One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Sixteenth



" Kau tak apa tuan." Max kini berlari menghampiri Sean dan Calista setelah anak buahnya menembak 3 orng yang menghadang Calista dan Sean.


Sean mengangkat tubuh Calista dan membawanya ke dalam mobil.


" Max bawa orang-orang itu ke markas penyiksaan." Sean berbicara sebelum akhirnya mobilnya berjalanan meninggalkan pantai itu.


...***...


" Katakan Siapa menyuruhmu?" Max tak habis pikir dengan orang-orang yang berani mengusik hidup Sean. Mereka seperti memberikan nyawanya menjadi korban singa yang lapar. dia adalah satu orang yang masih hidup menyaksikan penyiksaan kedua temannya hingga mati. pria itu hanya diam dan menatap Max tajam walaupun Cambuk, belati, juga pukulan telah membuatnya menjadi tak dikenali lagi dirinya tetap tidak mau memberitahukan seorang yang menyuruhnya.


Sean yang membuka pintu dengan kasar langsung berjalanan ke arah pria itu dengan tangannya yang penuh amarah Sean memutarkan kepalanya hingga patah lalu menembaknya di bagian keningnya membuat Max terkejut.


" Berani sekali kau ingin membunuh Calista." Ucap Sean yang kini membuang pistolnya ke wajah pria yang sudah mati itu.


" Max bungkus 3 mayat ini dan hadiahkan ke Vulsufatken. " Ucap Sean yang berlalu dari ruangan yang bau amis darah itu.


" Baik Tuan." Max kini menyuruh anak buahnya untuk melakukan yang di perintahkan Sean padanya.


...***...


" Tuan suruhan kita mati terbunuh dan Organisasi Blood mengirimkannya kembali dengan secarik surat." Lelaki tambun dengan badan besar dan kekar menghampiri lelaki yang memakai Hoodie hitam di ruangan yang minim pencahayaan.


" Sialan." Lelaki itu meremas selembaran kertas yang di berikan anak buahnya. Sepertinya ini saatnya lelaki itu harus mengeluarkan pion emasnya untuk menghancurkan Sean.


" Bawa wanita itu kemari." Anak buah lelaki itu langsung paham dan menarik paksa seorang wanita dari sebuah bilik ruangan.


" Bagaimana keadaanmu Rose?" lelaki itu menyunggingkan senyumnya melihat seorang wanita dengan tampilan menyedihkan. mulut yang di ikat kain, rambut yang berantakan dan tubuh yang kotor dan banyak luka.


" Lepaskan ikatan mulutnya, biarkan dia berbicara." Lelaki itu memerintah yang langsung di kerjakan oleh anak buahnya.


" Setelah kau kurung aku selama 3 Th. kau siksa tidak ada hentinya, lalu kau tanya bagaimana keadaanku! semoga kau lekas mati dan di tempatkan di neraka." Wanita itu berteriak membuat anak buahnya menatap wanita itu datar dan meremehkannya.


" Wah..wah.. hebat sekali bicaramu." Lelaki itu menepuk tangan dan berjalan ke arah wanita itu yang tak lain Rose.


" Apa kau berharap Sean datang dan membunuhku?" Lelaki itu menahan erat wajah Rose dengan 1 tangannya.


" Yah suamiku akan membunuhmu secepatnya." Rose mencoba bersuara walaupun rahangnya kini semakin tertekan oleh jari lelaki itu.


" Sean tidak akan memperdulikan mu lagi dia sudah bersama seorang wanita cantik dan kini wanita itu tengah mengandung anaknya." Lelaki itu melepaskan tangannya ingin melihat Ekspresi Rose ketika Lelaki itu memberi lihat foto Sean sedang berciuman dengan seorang wanita.


Hati Rose hancur mana janji Sean yang akan terus mencintainya, menyayanginya melindunginya dan anaknya! Anak yang sudah meninggal sebelum dilahirkan. Sungguh hati Rose sangat sakit bagai teriris pisau yang sangat tajam. Sean yang pertama kali berjanji akan terus menjaganya dan kini Sean juga yang membuatnya hancur berkeping tanpa harap.


Rose memeluk kakinya sendiri di pojok ruangan. Ruangan yang tak layak di huni manusia, tempat yang kotor dan kurang pencahayaan, ruangan yang setiap hari menyiksa mental dan psikisnya. terkadang anak buah lelaki itu yang melecehkan dirinya bahkan menggoreskan pisau ke lengan dan kakinya. Kapan Rose akan keluar di Sini sungguh Rose sangat ingin merasakan dunia luar kembali. Rose sudah berulang kali mencoba keluar namun penjagaan sangat ketat.


" Tuhan berulang kali aku berdoa padamu, keluarkan aku dari sini, keluarkan!" Teriak Rose menuntut pada Tuhannya dia sangat lelah, apakah doanya sia-sia membuatnya lemas dan bersandar sambil menghantam kan kepalanya ke dinding, mungkin dengan mati Rose akan tenang.


...***...


" Hmm.." Calista menggeliat di dalam tidurnya sebelum akhirnya matanya terbuka karena Sean kini mencium bibirnya dengan rakus. Reflek tangan Calista mendorong Sean hingga lelaki itu sedikit terjengkang ke belakang.


" Sean apa yang kau lakukan dasar pria gila." Ucap Calista kini mendudukkan dirinya.


" Hanya ingin mencium mu." Sean kini duduk di pinggiran ranjang dan memperbaiki gulungan lengan kemejanya.


" Siapa 3 pria itu?" Calista menatap tajam Sean membuat Sean berhenti dengan aktifitasnya menggulung lengan kemejanya dan menatap dingin ke arah Calista.


" Aku tidak tau." Ucap Sean yang hendak berlalu namun tangannya di tahan oleh Calista.


" Pembohong! kau pasti tau, kau menyembunyikan sesuatu dariku Sean." Ucap Calista membuat Sean terdiam.


" Sudahlah Calista kau butuh Istirahat." Ucap Sean yang kini memegang kedua bahu Calista.


" Besok pagi kita akan menemui orang tuamu." Lanjutnya membuat Calista membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana Reaksi keluarganya ketika melihat dirinya hamil dan pulang bersama Sean.


" Jangan di pikirkan, aku sudah membuat rencana yang tepat." Ucap Sean yang membuat Calista sangat kesal dan melemparkan bantal ke wajah Sean.


" Bodoh sekali kau Sean." Ucap Calista merengek seperti anak kecil. Sean kini menahan amarahnya. Calista adalah wanita yang paling berani padanya dan paling pembangkang yang pernah Sean temui. Kini Sean menerkam tubuh Calista hingga terlentang di kasur membuat hati Calista khawatir dan was-was.


" Jangan cerewet Istirahat baby." Ucap Sean yang mengecup perut Calista dan langsung ke luar dari kamarnya.


bagaimana bisa Calista tidak kepikiran akan hal itu. Bagaimana reaksi Sean jika Ayah dan ibu Calista marah dan tidak merestui mereka. Apa Sean akan menodongkan pistol ke arah mereka atau menggoreskan belati ke tubuh mereka seperti hobby Sean ketika marah. Sungguh Calista jadi paranoid sendiri memikirkan hal itu.


Kini Calista mengelus perutnya penuh cinta dan kasih sayang tendangan anak dalam kandungannya mulai semakin aktif. Kalau tidak salah kandungannya sudah menginjak bulan ke kedelapan berarti tidak lama lagi mereka akan lahir dan Calista akan menjadi seorang ibu.


" Aku akan menjagamu apapun yang terjadi kalian harus bertahan dan tumbuh dengan baik." Lirih Calista dalam tangisnya entah kenapa Calista tiba-tiba merasa sedih dan merasa akan terjadi sesuatu hal yang besar dalam hidupnya. Apakah Sean akan terus berada di sisinya di masa depan nanti sekali lagi hati Calista ragu terhadap lelaki itu. Apakah Sean akan terus berlaku sabar padanya sedang watak lelaki itu keras. Apakah Sean benar-benar mencintainya atau tidak. Selama ini Sean tak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Calista.