur.
" Mereka berdua tidur di kamarku." Kini Arthur mulai mengalihkan fokusnya ke arah Calista yang mulai memperbaiki penampilan wajahnya.
" Aku titipkan ke dua anakku padamu Arthur, aku harus mengurus surat pengunduran diri dan membereskan semua perlengkapan Bella dan Adrian." Arthur kini menghampiri Calista yang mulai berdiri.
" Tenanglah Calista, aku bersamamu, mari ku temani." Arthur tersenyum ke arah Calista. Tangan Calista memeluk erat Arthur membuat lelaki itu menerima pelukannya dan mengelus helai rambut Calista.
" tidak perlu Arthur, aku harus kembali ke rumah sebentar, tolong jaga kedua anakku." Calista kini tersenyum dan keluar dari Apartemen Arthur. Langkahnya cepat memasuki mobil dan melaju ke rumahnya. Sebenarnya hati Calista benar-benar Kacau, takut dan resah. Kacau karena Sean yang kembali, Takut jika Sean mengganggu kembali hidupnya yang sudah mulai tertata dan Resah ketika Bella dan Adrian tidak ada di sampingnya sekarang.
Calista memarkirkan mobilnya di depan halaman rumahnya yang sepi. Dengan langkah cepat kaki jenjangnya berjalan ke arah pintu. Calista benar- benar waspada dengan melihat kiri kanannya. Tangannya berusaha membuka pintu rumahnya yang tiba-tiba sulit terbuka. hingga tak sengaja menjatuhkan kunci rumahnya.
Nafasnya sudah tak karuan hingga akhirnya pintu rumahnya bisa terbuka. Lekas Calista mengunci pintu dari dalam. Lehernya menjadi tegang ketika sebuah tangan menyentuh lembut lehernya.
" bagaimana kabarmu?" lelaki itu berbisik di telinga kanan Calista, Suara yang sangat di kenali Calista. Suara yang di takutinya selama ini. Nafasnya Calista tertahan ketika tangan lelaki itu menyentuh wajah Calista.
lelaki itu membalik tubuh Calista menghadapnya. Matanya menyorot tajam ke dalam Mata Calista yang sudah penuh genangan air mata. Calista hendak bersuara namun suaranya tiba-tiba mengecil. Dirinya menjadi kerdil ketika berhadapan dengan Sean.
" Bahagia bersama selingkuhan barumu?" Sean kini menarik tubuh Calista hingga bertubrukan dengan dada bidangnya. Tangan Sean menahan kedua tangan Calista.
" Se...an.." Suara Calista tiba-tiba hilang, dirinya benar-benar ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, air matanya semakin menjadi. dirinya menutup rapat matanya. Dia ingin menghilangkan ingatan tentang Sean.
" menemukan pengganti ayah untuk anakku?" Sean kini mencium pipi kanan Calista sekilas sebelum akhirnya menjambak rambut Calista hingga kepalanya tengadah ke belakang.
" Sudah lupa bagaimana terakhir kali melihat Juan Albert kesayanganmu, mati!" Sean kini berbisik pelan di telinga kanan Calista yang sudah mulai sesenggukan. Bagaimana Calista bisa lupa? beribu tahun pun dia tidak akan lupa bagaimana organ tubuh Juan di awetkan. Di sebuah ruangan bersama dengan yang lainnya.
Tangan Calista yang bergetar memohon pada Sean. Membuat Sean tersenyum licik.
" Jauhi Arthur, jika kau tak ingin lelaki itu bernasib sama dengan mantan tersayang mu!" Sean kini mengelus pelan pipi Calista. Pergerakan Calista terkunci membuatnya susah untuk kabur dari genggaman Sean.
...****************...
Arthur terus melihat arloji di tangannya tepat 1 jam Calista belum kembali membuat Arthur khawatir sendiri.
" Mommy." Bella yang baru bangun kini menangis membuat Arthur menghampirinya cepat.
" Ada apa sayang?" Arthur menggendong Bella yang mulai terduduk di ranjangnya.
" paman Arthur aku mimpi buruk, mom dalam bahaya." Arthur menutupi kegelisahannya dengan tersenyum pada Bella menampilkan wajah tenangnya.
" Mom tidak apa-apa, sebentar lagi dia ke mari." Arthur kini menurunkan Bella di sisi ranjang.
Sedang Adrian tetap memilih memejamkan wajahnya, dan menarik ke atas selimut Arthur menutupi tubuh. Membelakangi Bella yang mulai terisak tangisan saat berbicara dengan Arthur.
Handphone Arthur bergetar membuatnya menjauh dari Bella dan mengangkat telponnya.
tuan 2 mobil mewah berwarna hitam ada di halaman Nyonya Calista.
" Sial!" Sorot mata Arthur menyorot tajam ke arah luar Jendela, dirinya 1 langkah mundur dari rencananya. genggaman di tangannya mengeras menahan Emosi.
" Takkan kubiarkan!" Arthur kini mematikan ponselnya. Mengatur Rencana baru kembali untuk mendapati sesuatu yang diinginkannya.
"