
Adrian menatap Shanum yang keluar dari mobilnya. Langkah kaki gadis itu memasuki Apartemen sederhana yang jauh dari kata mewah.
Pandangannya semakin tajam ketika matanya menangkap Seorang dari balik kaca Spion tengah berdiri menghadap ke arah Apartemen Shanum.
" awasi rumah gadis ini." Adrian menutup ponsel dan kini menjalankan mobil. Sedangkan Bella yang duduk di kursi belakang telah terlelap dalam tidurnya karena menahan ngantuk sedari tadi.
...****************...
Shanum berjalan pelan menaiki tangga Apartemennya. Senyumnya telah sirna beberapa detik lalu, hanya ada tatapan kosong di matanya, pikirannya jauh melayang tentang pembunuhan yang terjadi di depan mata. Shanum telah menyaksikan pembunuhan, apakah Shanum harus melaporkan hal ini ke polisi? Tapi Shanum tak punya nyali untuk melaporkan hal ini.
lamunannya tersadar ketika kakinya tersandung rak sepatu yang ada di kamarnya membuatnya meringis pelan memegangi punggung kakinya sendirim Tangan kanan nya meraih saklar lampu membuat Cahaya kini menerangi ruangan kamarnya.
Dia ingat perkataan Bella di mobil tadi. Shanum harus menutup rapat mulutnya tentang pembunuhan yang di lakukan Adrian. Shanum menggelengkan kepalanya tangannya mengambil handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Shanum membaringkan tubuhnya menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. isak nya semakin kencang tatkala mengingat pembunuhan yang disaksikannya secara langsung dan bagian yang paling menyakitkan dan sangat kecewa, Adrian dalang dari pembunuhan itu.
Adrian yang di harapkannya selama ini, Teman kecil sekaligus cinta pertama shanum Kini dengan tega menghilangkan nyawa seseorang. Shanum tak pernah berpikir bahwa lelaki yang di dikaguminya itu akan tega menghilangkan nyawa seseorang.
Shanum tidak bodoh dia hanya berpura-pura tidak tau ketika Bella menceritakan masa kecilnya di Indonesia. Bukannya tak mengenal, Shanum sangat ingat wajah kecil Adrian kini berubah menjadi lelaki dewasa yang tampan. Dia hampir menggenggam Adrian dengan senyuman tapi harapannya pupus ketika Adrian menatapnya tajam.
bukankah sakit hati yang paling di sengaja adalah berharap pada manusia, dan Shanum menanggung resiko dari harapannya kepada Adrian. Adrian yang tega menghilangkan nyawa seseorang.
...****************...
" Tuan, nyonya Calista memanggil anda." Adrian menghentikan Aktifitasnya dia memasuki rumah besar yang kini menjadi rumahnya. Adrian melangkahkan kakinya ke arah ruang keluarga yang terpampang jelas foto pernikahan Calista dan Sean yang memeluk Adrian dan Bella kecil. Pernikahan yang terjadi saat Adrian dan Bella sudah lahir.
Adrian diam ketika Calista datang bersama Sean yang ada di belakangnya. Sudah di pastikan Calista sedang marah dengan sorot mata tajam menatap Sean.
" Adrian, duduklah." Calista kini duduk bersamaan Sean yang kini menatap Adrian.
Adrian duduk dan menatap mata Calista.
" Adrian, mom mendengar kabar kau telah menembak seseorang, apa benar?" Raut wajah Calista berubah sedih menatap Adrian. Inilah yang Calista takutkan, Calista sangat Takut jika Adrian akan mengikuti jejak Sean.
" Benar Mom." Adrian hanya menampilkan wajah datarnya. Sedangkan Sean diam tanpa berkata satu kata pun.
Calista terdiam lama, hatinya begitu sakit mendengar pernyataan langsung dari mulut putranya. Dia merasa gagal mendidik Adrian.
kerongkongannya menjadi sakit bahkan untuk meneguk air ludahnya sendiri.
Hanya hening di antara mereka bertiga. Calista yang menatap Adrian dan Sean yang kini menatap Calista yang menahan air matanya.