
Calista kini terbaring di brangkar dorong rumah sakit. Calvin yang ada di sampingnya begitu panik bukan main ketika melihat kondisi Calista yang begitu pucat. hingga tepat depan ruangan UGD Calvin harus melepaskan tangan wanita itu.
wanita itu harus selamat. Calvin kini mengeluarkan ponselnya menelpon edward dan keluarga Smith.
Ayo Calista kau harus kuat. kata terakhir Calvin terngiang di kepala Calista yang sudah melemah. Calista sangat merasakan sakit di perutnya. semua bercampur aduk.
jika masih sulit maka langkah operasi akan di ambil tidak akan mentoleransi keinginan keras Calista untuk melahirkan secara normal.
berlahan kesadaran Calista hilang membuat perawat dan dokter menjadj was was.
Keluarga Smith yang mendengar kabar Calista langsung terbang ke Indonesia menggunakan pesawat Pribadi.
tapi apalah daya Sean datang bersama anak buahnya menahan Keluarga Smith yang baru saja hendak bergegas secara terang-terangan.
" Tahan keluarga Smith." Sean memberi instruksi kepada anak buahnya. tatapannya tajam ke arah Tuan Smith yang terlihat was-was dengan langkah Sean yang semakin mendekat.
sedangkan Nyonya Smith hanya bisa menangis ketika pistol tepat di pelipis kanannya.
" Bagaimana rasanya berhadapan dengan pencabut nyawamu." Sean bersuara dingin dan menusuk tepat di telinga kanan Tuan Smith. membuat Tuan Smith terdiam.
" Sean tega kah kau mau membunuh kami." ucap Nyonya Smith yang berteriak ke arah Sean. Sean menyunggingkan Senyumannya mendengar perkataan wanita tua itu.
"Pembunuh akan tega membunuh musuhnya." Sean kini menempelkan pistol di kening Tuan Smith.
" Hey Sialan, kau mau membunuh kami ketika ka Calista membutuhkan kami sekarang." Teriak Edward yang terus memberontak.
Sean kini terdiam rahangnya mengeras. Hanya Edward dan Calista yang berani mengatainya secara terang-terangan.
" Di mana Calista!" Suara Sean penuh tekanan ketika langkahnya mengarah ke arah Edward dan menarik kerah baju lelaki itu.
" Apa pedulimu sekarang, yang telah mencampakkan kakakku seperti sampah." Edward semakin nyaring dan tak terkontrol emosi.
" Katakan atau dia tidak akan melihat adik kesayangannya lagi." Sean kini mengarahkan pistol ke arah dahi Edward.
tiba-tiba ponsel Edward berbunyi dan Sean mengambil paksa dari.saku kemejanya mengangkat dan menyalakan Loudspeaker hp Edward.
" Edward,, kau di mana Calista harus di operasi sekarang, jawab aku!" Sean langsung mematikan ponselny secara sepihak.
" Beritau aku di mana Calista." Sean semakin menarik kerah baju Edward. Mau tidak mau Edward harus memberitau demi Calista sekarang yang sangat membutuhkannya.
...***...
Calvin terkejut ketika melihat Keluarga Smith datang bersama Sean dan anak buahnya.
tatapan Sean menusuk ke arah mata Calvin seakan ingin memakan mentah-mentah dirinya.
" Di mana Calista?" Max kini berbicara ke arah Calvin. Belum sempat Calvin menjawab suster keluar dari Ruangan Calista tergesa-gesa dan wajah khawatir membawa 2 bayi.
sedangkan Sean kini mengikuti ke arah dokter dan perawat yang mendorong brangkar Calista.
" Maaf anda tidak bisa masuk pak, biarkan kami memeriksanya terlebih dahulu." langkah Sean terhenti di depan ruangan rawat, baru kali ini ada yang berani menghentikan Sean. Sean ingin sekali menodongkan pistol ke kening wanita ini, tapi tidak ada kekuasaan Sean di sini dan dirinya tak ingin membuat masalah kali ini.
Suster itu terintimidasi dengan tatapan Sean yang tajam membuatnya langsung menunduk dan menutup pintu ruangan. Bukankah itu tatapan membunuh dari Singa untuk mangsanya.
beberapa anak buah dan keluarga Smith berjaga di depan ruangan Calista sedangkan Sean kini beralih keruangan NICU tmpt ke 2 bayinya di letakkan.
Sean terdiam, apakah Sean luluh melihat 2 malaikat kecilnya tertidur pulas dengan ventilator yang tersambung di badannya. jahat, dunia ini begitu jahat untuk kehadiran malaikat kecilnya yang sangat rapuh ini. Sean berjanji akan melindungi mereka dari banyaknya bahaya. Tapi pada akhirnya mereka di haruskan kuat menghadapi realita yang ada.
Sean ingin mengendong bayinya tapi sekarang belum bisa, pernapasan bayinya sangat lemah.
" Sean menjauh dari bayiku!" Calista bersuara dengan suaranya yang sangat parau, wajahnya terlihat pucat, suster yang mendorong kursi roda Calista dan memegang infusnya hanya bisa terdiam dengan situasi seperti ini. Banyak anak buah Sean berbaju hitam yang menjaga sekeliling luar ruangan NICU.
" Calista mereka juga bayiku!"
Tatapan mereka berdua kini bertemu lagi setelah sekian lama, entah kerinduan, kebencian, kekecewaan, bahagia, sakit kini semua rasa bercampur aduk. Sungguh hati Calista sangat hancur di tambah kondisinya yang lemah ini tidak bisa mendorong Sean menjauh dari bayi-bayinya.
" bukankah kau sendiri yang dulu tidak mengakui bayi-bayimu Sean." Dirinya menahan setengah mati untuk tidak menangis di depan Sean, tapi Bulir air mata jatuh dengan sendirinya dari sudut mata Calista mengalir melewati pipinya yang mulus.
" Omonganku yang mana, yang tidak pernah mengakui mereka?" Sean kini menatap tajam ke arah Calista.
Calista menelan pahit di tenggorokannya, jika ada kata yang lebih buruk daripada bajingan maka akan Calista ucapkan kepada Sean sekarang. bagaimana bisa Calista lupa ketika Sean lebih memilih wanita lain daripada dirinya. Sakit, sangat sakit. Luka yang di berikan Sean membuat dada nya begitu sesak selama ini.
" Lantas kenapa kau membiarkanku pergi, berjuang hidup bersama bayiku yang masih di dalam kandunganku. Apa kau kurang puas melihat kami seperti ini " Calista bersuara dirinya benar-benar sangat emosi kali ini.
" aku tidak pernah menyuruhmu pergi." Sean menghampiri Calista dengan langkah pelan. Bagaimana perempuannya ini mengira bahwa dirinya tega membiarkannya pergi sedangkan selama ini Sean masih mencarinya seperti orang gila.
" Bajingan, keparat, bedebah Sialan, hentikan langkahmu." Calista menginstruksi Sean untuk berhenti tapi Sean sepertinya tuli dan masih melangkah mendekati Calista yang berada di kursi roda.
" Maaf pak, jangan membuat keributan di rumah sakit ini." Suster itu sangat berani sekali menghadang Sean yang ingin mendekati Calista.
" apa kau ingin aku membunuhmu dan keluargamu karena berani menghalangi langkahku." Sean kini menatap tajam mata suster itu.
" Maaf pak, keributan bapak akan mengganggu bayi-bayi di sini termasuk bayi bapak." Suster itu mencoba memberi pengertian kepada Sean.
Sean terdiam, dan akhirnya keluar dari ruangan NICU. Meninggalkan bayinya bersama Calista.
kini tersisa Calista yang mulai menghampiri bayinya di bantu suster rumah sakit. Tatapannya berbinar menatap kedua buah hatinya. seluruh hidupnya akan di berikan untuk mereka. Calista berjanji akan menjaga mereka dengan sebaik-baiknya. Dunia itu begitu kejam untuk mereka yang sangat rapuh dan butuh perlindungan dan Calista akan menjadi benteng perlindungannya.
Calista memperhatikan wajah kedua bayinya dengan lekat dan penuh kasih sayang. keduanya sangat tampan, mirip dengan Sean.
" Anak-anak moomy kuat yaa."
bayi satunya menggeliat ketika Calista bersuara. Suara Calista yang gemetar dan akhirnya air matanya pecah kembali, bahkan hampir terisak sebelum tangannya menutup sendiri mulutnya.