One Night Stand With Ceo Arrogant

One Night Stand With Ceo Arrogant
come Back?



" Mom." Bella langsung berlari memeluk Calista. Sedangkan Adrian hanya berjalan santai ke arah Calista.


" ayoo kita pulang sayang." Calista menggendong Bella dan merangkul Adrian.


" Terima kasih bu." Ucap Calista berpamitan kepada Ibu pemilik bangunan bermain ini sekaligus yang menjaga Bella dan Calista.


" Sama-sama bu." Ibu itu tersenyum ke arah Calista dan mengelus kepala Bella.


" Adrian tunggu." Seorang anak perempuan berlari ke arah Adrian.


" Untukmu." Shanum memberikan sebuah gelang berwarna merah kepada Adrian. Nafas Shanum naik turun akibat berlari mencari anak lelaki ini sedari tadi. sedangkan Adrian menampilkan wajah datarnya. butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya dia menerima gelang tersebut.


" terima kasih." Ucap Adrian membuat Shanum dan 2 wanita dewasa yang memperhatikannya ikut tersenyum.


Adrian masuk ke dalam mobil.


Sesekali Calista memperhatikan anak lelakinya yang sedang menatap gelang pemberian Anak perempuan tadi.


" Ka Adrian, apa anak perempuan cantik tadi teman barumu?" Bella kini menggoda Adrian membuat Adrian menatapnya tajam.


" Bisa tidak melirikku seperti hendak memakan ku kak." Kini Bella marah dan menatap balik Adrian dengan tatapan membunuh.


Adrian memutarkan bola matanya jengah dengan sikap adik sekaligus saudara kembarnya ini.


Indonesia panas dan kadang macet membuat Calista menghembuskan nafas beratnya.


" Adrian, Bella. Bagaimana hari kalian hari ini?


Calista kini beralih memperhatikan anak-anaknya yang tengah bersandar santai di dalam mobil sesekali terlihat wajah mereka yang jenuh dengan lalu lalang mobil dan motor di sekelilingnya.


" Aku bermain dengan lancar mom, tak ada kendala, aku mendapatkan teman baru bernama Sarah, seharian aku menghabiskan waktu dengannya....."


panjang lebar Bella bercerita pada ibu nya sesekali tanpa jeda membuat Adrian sedikit terganggu.


" Dan bagaimana denganmu Adrian?" Calista beralih menanyai putranya yang semakin hari semakin dewasa.


" Adrian William Charless." Calista terdiam mendengar Adrian menyebutkan marga belakang nama Sean. Bukankah Calista selama ini bungkam tidak memberitau sedikitpun nama Sean. Lalu, dari mana Adrian tau nama Itu.


" Aku bertemu Ayah." Adrian kini berhasil membuat Calista panik dan mencengkram kedua bahu Adrian. Sedangkan Adrian hanya menampilkan wajah datarnya.


" Di mana kau bertemu?." Sorot mata Calista panik dan hampir mengeluarkan air mata.


" Di Penitipan anak. Dia menemui ku, wajahnya hampir mirip dengan wajahku menyambung namaku dengan nama William Charless." Satu kalimat penjelasan panjang keluar dari mulut Adrian hari ini. anak lelaki ini sangat jarang berbicara dan ini merupakan yang pertama Adrian mengeluarkan kalimat panjang.


" Jangan dekati dia, menjauh lah darinya, mulai besok kalian tidak akan ke taman penitipan anak lagi." Calista kini mengunci rapat pintu rumahnya. Bella hendak menjawab namun Adrian cepat menggenggam tangan Bella memberikan Isyarat kepada adiknya untuk diam.


Bella berdengus kesal dan berlari ke kamarnya, di hempaskannya tangan Adrian yang memegang tangannya.


sedangkan Calista memijat pelan kepalanya sendiri. Adrian hanya memperhatikan gerak gerik Calista, namun anak lelaki itu sudah bisa membaca pergerakan ibunya yang cemas dan merasa tidak aman.


" Mom, tenanglah." Adrian kecil menggenggam tangan kiri Calista menyalurkan rasa kasih sayang dan membuat Calista merasa tenang.


" Aku takut Adrian." Calista langsung memeluk putranya dengan tangis yang tak bisa di tahannya lagi.


Kalian berdua adalah belahan jiwa mom, bagaimana aku hidup jika kalian pergi. Batin Calista bersuara nyaring, dia sangat takut Sean akan merebut Bella dan Adrian darinya mengingat lelaki itu adalah lelaki yang licik.


...****************...


" aku takut Arthur." Kini Calista menangis di depan Arthur. Air matanya tidak bisa di bendung lagi.


Arthur langsung memeluk Calista mengelus pelan surai rambut wanita yang di cintainya inj. Apakah Sean benar-benar kembali.


" Duduklah dulu." Arthur melepaskan pelukannya tangannya menuntun Calista untuk duduk di ruang tamu Calista, anak-anaknya telah tertidur pulas. Sedang Calista sibuk dengan pikirannya sekarang.


" aku akan berusaha menolong mu." Arthur kini menatap mata wanita itu dengan dalam Tak ada yang boleh menorehkan luka lagi di hati Calista, itu janji Arthur pada dirinya sendiri.


wajah Arthur semakin mendekati wajah Calista. Dengan lembut dan tanpa sadar Arthur mencium bibir Calista pelan dan kini berlahan ******* bibir itu. Sedang Calista juga ikut di permainan Arthur kini memejamkan matanya menikmati tautan bibir mereka. Tidak ada yang salah, Calista sedikit memberikan hatinya kembali pada Arthur. Mantan kekasihnya sendiri.


" Arthur." Calista sadar membuka matanya ketika Arthur berhenti menciuminya.


" Calista lebih baik kau istirahat, jangan banyak pikiran, besok kau masih harus bekerja." Arthur mengelus pelan kepala Calista dan mencium keningnya lama. Dari sekian lama barulah Arthur bisa mencium Calista.


.