
3 hari, hanya untuk 3 hari! kata yang di ucapkan Sean terngiang di pikiran nyonya Smith. Haruskah Nyonya Smith jujur dan siap menerima konsekuensinya atau kejujuran ini akan terungkap dari mulut orang lain cepat atau lambat.
" Mom,, lihat anakku tersenyum." Calista duduk di kursi roda sambil mengendong bayinya. begitu hati-hati dengan mata berbinar menatap bayinya yang menggeliat dan tersenyum. Sedangkan kembaranya kini berada di gendongan Nyonya Smith dengan tertidur pulas.
" Calista." Nyonya Smith bersuara, membuat Calista menoleh dan memperhatikan wajah wanita yang sangat di sayanginya.
" Ada yang mau mom beritau padamu."
Nyonya Smith menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya Edward datang dan masuk ke dalam ruangan.
" Edward, kemana saja kau, lihat ponakanmu tersenyum." Suara Calista yang masih tersenyum bahagia, tak ada yang paling bahagia selain melihat buah hatinya bisa tersenyum dan mulai membaik setelah 3 hari di rawat di ruang NICU.
" Kak, aku ingin menggendong anakmu." Edward kini mengambil pelan bayi yang di gendong Calista.
" Kau sudah mempersiapkan nama untuk mereka." Edward kini menoel pipi bayi di gendongannya.
" Geraldy dan Anthony." Calista tersenyum menatap bayinya.
" Geraldy William Charless dan Anthony William Charless." Sean yang baru masuk menyambung nama belakang bayi mereka.
" Edward berikan Geraldy padaku, aku ingin menggendongnya." Sean yang kini menatap tajam mata Edward namun di hentikan oleh Calista.
" Jangan Sentuh bayiku Sean." Teriak Calista Sean menahan amarah terlihat dari rahangnya yang mulai mengeras dan tatapannya tajam.
sedangkan Nyonya Smith kini hanya bisa membatu melihat adegan itu.
" Edward." panggilan Sean yang pelan dan menusuk namun tak menggetarkan Calista yang mengambil bayinya dan langsung memeluknya dari gendongan Edward.
" Kau tidak bisa memisahkan aku dengan bayiku Sean." Ucap Calista dengan tatapannya yang tajam ke arah Sean. Tak ada sedikitpun rencana Sean untuk menjauhkan bayi-bayinya dari Calista sekarang.
" Aku hanya ingin menggendongnya Calista." Sean semakin mendekat ke arah Calista.
" Sean, berlaku baiklah pada Kakakku." Edward kini bersuara keras.
" Sean!" kini Nyonya Smith bersuara tinggi membuat Sean memicing tajam ke arahnya. Tanda peringatan dan bahaya.
" keluarlah kalian, beri waktu aku denganya, aku tidak akan menyakiti mereka." Ucap Sean membuat Edward ragu.
" Tidak!" Edward tegas menepis tangan Sean yang hendak memegang bayi di gendongan Calista.
" Jangan biarkan tanganku membuat wajah tampanmu tak berbentuk." Sean kini sarkastis menanggapi Edward tangannya mengepal kuat. Calista tau sekali tabiat Sean kali ini, dia tidak main-main dengan ucapannya.
" Edward, mom keluarlah, aku akan berbicara dengan Sean." Ucap Calista dengan tatapan memohon kepada Edward. Dia tidak ingin adiknya dalam masalah besar kali ini.
Mau tidak mau Edward dan Nyonya Smith keluar karena permintaan Calista.
" Sean, jangan sakiti keluargaku!" tatapan Calista berubah sedih terlihat bulir air mata yang di tahan dari pelupuk matanya.
Tak ada Respon dari Sean tatapannya masih memperhatikan mata wanita yang sangat di rindukannya selama ini.
" Sean aku tau kau punya kekuasaan, tapi aku memohon tolong jangan pisahkan aku dengan bayiku." Air mata yang di tahannya sedari tadi akhirnya jatuh.
Sean langsung memeluk Calista erat, dalam hatinya Sean sangat merindukan wanita ini, Calista adalah morfin, Opium dan sejenis apapun itu yang membuat Candu. Sean tenggelam dan larut dalam pelukannya, kerinduan menuntun bibirnya untuk mencium wajah Calista dan berhenti di bibir wanita itu. dia sangat merindukan moment ini ketika wanita itu memejamkan matanya.
Tiba-tiba tangis Geraldy menghentikan tautan mereka. Calista terkejut ketika anaknya tiba-tiba menangis begitupun Sean.
" Calista, Izinkan aku untuk menggendong anak kita." Suara Sean melembut dan meyakinkan Calista.
" Aku tidak akan melukai darah dagingku sendiri." Sean kini menatap mata Calista tangannya meraih Geraldy dari gendongan Calista.
" Hati-hati Sean." peringatan Calista sebelum membiarkan Sean memeluk anaknya.
Terlihat Sean yang sangat tulus dan bahagia menggendong Geraldy, sedangkan Anthony msih tertidur pulas setelah nyonya Smith menaruhny di atas tempat tidur beberapa saat lalu.
......................
" Bagaimana dengan bayinya?" Lelaki itu melemparkan 1 panah kecil ke foto Calista yang terpajang tepat di dinding ruangannya.
Setelah Rose apa kali ini Calista mangsanya. senyum liciknya terlihat di remang-remang lampu kuning ruangan itu.
dirinya benar-benar ingin menghancurkan keluarga William dengan cara lembut dan mematikan. kelemahan Sean, wanitanya dan anaknya sekarang.
" Tunggu Kehancuranmu Sean William!" Lelaki itu bersuara dengan penuh penekanan.
Entah Rencana apalagi yang di susunnya kali ini, tapi yang pasti dia tidak akan membiarkan Sean bahagia.
......................
" Bagaimana dengan cucuku?" William kini bersuara lewat ponselnya dengan Max.
" Cucu anda selamat Tuan, kami akan memperketat penjagaan di sini." Terdengar Suara Max yang berbicara kepada Boss besarnya terdengar pelan dan penuh hati-hati.
" Biarkan 3 hari bersama setelah itu pisahkan cucuku dari wanita itu!" Max terdiam mendengar perintah dari Boss besarnya.
Di lain sisi Max punya kemanusiaan, tidak akan tega memisahkan anak dari ibunya, bahkan jika Sean tau pun bisa saja dirinya langsung di bunuh tanpa ampun. Jadi sekarang bagaimana, mengikuti Sean yang menyuruhnya melindungi Calista dan bayinya atau mengikuti William memisahkan Calista dan bayinya. Max di terpal kebimbangan.
" Max kau dengar!" Suara William dari telpon menyadarkannya.
" Iya Tuan saya mendengar." Sahut Max. Akhirnya telpon terputus secara sepihak.
2 hukuman untuk pengkhianat, 1 penyiksaan 2 kematian. Prinsip dan kata-kata Sean kepada semua anak buahnya kini terngiang di pikiran Max.
wajahnya gusar sekarang, di tambah kondisinya yang kurang istirahat membuat lingkar hitam di bawah matanya semakin menjadi. Bagaimana akan ada wanita yang melirik nya kali ini.
jangan pikirkan wanita Max, urusanmu saja belum selesai. Pikiran Max meambil alih.
......................
Sean terdiam melihat Calista yang tidur bersama bayi-bayinya di atas tempat tidur rumah sakit. Sungguh memprihatinkan, Sean harus cepat membawa keluarga kecilnya keluar dari rumah sakit ini. Dan memberikan kenyamanan pada mereka. Tangan Sean mengelus pelan kening Calista. Begitu banyak yang telah di lewati wanitanya selama ini, berjuang sendiri tanpa sosok dirinya. Bibirnya mengecup pelan kening Calista lalu beralih mencium kedua bayinya. Bayi yang sangat tampan mirip dengan wajahnya. Sean tidak pernah menyangka akan memiliki seorang anak yang menjadi anugerah dan juga ancaman untuk dirinya sendiri. tapi 1 yang Sean tau, dirinya akan terus berjuang untuk kebahagiaan kedua putranya yang masih rapuh ini, melindungi mereka hingga mereka tumbuh dan bisa melindungi dirinya sendiri.