One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
Kembali



Sampai kapan? Kata yang terus terngiang di pikiran Calista.


Sampai kapan Calista harus berpura-pura baik-baik saja di depan kedua anaknya.


" Calista." Arthur kini masuk ke dalam ruangan Calista dan langsung memeluk Calista. Tangis Calista pecah dalam pelukan Arthur.


" Aku takut!" Tangis Calista teredam di dada bidang Arthur.


" Tenanglah Calista. kau akan baik-baik saja. " Arthur mengelus pelan rambut Calista.


" Ehmm,, Kau benar-benar menginginkan aku membunuh Arthur yaa!" Sean yang sejak tadi duduk diam di sofa memperhatikan Arthur dan Calista yang saling berpelukan.


"Arthur,, Sean licik!" Calista semakin mempererat pelukannya di dada bidang Arthur.


" Aku sudah tau." Kini Arthur melirik tajam ke arah Sean yang menatapnya tak suka.


" Bantu aku Arthur." Penglihatan Calista menjadi samar-samar dan semakin tidak jelas ketika Arthur menyuntikkan cairan ke lengannya.


...****************...


" Bukankah sangat indah melihat pemandangan menakjubkan sepagi ini?" Calista mencoba menetralisasi kan penglihatannya dengan keadaan sekitar. Di lihatnya Sean yang berada di sampingnya, dan pinggangnya yang semakin di tarik oleh tangan Sean untuk mendekat. Matanya menangkap Adrian yang berada di luar jendela tengah membedah anjing bersama Max di sampingnya.


" Sean apa yang kau lakukan pada anakku." Calista hendak berdiri namun tangan Sean menahan pinggangnya membuatnya semakin memberontak. Sofa yang mengarah langsung ke halaman rumah dari Jendela kamar Sean kini semakin jelas ketika Sean membukanya dengan sebuah tombol di tangannya.


" Selama ini kau tidak tau begitu tersiksanya aku untuk bisa menemukan kalian!" Bukannya menjawab Sean malah bercerita sambil mencengkram pinggang Calista kuat. Tak di pedulikannya Calista yang meringis kesakitan akibat ulahnya.


" Apa peduli mu Sean." Suara Calista penuh penekanan. Dengan Satu gerakan Sean kini menarik Calista untuk berada di atasnya.


Tangannya meremas kasar bokong Calista membuat Calista semakin meringis.


" Di mana Bella!" Calista kini yang hendak mendorong Sean malah terjatuh di dada bidang Sean ketika lelaki itu menariknya secara tiba-tiba.


kaca yang mulai di tutupnya kembali menggunakan tombol, membuat Calista semakin was-was dan takut.


" Aku merindukanmu!" Calista menahan sakit ketika Sean mencengkram lengannya.


" tapi kau malah selingkuh bersama Arthur 5 tahun ini!" Mata Sean memerah menatap Calista.


" Apa peduli mu Sean, kau yang hendak membunuh aku dan anak-anakku." Calista berusaha melepaskan diri dari Sean.


" Kau membiarkan Arthur menjadi ayah pengganti untuk anak-anakku." Sean kini mendorong Calista hingga tertidur di Sofa mengunci pergerakan wanita itu.


" Aku tidak pernah berniat membunuh anak-anakku!" Sean kini menatap Calista dengan tatapan tajam dan membunuh tapi tidak membuat nyali Calista Ciut kali ini.


Calista meludah tepat di wajah Sean, mengingatkan kembali kenangan di mana Sean pernah sangat marah atas perlakuan Calista kala itu. Calista kini berdiri ketika Sean menyeka ludah Calista dari wajahnya.


" Penghinaan besar!" tangan Sean mengepal erat menahan amarah.


" Kau bohong jika berkata tidak berniat membunuh anak-anakmu! nyatanya Bella hampir kehilangan nyawa karena mu Sean!" Calista menunjuk tepat ke depan wajah Sean. membuat Sean tak bisa mentoleransi wanita ini.


" Seperti ini saja kau tidak sabar menghadapi ku!" Calista kini malah berbicara tanpa rasa takut jika tiba-tiba Sean bisa saja menekankan pisau lagi padanya.


" Aku bersusah payah membesarkan Bella dan Adrian, mengajarkan nilai-nilai kebaikan pada mereka, lalu kau datang ingin menghancurkan kehidupan mereka, aku tidak rela Sean! " Calista kini berteriak, air mata yang di tahannya akhirnya mengalir juga dengan deras.


Sean terdiam ketika Calista meluapkan Emosi yang di tahannya selama ini.


" Cukup hidupku yang kau hancurkan Sean, jangan mereka!" Calista terduduk menangis sesegukan menutup wajahnya sendiri. tidak pernah Calista meluapkan emosinya seperti ini.


" Aku mencintaimu tulus Sean, lalu perlakuan balik apa yang aku dapat, pengkhianatan, kebohongan, dan cinta palsu darimu!" Calista menyandarkan dirinya sendiri ke Sofa. tangannya memegang dadanya yang terasa nyeri. Mata dan wajahnya memerah akibat tangisnya yang belum juga berhenti.