
" Mommy." teriak anak berusia 5 tahun membangunkan seorang wanita yang masih tertidur pulas akibat kelelahan.
" Mommy kami lapar." Seorang anak laki- laki seusia sama ikut menggoyang lengan wanita itu.
wanita itu adalah Calista Smith. Matanya berlahan terbuka dan menatap kedua Anaknya yang berada di atasnya. Akibat kelelahan bekerja membuat Calista bangun kesiangan dan lupa membuatkan sarapan pagi untuk anak-anaknya.
" Maafkan mommy sayang." Calista menarik kedua anaknya ke dalam pelukannya.
Bell rumah berbunyi. membuat kedua anaknya berlari ke pintu dengan cepat meninggalkan Calista yang baru saja bangun.
" Paman arthur." anak perempuan Calista langsung menerima pelukan Arthur yang tersenyum bahagia. matanya berbinar melihat boneka teddy bear pink dan sebungkus besar makanan yang ada di tangan kanan Arthur.
" Paman, kami lapar. mommy baru bangun." Ucap anak lelaki itu membuat Arthur tersenyum dan mengelus rambut anak lelaki itu.
" Bella, Adrian. Mommy sudah bilang kalian tidak boleh membuka pintu sembarangan." Ucap Calista yang menatap datar kedua anaknya.
" kami membukakan pintu untuk paman Arthur mom." Bella kini menatap tajam Calista. membuat Calista menghembuskan nafas kasarnya.
" Paman ada membawakan kalian makanan, kalian bisa makan di meja makan dulu yaa." Arthur menurunkan Bella dari gendongannya. kedua anak itu membawa boneka dan sebungkus makanan ke atas meja makan dan mulai membukanya.
" Duduklah Arthur." Kini Calista mengajak Arthur duduk di ruang tamu.
" Sudahlah Calista, kau tidak perlu Khawatir." Arthur tau apa yang di pikirkan Calista. Masih ada trauma dan ketakutan dalam diri wanita ini. Terlihat dari tingkahnya yang selalu cemas berlebih terhadap anak-anaknya.
" Bukan begitu Arthur." Calista menyandarkan bahunya ke sofa. dan membuang nafas berat.
" Sudah 5 tahun Calista, dia tidak akan menemui mu lagi, bahkan keberadaan mu pun dia tidak tau." Arthur kini menatap wajah Calista yang kelelahan.
" Semoga saja." Calista kini memijat kepalanya sendiri.
" Bagaimana dengan pekerjaanmu." Arthur kini mengalihkan pembicaraan.
" Akhir-akhir ini menyulitkan, kadang aku harus lembur menyelesaikan pekerjaanku." Calista kini menatap Arthur dengan lekat memperhatikan wajah lelaki ini.
Arthur sangat baik padanya, terlebih kepada anak-anaknya. Jika bukan karena lelaki ini sudah di pastikan hidup Calista terlunta-lunta. Arthur yang membawanya pergi jauh dari benua Eropa dan kini tinggal di benua Asia. Tepatnya Indonesia. dengan identitas baru dan kehidupan baru.
" Terima kasih Arthur." Calista memberikan senyum tulusnya ke arthur yang di balas lelaki itu dengan senyuman lebar.
" Mommy, mommy." Bella menangis menghampiri Calista dan Arthur terlihat lengannya yang berdarah membuat Calista Khawatir begitupun Arthur.
" Astaga." Calista cemas bukan main. Arthur langsung mengambil peralatan P3K di dalam mobilnya.
" kenapa bisa seperti ini." Calista melihat Adrian yang memegang pisau kecil di tangan kanannya sudah berlumuran darah.
Arthur yang datang membawa kotak P3k langsunh membersihkan luka di lengan Bella.
" Adrian kemari!" Bella menatap lekat anak lelakinya yang kini hanya diam menyaksikan tangan Bella yang mulai di perban. Tangannya mulai menarik anak lelakinya itu untuk duduk di sampingnya.
" jelaskan pada mommy apa yang terjadi?" Mata Calista beradu dengan mata Adrian yang menatapnya lekat. Mata anak lelakinya ini sama persis dengan Sean begitupun wajahnya membuat Calista tidak bisa menghilangkan Bayang-bayang Sean dari ingatannya.
" Aku tidak sengaja menggoreskan pisau ke tangannya." Respon adrian datar tanpa bersalah membuat Calista was-was.
dia tidak ingin anaknya mewarisi kelakuan dari ayah kandung mereka. Calista kini mengambil pisau dari tangan Adrian.
" Jelaskan dengan rinci Adrian." Calista menahan Emosi ketika berbicara dengan Adrian. Dia sangat takut jika Adrian mengikuti jejak Sean.
" dia mengambil jatah makananku tanpa izin, dan aku tidak sengaja menggoreskan pisau di tangannya." Adrian masih saja datar.
apa yang di ketahui anak berusia 5 tahun selain hanya bermain, maka Adrian berbeda dengan yang lainnya. Calista bisa melihat pertumbuhan Adrian. Dia sangat pintar dan cerdas. Namun sisi yang membuatnya Khawatir, Adrian sangat berbeda dengan saudara dan anak lainnya. Dia tumbuh menjadi sosok yang pendiam dan suka menganalisa untuk hal-hal di luar nalar anak seusianya.
Bella yang masih sesenggukan kini berada di gendongan Calista.
" Bella, Adrian adalah saudaramu, meskipun begitu kau harus tetap respect padanya. " Calista menatap Bella yang terus menunduk.
mom tidak pernah mengajarkan kalian pelit untuk soal makanan." Kini Calista menatap Bella dan Adrian bergantian.
" Maafkan aku Bella." Adrian kini menatap Bella yang tangisnya sudah mulai reda.
Bella mengangguk, dan meminta maaf pada Adrian.
" Aku juga Minta Maaf." Suara Bella terdengar parau akibat tangisannya.
Calista kini menarik kedua anaknya ke dalam pelukannya.
bagi Calista, mereka adalah kekuatan terbesar untuknya bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Arthur tersenyum melihat Calista dan anak-anaknya.
...****************...
Calista sudah siap dengan dress putihnya, bersama Anak-anaknya yang juga sudah rapi dam casual. hari ini adalah akhir pekan dan Arthur telah berjanji untuk membawanya jalan-jalan.
Klakson mobil membuat Bella berjalan cepat menuruni tangga di halaman rumahnya, berlari cepat meninggalkan Calista dan Adrian.
" Paman Arthur." Bella langsung memeluk Arthur yang baru saja turun dari mobilnya.
" ayoo kita jalan-jalan." Arthur membawa Bella duduk di sampingnya. Sedangkan Adrian dan Calista duduk di kursi belakang.
" Paman, aku ingin Es Cream." Bella sangat manja terhadap Arthur. Calista bisa menyadarinya bahwa anak perempuannya ini sangat membutuhkan kasih sayang ayah.
" Ayoo kita beli di supermarket." Arthur menjalankan mobil, senyumnya mengembang melihat Bella yang bahagia.
" Jagoan paman, mau beli apa? " kini Arthur melirik Adrian dari Kaca mobil. Dilihatnya anak lelaki itu yang hanya diam sedari tadi.
" Aku ingin membeli pistol paman." Calista menatap Adrian dengan tajam.
" Pistol mainan maksudnya." Lanjutnya membuat Calista menghembuskan nafas. hampir saja jantungnya copot ketika mendengar perkataan Adrian.
Arthur terdiam lalu tertawa lepas membuat mulut Adrian cemberut.
" Dasar Aneh." suara Pelan Adrian masih bisa di dengar oleh Calista.
arthur kini membawa mereka makan di restoran setelah membeli Ice cream.
" Paman, kenapa tidak menjadi ayah kami saja?" Ucap Bella yang menerima suapan dari Arthur. Jelas perkataannya membuat Arthur dan Calista menjadi canggung.
Sedangkan Adrian menyendok makanannya dengan tenang.
" Mom aku ingin salmon." Adrian menunjuk Salmon yang ada di depan Calista. membuat semua beralih ke anak lelaki itu.
" Ini sayang." Calista menaruh Salmon itu di piring Adrian.
" Terima kasih mom." Calista tersenyum dan mengelus rambut Adrian yang berwarna hitam.
...****************...
di tunggu dukungan kalian yaa.