One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Tweifth



Sean kini berada di ruangan Calista, perasaan yang membawanya untuk kembali ke rumah sakit. Sedang Calista masih betah berlama-lama memejamkan mata cantiknya.


" Permisi Tuan, apakah aku harus membatalkan rapat lagi kali ini." Max menghentikan aktifitas Sean yang memperhatikan Calista seketika wajah Sean menjadi datar dan dingin.


" Tidak usah, aku akan menghadirinya, perketat penjagaan saat aku pergi jangan biarkan sembarang orang masuk ke ruangan ini." Sean berdiri dan berjalan ke luar ruangan diikuti oleh Max di belakangnya.


...***...


" bagaimana Pak Sean?" Sean terdiam cukup lama ketika rekan bisnisnya menanyainya. Terlihat wajah gugup dari rekannya itu takut jika salah bicara terhadap Sean yang disegani


" Maksudmu?" Pertanyaan Sean membuat semua orang terkejut begitupun Max yang duduk di sebelahnya terlihat sekali bahwa Sean tidak memperhatikan presentasi dari rekan kerjasamanya membuat Max langsung membisikkan sesuatu ke telinga Sean.


" Menurutku It's okay. Tapi di satu sisi aku tidak setuju jika kau mengambil penuh wilayah ku untuk bisnismu. Kau bisa pikirkan lagi rencana yang lebih baik. Lain kali kita akan mengadakan rapat lagi." Ucap Sean menatap dingin lelaki yang menanyainya.


memang benar Sean tidak memperhatikan Presentasi dalam rapat karena pikirannya jauh memikirkan kondisi Calista dan anaknya. Kini dirinya berdiri dari kursi di ikuti seluruh peserta rapat di ruangan itu.


" Max, pindahkan Calista ke rumah pribadiku dan berikan dokter dan perawat terbaik untuk ikut merawatnya." Ucap Sean yang kini berjalan ke ruangannya. Langkahnya cepat membuat Max harus menyejajarkan langkahnya dengan Tuannya itu.


" Baik tuan." Max berhenti tepat di depan pintu ruangan Sean, sedangkan Sean langsung masuk ke dalam ruangannya jarinya Lihai mengetikkan sesuatu di komputernya hingga muncul data-data Blood of Cruelty. Di lihatnya List organisasi musuh yang harus di waspadai. 3 lelaki yang pernah di bunuh nya adalah salah anggota dari Organisasi Vulsufatken yang identitas pemimpinnya belum di ketahui hingga sekarang. Musuh yang harus di waspadai parahnya berarti sekarang mereka sudah mengetahui anaknya yang ada di rahim Calista. Sean mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan tatapannya elangnya menjadi begitu tajam.


...***...


Sean membuka pintu kamarnya, tatapannya menangkap Calista yang kini sudah sadar dan menatap ke luar jendela. Infus yang masih setia di tangan kiri Calista membuat Sean menghampirinya dan duduk di pinggiran ranjang.


" Calista maafkan aku." Calista tak menghiraukan perkataan Sean tatapannya masih setia memandang lurus ke luar Jendela. Lelaki itu tidak akan pernah tulus dalam meminta maaf ucapannya hanyalah kebohongan bagi Calista.


Sean diam memandang wajah Calista yang terlihat pucat, bagaimana cara meminta maaf yang baik dan benar Sean bingung harus berbuat apa sekarang.


" Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan ku, kau boleh meminta apapun tapi tidak untuk pergi dariku! Jika kau berusaha meninggalkanku maka aku akan melenyapkan seluruh keluargamu!" Sean kini sudah memberikan keringanan pilihan namun Calista masih saja mengacuhkannya membuat Sean berlahan memegang tangan Calista. Dengan cepat Calista menarik tangannya membuat Sean menatapnya tajam.


matanya bertemu dengan mata Calista yang berkaca-kaca dengan ekspresi menahan sakit.


" Tenanglah Calista, aku hanya ingin memelukmu tidak menyiksamu." Ucap Sean yang kini mengelus kepala Calista dengan tulus.


" Lepas Sean kau kira kau bisa seenaknya padaku, setelah kau buang, kau hina aku, kau perlakukan aku seperti boneka lalu kau ingin meminta maaf kepadaku, perilaku mu tidak jauh beda dari bajingan brengsek di pinggir got." Menurut Sean ucapan Calista sangat keterlaluan dan menggores hatinya tapi Sean akan berusaha sabar menghadapi perilaku Calista kali ini.


tangan Sean mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya membuat wajah Calista menjadi tak terkendali sudah dipastikan Sean akan menggoreskan belati itu lagi ke tubuhnya membuat Calista kini menatap tajam ke arah Sean.


" Sean apa yang akan kau lakukan menggoreskan belati itu ke lenganku, atau ke pipiku, oo atau ke perutku saja agar anakku mati di sini dan aku tidak akan menanggung malu" Sean berusaha menahan amarahnya terlihat rahangnya yang mulai mengeras dan tatapan elangnya mengunci ke mata Calista.


Sean menggoreskan belati itu ke lengannya sendiri membuat Calista membelalakkan matanya tak percaya. Satu goresan membuat darah Sean mengalir di lengannya, namun Sean kembali menggoreskannya hingga darah itu jatuh ke sprei ranjang.


" Sean apa yang kau lakukan!" Calista merebut belati yang ada di tangan kanan Sean dan membuangnya ke lantai dengan cepat Calista mengambil selimut nya dan menutupi darah Sean. Itulah perbedaan Sean dan Calista jika Sean tidak ada rasa iba kepada Calista saat menyiksanya tidak dengan Calista wanita itu tidak sanggup melihat orang terluka di hadapannya.


" Apa kau malu mengandung anakku." Sean kini menatap tajam ke arah Calista tidak di pedulikannya lagi darahnya yang memenuhi selimut dan tangan Calista.


" Dokter, perawat, pelayan." alih-alih menjawab Calista malah berteriak kencang membuat seorang dokter langsung masuk dan terkejut melihat lengan Sean yang berdarah.


" Dokter cepat tangani ini." terlihat wajah panik dan khawatir Calista sambil memegang tangan Sean yang mengeluarkan darah seakan tangan Calista ingin menghentikan darah yang terus mengalir.


dokter perempuan itu langsung memberikan pertolongannya dan menggulungka perban ke tangan Sean belum selesai dia melakukannya Sean sudah menyuruhnya keluar.


" Jawab aku Calista, apa kau malu mengandung anakku." ada rasa sakit di hati Sean ketika menanyakannya.


" Kau tau Sean tidak ada yang lebih malu kecuali hamil di luar nikah tanpa hubungan yang jelas, aku malu ke orang tuaku dan teman-temanku jika mereka tau aku hamil dan ayahnya tidak mau bertanggung jawab malah menyiksaku. aku seperti aib untuk keluargaku. Dan tak berharga di matamu kau mengerti!" Ucap Calista menaikkan suaranya dengan penuh penekanan ke arah Sean yang masih menatapnya, matanya tak sanggup lagi untuk tidak mengeluarkan air mata.


" Apa kau ingin aku menikahi mu?" Calista kini terdiam karena perkataan Sean.


" Jawab Calista!" penekan dari setiap kata yang keluar dari mulut Sean membuat Calista terdiam lama.


jangan lupa vote dn coment yaa☺️