One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
CANDU



Sudah 6 jam Shanum mondar mandir tak jelas, setelah Adrian memberikannya paper bag dan makanan kini lelaki itu hilang entah kemana. Mengunci Shanum seorang diri.


" Sialan, brengsek." Gumaman kasar keluar dari mulut cantiknya. Shanum benar-benar bingung harus melakukan apa, ponselnya raib entah kemana.


Shanum melangkah ke jendela, mengintip pemandangan luar yang terlihat sepi. Hari sudah mulai gelap, Adrian belum juga datang. Shanum bukan tawanan ataupun buronan yang harus di kurung seharian seperti ini.


" Adrian, you're crazy." Shanum berteriak ketika pintu baru saja terbuka Menampilkan Adrian dengan wajah datar tanpa senyuman sedikitpun. Langkah Shanum cepat berjalan ke arah Adrian yang masih berdiri di ambang pintu.


Amarah Shanum benar-benar berada di puncaknya, dan siap melayangkan omelan selanjutnya sebelum akhirnya Adrian memeluknya lembut.


" I miss you baby." seketika Shanum membeku saat Adrian berbisik di telinganya. Shanum bingung dengan tingkah lelaki ini, bukankah saat pertama kali bertemu wajah Adrian sangat dingin dengan tatapan menusuk ke arahnya, Juga Adrian tidak mengenali Shanum saat itu, lalu kenapa sekarang lelaki ini bertingkah layaknya Kekasih.


" Apa maksudmu?" Shanum berusaha mendorong Adrian, namun tenaganya kalah kuat dari lelaki itu.


" tidak ada pengulangan sayang." Adrian semakin mempererat pelukannya, bibirnya mencium pelan kening Shanum.


" You're crazy." Shanum benar-benar hilang akal karena ciuman Adrian yang semakin brutal.


" you're like nicotine, Shanum." Suara sensual Adrian di tengah-tengah ciumannya membuat Shanum memejamkan matanya.


" Sorry." Adrian menyudahi aksinya yang menciumi Shanum membuat Mata Shanum terbuka dan kini menatap tajam ke arah Adrian.


" Apa yang kau lakukan, aku bukan ****** mu. Lepaskan aku Adrian!" Teriak Shanum ke arah Adrian yang terlihat santai memandanginya.


" Aku tidak menganggap mu seperti ******." Adrian hendak menutup pintu sebelum akhirnya Shanum mendorong pintu itu keras dan berlari keluar.


" Lari Lah jika kau bisa Sayang" Adrian hanya memperhatikan Shanum yang kini menuruni tangga.


langkah Shanum semakin cepat, dia benar-benar ingin keluar dari cengkraman Adrian kali ini.


" Berhenti." Shanum kaku ketika dia telah sampai di ujung Tangga langkahnya di hentikan oleh 2 orang lelaki yang menodongkan pistol ke arahnya.


" Lepaskan aku bodoh!" Suara Shanum keras dan bergetar, membuat suara tepukan tangan Adrian di lantai atas memenuhi ruangan sepi yang menggema ini.


Adrian tersenyum ketika melihat Shanum yang memberanikan diri melawan anak buahnya. Gadis nya ketakutan di depan anak buahnya terlihat wajahnya yang berubah pucat.


" Bukankah kau ingin melarikan diri." Adrian melangkahkan kakinya pelan menuruni tangga. Shanum yang melihatnya kini mengepalkan tangan. Adrian ternyata jauh dari ekspektasinya. Inilah Adrian yang sangat di cintai Shanum, tapi kenapa lelaki itu berubah menjadi iblis yang siap merenggut nyawa siapapun yang mengusiknya.


Shanum mengelap kasar air mata yang kini membasahi pipinya.


" pergilah kalian." ucapan Adrian membuat 2 orang lelaki itu meninggalkan Shanum.


Suara Shanum masih bergetar isakannya semakin menjadi. Tangan Adrian kini menarik Shanum ke dalam dekapannya hingga isakan gadisnya itu teredam di dada bidangnya.


" Aku takut." Shanum memegang erat kemeja putih yang di kenakan Adrian. Tangan Adrian kini mengelus pelan surai rambut Shanum.


****


" Apa yang di lakukan putraku ini." Sean memijat pelipisnya pelan, berita yang hampir menghebohkan dunia ketika keluarga Charless menembak lelaki di sebuah Bar hampir tersebar luas. Dan Sean harus merogoh banyak uang untuk membungkam penyebaran berita ini dengan cepat.


Data yang baru di dapatinya dari Bodyguard kepercayaan untuk mengawasi Adrian kini semakin membuatnya marah.


Sejak kapan Adrian bersifat gegabah seperti ini. Jikalau Calista tau pasti Adrian tidak akan selamat oleh amukan istrinya sekarang.


Sean membetulkan kacamatanya, matanya fokus memperhatikan foto seorang gadis yang tengah tersenyum. Gadis yang membuat Adrian nekad. Dan Gadis itu yang di sembunyikan Adrian di mansion pribadinya tanpa sepengetahuan siapapun.


" dad ." Suara Bella yang membuka pintu membuat Sean dengan cepat menutup berkas di hadapannya. Hanya Bella dan Calista yang berani masuk ruang kerja Sean tanpa permisi.


" Ada apa sayang." Bella kini duduk di sofa ruang kerja Sean.


" Dad, aku ingin ke Italy bersama teman-temanku, mom menyuruhku untuk meminta izin padamu dulu." Bella kini menatap Sean dengan wajah yang berbinar karena senyuman.


" laki-laki atau wanita?" pertanyaan Sean membuat Bella berdecak kesal. wajah yang mulanya bersinar kini kusut bak mendung yang memenuhi langit.


" Daddy, aku bilang Teman-teman berarti banyak, ada semua jenis." Bella kini melipat lengannya di dada, tatapan kesal mengarah ke Sean yang terlihat tak percaya.


" termasuk jenis pemangsa? kau boleh pergi tapi harus ada bodyguard yang menjagamu." Sean kini kembali menatap Leptopnya yang masih menyala menampilkan Rekontruksi pembangunan Kantor Adrian yang baru.


" Astaga dad, aku sudah besar bukan anak-anak lagi." Bella menghentakkan kakinya kasar ke lantai. Wajahnya semakin kusut dan cemberut, apa pendapat teman-temannya nanti jika Bella datang bersama bodyguard di samping kanan kirinya.


" Setuju atau tidak sama sekali." Suara tegas Sean membuat Bella semakin kesal dan langsung meninggalkan ruangan Sean.


****


Kini Shanum tertidur dengan bersandar di dada bidang Adrian setelah drama tangis yang membuatnya bisa duduk di sebuah taman mansion milik Adrian.


Adrian mengelus pelan pipi Shanum. Jarang sekali dirinya mau menghabiskan waktu seperti ini tapi Shanum mengubahnya sekarang. Shanum adalah Nikotin baginya yang selalu membuat candu.